Pandemi COVID-19 Adalah Ajang Bisnis Dokter dan Rumah Sakit? Benarkah Menguntungkan Sektor Kesehatan?

profile picture Lady_Cerebellum

Pernahkah Anda melakukan rapid test antibody, rapid test antigen, atau PCR? Rasanya hampir semua orang sudah pernah melakukannya. Bagaimana tidak, tes ini melekat dengan aktivitas sehari-hari kita, entah tujuannya untuk menegakkan diagnostik Covid-19, screening saat memasuki area publik, ataupun sebagai syarat menggunakan transportasi publik.

Kebijakan tes ini berubah seiring dengan meningkatnya cakupan vaksinasi di Indonesia.
Kini tes antigen/PCR tidak lagi diwajibkan, dengan syarat sudah melakukan vaksinasi dosis ketiga. Tidak banyak pilihan memang. Untuk dapat menggunakan fasilitas publik pilihannya hanya dua: vaksin atau tes.

Hal ini menimbulkan polemik di masyarakat. Apakah ada unsur kesengajaan hingga tercipta situasi seperti ini? Jika ya, siapa orang-orang yang ada di baliknya? Siapa yang diuntungkan dengan kondisi ini?

Semua telunjuk mengarah pada para tenaga kesehatan, khususnya dokter sebagai individu dan rumah sakit sebagai instansi terkait. Dokter dituduh menakut-nakuti dengan cerita penyakit mematikan agar masyarakat membeli obat & menggunakan jasa mereka.
Benarkah demikian?
Mari kita telisik secara singkat.

Tenaga kesehatan adalah garda terdepan sekaligus benteng terakhir dalam menghadapi penyakit ini. Berdasarkan data LaporCovid-19, jumlah tenaga kesehatan di Indonesia yang meninggal akibat Covid-19 per 30 Desember 2022 adalah 2.087 orang. Sebanyak 751 orang atau 35,98% nya adalah dokter.
Mengutip CNN Indonesia, ada beberapa faktor yang menyebabkan angka kematian tenaga kesehatan di Indonesia tinggi yaitu akibat kelelahan bekerja hingga keterbatasan APD.
Lantas apakah pekerjaan berisiko tinggi ini sebanding dengan hasil yang didapat?

Kenyataannya masih banyak tenaga kesehatan yang selama ini menangani Covid-19 namun belum mendapatkan insentif. Berdasarkan data LaporCovid-19 pada Januari 2021 sebanyak 75% tenaga kesehatan belum mendapat insentif. Kalaupun sudah menerima, dananya tidak utuh karena sudah dipotong. Ketika beberapa tenaga kesehatan menyuarakan aspirasinya terkait insentif, mereka mendapat tekanan, ancaman, dan pemutusan hubungan kerja.

Di sisi lain, pasien non Covid-19 yang datang berobat ke rumah sakit mengalami penurunan. Mengutip artikel manajemenrumahsakit.net penurunan ini disebabkan masyarakat yang menunda pengobatan, pembatasan volume pasien dari rumah sakit sebagai bentuk kehati-hatian, ditambah beberapa rumah sakit bukan merupakan rujukan Covid-19. Alhasil, selama Covid-19 pendapatan rumah sakit juga menurun. Akibatnya, ratusan karyawan yang merupakan tenaga medis di-PHK dari beberapa rumah sakit. Banyak tenaga medis yang banting setir beralih profesi menjadi pedagang hingga ojek online.

Sejumlah kebijakan diterapkan pemerintah sebagai upaya menekan penyebaran penyakit. Salah satunya adalah vaksinasi dan tes antigen/PCR secara masif. Lagi-lagi tenaga kesehatan dan rumah sakit dituding mengambil keuntungan dari bisnis ini. Hal ini dikarenakan harga tes PCR yang sempat mahal di awal pandemi yang kemudian menuai protes di masyarakat sehingga pemerintah turun tangan mengatur regulasi harga PCR .
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Patologi Klinik dan Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn) Prof DR. Dr. Aryati MS, Sp. PK (K) mengapresiasi dan mendukung program pemerintah untuk menurunkan harga PCR. Namun bukan lab yang membuat harga PCR mahal, melainkan harga alat dan bahan baku tes seperti reagen. Jika harga reagen turun maka bisa dipastikan harga PCR juga turun.


Lantas dari mana Indonesia mendapatkan reagen selama ini?
Menurut Bisnis.com, reagen PCR ini didatangkan paling banyak dari China. Izin impor alat kesehatan termasuk reagen PCR didominasi oleh swasta. Pemerintah hanya memegang 16,67% dari keseluruhan aktivitas impor alat kesehatan ini.
Hanya saja, korporasi non-pemerintah itu tidak sepenuhnya memiliki latar belakang bisnis yang konsen pada urusan kesehatan masyarakat. Dokumen importasi menunjukkan ada perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan, tekstil hingga ketel uap.

Harus diakui, dalam setiap musibah baik yang direncanakan ataupun tidak, selalu ada pihak yang diuntungkan.
Pandemi, entah direncanakan atau terjadi secara alami, selain memberikan dampak buruk juga menghasilkan keuntungan bagi beberapa pihak, suka atau tidak suka.
Namun yang terpenting bukanlah memperdebatkan tentang ada tidaknya konspirasi.
Bagi yang percaya ini konspirasi, silakan.
Bagi yang tidak percaya, tidak masalah.
Kita sama-sama sepakat untuk tidak sepakat.
Yang terpenting, bagaimana caranya kita mencari jalan keluar dari krisis ini. Bersama-sama. Saling membantu.
Jangan karena kebencian dan beda pendapat lantas menimbulkan fitnah tanpa menelusuri fakta terlebih dahulu.
Semoga Indonesia dapat segera bangkit dan maju dari keterpurukan.

Referensi: 
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200904194600-255-542994/penyebab-tingginya-kematian-dokter-dan-nakes-di-masa-covid-19

https://amp.kompas.com/nasional/read/2021/07/26/16350211/laporcovid-19-ungkap-dugaan-penyebab-terlambatnya-insentif-nakes

https://manajemenrumahsakit.net/2021/03/pengaruh-pandemi-covid-19-terhadap-kondisi-rumah-sakit-yang-listing-di-bei/

https://www.kompas.com/tren/read/2021/08/16/154500665/kenapa-harga-tes-pcr-di-indonesia-mahal-ini-alasannya

https://m.bisnis.com/amp/read/20210815/15/1430000/terungkap-ini-10-importir-alat-covid-19-ada-perusahaan-kecantikan-ketel-uap

https://www.suara.com/news/2021/03/15/073000/distributor-blak-blakan-soal-pengadaan-reagen-covid-19-bnpb-yang-bermasalah
 

3 Agree 3 opinions
0 Disagree 0 opinions
3
0
profile picture

Written By Lady_Cerebellum

This statement referred from