KONSPIRASI KOTA MODERN SARANJANA, KOTA GAIB DI KALIMANTAN SELATAN: MITOS ATAU NYATA?
Kota Saranjana–salah satu kota ‘gaib’ yang dipercaya berada di Kalimantan Selatan. Mungkin nama kota ini sudah tak asing lagi terdengar di telinga, sebab sudah bertahun-tahun jadi perbincangan hangat di mana-mana. Kota ini konon merupakan kota yang sangat maju, tetapi tak terlihat atau gaib. Beberapa masyarakat percaya bahwa adanya kehidupan di kota gaib ini. Bahkan, beberapa orang mengaku bahwa mereka pernah ‘berada’ di dalam kota gaib ini. Kota gaib yang sudah melegenda ini, jika secara nyata masyarakat percaya bahwa letaknya berada di Desa Okaoka, Kecamatan Laut Kelautan, Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Tentu disematkan istilah ‘kota gaib’ di kota Saranjana ini bukan semata-mata tanpa alasan. Beberapa orang mengaku melihat kota ini yang berbeda dengan semua kota di Indonesia. Kota ini maju, banyak sekali gedung-gedung elit yang menjulang tinggi di dalamnya, dan penghuninya adalah manusia. Serta yang paling sering diperbincangkan adalah bahwa manusia di kota gaib ini konon memiliki paras yang sempurna.
Kota Saranjana ini nyatanya hanyalah gaib dan hanya merupakan sebuah bukit yang dipenuhi oleh pepohonan yang langsung bersebelahan dengan laut. Dikatakan gaib pun karena nama kota Saranjana ini tak ada di maps. Akan tetapi, jika ditelaah lebih jauh, ternyata dahulu ada seorang naturalis asal Jerman namanya Salomon Muller, yang pernah membuat peta wilayah pesisir pedalaman Borneo. Di mana peta ini menggambarkan sebuah wilayah yang bernama ‘Tanjung Saranjana’.
Keberadaan kota Saranjana ini diperkuat lagi oleh Pieter Johannes Veth dalam kamusnya yang diterbitkan di Amsterdam pada 1869. Kamus tersebut mengatakan bahwa Saranjana adalah tanjung di sisi selatan pulau yang terletak di tenggaranya kalimantan.
Pada tahun 1980-an, pemerintah setempat kaget atas datangnya pesanan alat-alat berat yang berasal dari Jakarta dan ditujukan ke kota Saranjana. Yang paling mengagetkan adalah kenyataan bahwa pesanan alat-alat berat ini sudah dibayar lunas oleh seseorang yang berada ‘di dalam’ kota Saranjana. Masyarakat setempat percaya alat-alat ini dipesan untuk membangun kota Saranjana, sebab dipercaya bahwa kota ini sudah modern dan maju. Logikanya, jika ini bohongan–mengapa memesan alat-alat berat yang bahkan mahal harganya?
Misteri selanjutnya yang paling mengejutkan adalah tentang konser ADA Band: salah satu band musik asal Jakarta yang dibentuk pada 1996. Band ini mengaku pernah melakukan konser di Kotabaru, Kalimantan Selatan. Tiket yang terjual saat band ini tampil ada 7000 tiket, tetapi yang mengagetkan adalah penonton yang datang adalah sekitar 14.000 orang alias 2 kali lipat dari tiket terjual. Ditambah lagi konser yang diadakan mereka sangat tidak lazim. Di mana penonton yang mendengarkan hanya diam, tidak ramai, dan senyap. Tidak seperti konser pada umumnya. Di saat konser sudah mau selesai, seluruh kru dan anggota band turun dari panggung, di mana saat itu hanya ada 1 pintu akses untuk turun. Dan, 14.000 penonton lenyap, kosong dalam seketika!
Legenda-legenda konspirasi tentang kota Saranjana ini masih banyak sekali. Entah itu terdengarnya suara kendaraan ramai yang berlalu lalang, diterimanya pesanan mobil-mobil mewah dari Surabaya, kapal feri yang mendapat penumpang yang sangat banyak dan menghilang, serta lainnya.
Dalam studi ilmu Folklor yang penulis pelajari di bangku kuliah, kepercayaan masyarakat yang memercayai keberadaan kota Saranjana ini ditelaah lebih lanjut lagi. Meskipun belum ada penjelasan ilmiah tentang kota ini, tetapi nyatanya banyak yang percaya bahwa kota ini sebenarnya ada dan gaib.
Menurut penulis, kota Saranjana ini hanyalah legenda-legenda masyarakat setempat saja. Sama halnya seperti legenda Batu Menangis, Malin Kundang, dan lain-lain. Pelajaran yang diambil dari tempat ini adalah bahwa ada ‘kehidupan lain’ yang gaib. Kenyataan-kenyataan seperti dipesannya mobil-mobil mewah dari Surabaya, alat-alat berat dari Jakarta yang sudah dibayar, konser ADA Band, tidak ada yang bisa menyimpulkan bahwa itu adalah kebohongan. Setiap orang memiliki kepercayaan masing-masing.
Sebagai orang yang memiliki agama, sebenarnya ada kaitan mengapa penulis tidak memercayai kota Saranjana. Di dalam agama sebenarnya dikatakan bahwa memang ada kehidupan gaib, seperti dikenalnya malaikat, setan, iblis, dan sebagainya. Namun, penulis rasa keberadaan kota Saranjana ini bukan bagian dari hal yang gaib. Melainkan konspirasi alias rekayasa. Peta yang dibuat oleh Salomon Muller mungkin dahulu memang ada daerah yang namanya Tanjung Saranjana, tetapi tak ada kemungkinan untuk nama daerah itu diganti, bukan?
Dalam studi Foklor, ada etika yang harus dimiliki: bahwa kita tidak bisa menganggap kepercayaan orang lain itu salah. Sebaliknya, kita harus menghargai adanya perbedaan pendapat, kepercayaan, dan lain-lain. Bagaimana dengan kalian? Apakah setuju alias memercayai adanya kota gaib Saranjana? Atau tidak setuju alias tidak memercayai adanya kota gaib Saranjana?
.
.
Sumber gambar: https://images.app.goo.gl/DoT3u8oRpmVa22Sz8