Refleksi Covid-19 dan Antisipasi ke Depannya

profile picture lina_martina

Sepanjang catatan sejarah manusia, sudah beberapa kali mengalami siklus pandemi: pes, kolera, flu Spanyol, H1N1, dan Covid-19. Tanpa mengecilkan pandemi lainnya, flu Spanyol (tahun 1918-1920) menjangkiti 500 juta orang (1/3 populasi dunia saat itu) dengan perkiraan korban jiwa 17-100 juta orang (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Flu_Spanyol). Di era digital seperti sekarang, data bisa lebih presisi sehingga data Covid-19 dunia di akhir tahun 2022 mencapai 651.918.402 orang (terkonfirmasi), dengan korban jiwa 6.656.601 orang - sumber: www.covid19.go.id

Pada masa awal Covid-19, kepanikan melanda dunia, karena kita belum punya informasi memadai dan tidak tahu cara tepat menangani musibah dengan skala global begini. Kontroversi terjadi, bahkan ada kelompok-kelompok yang masih terus menyangkal adanya Covid-19 dan mengembangkan beragam teori konspirasi tentang virus ini. Korban berjatuhan, dan terus menyebar sampai ke 235 negara (sumber: www.covid19.go.id). Seiring waktu berlalu, akhirnya ada panduan taktis agar orang berhati-hati dalam kesehariannya, mulai dari penerapan 3M hingga diperbarui menjadi 5M, aplikasi PeduliLindungi, kebijakan PPKM dan pembentukan Satgas Covid-19.

Berdasarkan pengamatan, terjadi dua sisi ekstrem, yaitu kejadian-kejadian yang membuat orang geleng-geleng kepala karena menampakkan sifat egois manusia di antaranya: penimbunan masker, pelanggaran PPKM, kecurangan dalam hasil tes swab dan berbagai kejadian lainnya. Di sisi lain kita menyaksikan begitu banyak keluhuran budi manusia seperti berjibakunya tenaga kesehatan tanpa lelah berjuang di fasilitas medis yang ada dan diadakan (darurat), kepedulian sosial seperti berbagi bahan makanan untuk orang-orang yang mendadak masuk dalam hitungan kemiskinan karena gelombang PHK yang terjadi. Makanan matang pun disalurkan pada keluarga-keluarga yang menderita Covid-19 karena mereka tidak bisa dan tidak boleh keluar rumah (wajib isoman). Sekolah berubah menjadi online dengan segala dampak yang menyertainya (mulai dari kejadian lucu menggemaskan sampai tragis dan ironis). Demikian juga beragam kegiatan lainnya seperti aktivitas ibadah (sebagian, misalnya tahlilan, kebaktian), kantor, bisnis sampai konser musik, peresmian acara, undangan pernikahan, silaturahmi keluarga bahkan ada juga wisata virtual. 

Satu lagi yang diamati penulis, meskipun tagar stay at home dan istilah generasi rebahan menggema, kreativitas tak berhenti, orang-orang tetap berkarya dengan segala keterbatasan yang ada. Berfoto dengan menggunakan perlengkapan seadanya, pembuatan berbagai konten dan video kreatif yang lalu jadi viral, termasuk juga penambahan skills baru (menulis, memasak, berkebun, bertukang, olahraga dan lain sebagainya). Hal ini bukan saja mengusir kejenuhan tetapi ternyata dalam banyak hal bisa membuka pintu rezeki baru dan kesuksesan (dipikir-pikir ini seperti suatu kesempatan dalam kesempitan, in a good way). Sendiri-sendiri tetapi bersama, menjadi hal lumrah karena manusia sebagai makhluk sosial tetap memerlukan kebersamaan. Dengan memanfaatkan teknologi, meskipun berada di rumah masing-masing, rasa rindu bisa terobati seperti saat sebelumnya di mana orang bisa dan bebas berkumpul bersama di satu tempat. Pada intinya, mobilitas manusia seakan berhenti/melambat, tetapi dengan akselerasi teknologi, terjadi keseimbangan baru dalam menjalani hari-hari di masa yang sulit itu. Kita harus terus banyak bersyukur karena pandemi sebelumnya di era pra-digital, bisa dibayangkan tingginya tingkat kesulitan mendapatkan informasi dan edukasi tentang flu Spanyol.

Dengan kerja keras para ilmuwan dan semua pemangku kepentingan, vaksin 1, 2 dan lalu booster akhirnya bisa disebarluaskan ke seluruh dunia. Semangat manusia terpompa dan sedikit demi sedikit kehidupan mulai berlangsung kembali. Sebagian kantor sudah offline yang mengharuskan karyawan bekerja dari kantor, sebagian lainnya bisa fleksibel dengan memperbolehkan karyawan bekerja dari manapun dengan sekali-sekali mewajibkan datang untuk meeting. Sekolah yang awalnya offline terbatas dan sigap ditutup jika terjadi penularan Covid-19 di antara murid, akhirnya kegiatan belajar kembali berlangsung penuh setiap hari. 

Semua sendi kehidupan seperti back on track, terutama ketika berbagai larangan mulai mengendur. Kerumunan konser dan kemeriahan hari raya utamanya Lebaran disertai mudik dan juga Natal serta 17 Agustusan berlangsung dengan relatif aman. Di akhir tahun, tepatnya tanggal 30 Desember 2022, Presiden Jokowi mengumumkan pencabutan PPKM dengan pertimbangan kasus Covid-19 sudah melandai, tercatat 1,7 kasus per 1 juta penduduk (sumber: https://nasional.kompas.com/read/2022/12/30/14381381/pemerintah-putuskan-cabut-ppkm-mulai-hari-ini) Hal ini tentu menambah kelegaan berbagai pihak dalam menyelenggarakan kehidupan bernegara dan bermasyarakat, mulai dari kegiatan beribadah, bekerja, sekolah, wisata sampai layanan publik dan kegiatan akbar seperti persiapan Pemilu). 

Kita harus bisa menarik hikmah dari pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya berlalu (ingat ada varian baru yang saat ini masih terus terjadi di Cina). Jangan sampai ada euforia sehingga mengabaikan hal-hal mendasar yang sudah kita alami dan pelajari dari pandemi. Cuci tangan contohnya, berapa persen orang yang masih menerapkannya untuk menjadi good habit untuk selanjutnya. Kepedulian terhadap sesama juga diharapkan terus bisa dipupuk, tidak hanya saat terjadi musibah. Sikap mental yang tangguh dan tekad untuk selalu mengembangkan skills baru semoga tidak lenyap tetapi sudah terpatri dalam hati kita. Kita hidup di bumi yang semakin menua dengan segala dinamikanya. Bencana alam semakin sering terjadi dan memerlukan mitigasi. Demikian juga pandemi. Jika jarak dengan pandemi besar sebelumnya terasa lama, kita tak boleh terlena. Hikmah harus diambil dari pandemi Covid-19, jangan dilupakan. Bagi pemerintah, perlu adanya perencanaan dan mitigasi yang lebih baik dan komprehensif untuk mengantisipasi bencana sejak awal, bukan sekadar reaktif sesudah kejadian. Bagi masyarakat termasuk keluarga dan individu, perlu pengembangan diri agar tetap berpikir positif dan kreatif, bermental kuat serta peduli pada sesama. Always hope for the best and prepare for the worst!

20 Agree 11 opinions
0 Disagree 0 opinions
20
0
profile picture

Written By lina_martina

This statement referred from