TEORI-TEORI KONSPIRASI PERIHAL DEJAVU: MANUSIA HIDUP SEBAGAI BONEKA ATAU HANYA TIPUAN OTAK?

profile picture Asma

Membahas soal dejavu, siapa yang tidak tahu istilah yang satu ini? Sederhananya, dejavu adalah keadaan di mana seseorang merasa telah melakukan satu peristiwa yang sedang terjadi, dan beranggapan bahwa peristiwa itu sudah pernah terjadi sama persis.

Jika dijelaskan dalam ilmu Psikologi, dejavu ini dianggap tipuan otak: bukan karena kita sudah pernah melewati peristiwa yang sama sebelumnya. Namun, apakah itu benar? Tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan secara ilmiah itu salah.

Ada penelitian tentang dejavu yang dilakukan oleh Akira O'Connor dari University of St Andrews, Inggris. Dari penelitiannya, dia menyebutkan bahwa dejavu merupakan pikiran yang disebabkan oleh otak yang secara sengaja membuat kesalahan memori. Salah satu bagian otak melakukan ini dengan tujuan untuk memeriksa memori dengan cara mengirim yang akan ditanggapi oleh otak.

Sulit dimengerti.

Mari kita bahas dari sudut pandang penulis. Setiap dari kita, penulis rasa–pernah mengalami dejavu. Jika dikatakan bahwa itu adalah ‘ulah’ salah satu bagian otak untuk memeriksa dengan cara mengirim yang akan ditanggapinya, menurut penulis bukan seperti itu.

Penelitian yang dilakukan Akira O’Connor sudah sesuai aturan dan ilmiah. Kita hidup di dunia pun telah memakan banyak teori dari sana-sini. Teori-teori itu bersifat ilmiah dan ditelaah lebih jelas dengan penelitian. Tentu opini penulis nantinya adalah pandangan pribadi, yang tidak bermaksud untuk menimbulkan keributan.

Dalam beberapa agama, ada istilah bahwa sebelum manusia dilahirkan di bumi ini, perjalanan hidupnya sudah ditampakkan terlebih dahulu. Lalu, manusia-manusia yang lain menyalahkan diri mereka sendiri dengan berkata, “Jika Tuhan sudah tahu aku akan dilahirkan jahat di dunia ini, mengapa Tuhan menciptakanku? Bukannya Tuhan tak suka kepada manusia yang jahat? Apakah manusia hanya boneka?”. Atau dalam kepercayaan lainnya, ada dikenalnya istilah reinkarnasi. Di mana manusia yang mati kemudian dilahirkan kembali.

Pemikiran penulis yang sebenarnya tentang dejavu ini adalah bahwa, sebenarnya saat kita mengalami dejavu: berarti peristiwa yang kita alami itu sudah ditunjukkan sebelum kita lahir. Atau mungkin sudah pernah kita lewati di kehidupan kita sebelumnya–dalam artian, kita sudah mati, lalu mengalami reinkarnasi.

Ini mungkin bisa menjadi jawaban paling logis, mengapa Tuhan menciptakan manusia yang jahat ketika sudah mengetahui bahwa di masa hidupnya manusia itu akan berbuat jahat, padahal Dia tidak suka kepada manusia yang berbuat jahat. 

Jadi, analoginya begini. Semua peristiwa kita yang mengalami dejavu, adalah jalan atau takdir yang sudah ditentukan saat kita lahir. Penulis bisa berpikiran seperti ini, sebab sampai sekarang, penulis sendiri belum pernah mengalami peristiwa dejavu yang bersifat ‘buruk’ atau ‘jahat’. Bukan berarti penulis mengalami dejavu selalu pada peristiwa baik, tetapi bisa juga saat peristiwa yang netral; tidak jahat, bukan termasuk baik. Seperti saat makan, minum, belajar, dan sejenisnya.

Analogi ini juga mengartikan bahwa saat manusia berbuat jahat, dia tak akan pernah mengalami dejavu. Sebab, tidak mungkin Tuhan memberi takdir yang jahat sementara Dia sendiri tidak suka kejahatan. Dejavu sejatinya, hanya dialami saat kita melewatkan hal-hal yang sudah ditakdirkan dari dahulu. Atau, sudah pernah kita alami di kehidupan sebelumnya.

Apakah kamu sudah menonton film Spiderman No Way Home? Masih ingat dengan adegan saat ketiga Peter Parker dari masing-masing dunia yang berbeda dikumpulkan di satu rumah? Yap! Itu berhubungan dengan teori Multiverse. Bagi yang baru mendengar nama ini, penulis akan menjelaskan apa itu multiverse. 

Jadi, multiverse atau multisemesta adalah teori tentang adanya lebih dari satu alam semesta. Dengan kata lain, semesta dianggap memiliki kembaran atau salinan universe. Di mana, dalam teori ini setiap makhluk yang hidup di bumi memiliki kembaran di dunia lain. Perbedaan dengan kembarannya mungkin bisa terdapat dalam tingkah laku, dan sebagainya.

Apa hubungan multiverse dengan dejavu? Ada yang bisa menebak?

Selain dejavu terjadi karena takdir dan reinkarnasi, menurut penulis dejavu juga ada hubungannya dengan teori multiverse. Bisa jadi teori multiverse ini ada benarnya. Mungkin saja kita memiliki kembaran lain yang entah di semesta mana. Dan mungkin, saat mengalami dejavu, itu sebenarnya peristiwa yang sudah pernah dialami oleh ‘kembaran kita’ dari alam semesta lain. Boom! 

Dejavu ini memang tidak akan ada habisnya jika dibahas. Teori-teori konspirasi tentang hal ini bersebaran di mana-mana. Meskipun sudah dianggap serius sehingga diteliti oleh para ahli, tetap saja masih banyak yang mengeluarkan teori-teorinya sendiri. Sama halnya juga dengan teori multiverse tadi. Semuanya balik lagi kepada kepercayaan sendiri. Kalau kamu bagaimana? Bagaimana tanggapan kamu tentang dejavu ini? Setuju dengan penulis, atau punya teori sendiri?

-----------------

Gambar: https://images.app.goo.gl/P5M7bvk5sYvFjeFk6

6 Agree 3 opinions
5 Disagree 4 opinions
6
5
profile picture

Written By Asma

This statement referred from