Menelisik Sudut Pandang yang Digunakan Media dalam Pemberitaan Covid-19

profile picture Haurazahra

Di Awal tahun 2020 dunia dihebohkan oleh sebuah penyakit yang dikenal dengan Coronavirus Disease of 2019 (COVID-19). Penyakit ini disebabkan oleh virus SARS-CoV2 dan termasuk ke dalam virus corona. Virus yang dikabarkan dapat mengakibatkan kematian ini membuat sebagian masyarakat menjadi resah. Apalagi, ketika virus ini terjadi, kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang cukup drastis. Semula masyarakat dapat beraktivitas secara bebas tanpa khawatir akan hal apapun. Namun, ketika virus ini melanda ruang gerak masyarakat menjadi terbatas dikarenakan mereka harus tetap berada didalam rumah sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Alhasil, sebagian besar kegiatan yang biasa masyarakat lakukan diluar ruangan, harus mereka lakukan di dalam rumah. Sehingga, untuk mengetahui situasi atau keadaan seperti apa yang terjadi diluar sana. Masyarakat biasanya akan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi.

Masyarakat akan mencari informasi mengenai situasi yang terjadi di luar sana melalui media elektronik. Oleh karena itulah, pemberitaan dengan topik virus Covid-19 pun menjadi topik hangat dan yang paling sering dibicarakan. Banyak sekali media-media elektronik yang berlomba lomba menyajikan berita seputar Covid-19. Setiap media yang menampilkan berita mengenai Covid-19 mempunyai karakteristiknya masing-masing. Ada media yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dengan memberikan informasi mengenai definisi Covid-19, solusi untuk mencegah penularan virus tersebut, situasi terkini yang terjadi di berbagai belahan daerah, atau berita positif-positif lainnya. Namun, ada juga media yang memang sengaja menyampaikan berita Covid-19 dengan isu lainya untuk mencapai maksud tertentu. Beberapa media juga terang-terang mengkritik atau menyudutkan salah satu pihak terkait penyebaran virus ini. Belum lagi, narasi yang terlalu mendramatisir yang disajikan beberapa media sehingga menimbulkan informasi yang tidak tepat.  

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penelitian-penelitian baru yang mengangkat topik seputar isu mengenai media online dalam memberitakan kasus Covid-19. Seperti yang dilakukan Sofian dan Lestari (2021). Di dalam penelitianya, mereka menyebutkan bahwa ada media online yang menyampaikan pemberitaannya dengan memberikan kritik terhadap peran pemerintah dalam menangani kasus penyebaran Covid-19. Di Salah satu judul artikelnya yang berjudul Dokter dan Ahli Kesehatan Desak Pemerintah Serius Tangani Corona, yang mana terlihat dari judulnya  mengomentari kinerja pemerintahan yang dinilai tidak serius dalam menangani penyebaran kasus Covid-19. Namun ada juga media yang pro terhadap peran pemerintahan. Hal ini dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan oleh Naqqiyah (2020). Hal ini terlihat dari salah satu artikel yang terbit di dalam media tersebut yang berjudul Tes Corona di DKI Tinggi, Pemerintah Bandingkan dengan Korsel. Artikel ini menunjukan bahwa pemerintahan sudah berupaya maksimal dalam menangani penyebaran kasus ini, sehingga dapat dibandingkan dengan negara lain. Namun, ada juga sebuah penelitian yang dilakukan oleh Astrid (2020) yang mengemukakan bahwa ada media online yang fokus pemberitaan hanyalah untuk memberikan informasi-informasi positif tanpa adanya niat terselubung didalamnya. Sehingga tidak condong terhadap pihak manapun.

Dari penelitian-penelitian yang telah disebutkan di atas. Hal ini membuktikan bahwa setiap media memiliki karakteristiknya masing-masing dalam mengambil sudut pandang untuk pemberitaan mengenai Covid-19. Dari sini juga dapat terlihat bahwa ada ideologi dan kepentingan tertentu yang menentukan penyajian berita pada suatu media. Aspek dan kepentingan yang telah diatur inilah yang akan membantu wartawan dalam menentukan informasi apa yang akan disajikan dalam sebuah berita. Dalam menyajikan konten, wartawan pasti akan mengikuti ideologi yang memang diterapkan didalam perusahaan masing-masing dan juga kepentingan apa yang ingin dicapai dalam menyebarkan berita tersebut. Oleh karena itulah, terkadang suatu berita tidak murni suara dari wartawan ada hal hal lainnya yang juga ikut berperan.  

Seperti yang terlihat dari contoh penelitian yang telah disebutkan. Media online yang pertama dalam menyampaikan beritanya dengan mengomentari kinerja pemerintahan dalam menangani kasus penyebaran virus Covid-19. Dengan ini maka media tersebut menunjukan ideologi nya untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintahan. Kepentingan yang ingin dicapai dari media ini pun adalah mengajak masyarakat untuk lebih kritis lagi dalam mengawasi peran pemerintahan dalam mengatasi kasus pandemi Covid-19. Oleh karena itulah, wartawan yang bekerja pada media ini akan mencari berita atau informasi yang berkaitan dengan ideologi perusahaan tersebut. Berbeda dengan media yang kedua, dimana fokus mereka adalah mendukung peran pemerintahan dalam penyebaran Covid-19. Tujuan perusahaan media online ini ingin mengajak publik untuk memiliki pemikiran positif terhadap peran pemerintah dalam menangani kasus pandemi ini. Selain itu, ingin menunjukan kepada publik bahwa pemerintahan telah berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 semakin meluas. Maka wartawan yang bekerja dalam perusahaan ini akan lebih berfokus mencari sisi positif dari kinerja pemerintahan. Sedangkan media yang ketiga, dikarenakan ideologi perusahaan tersebut adalah menyajikan berita positif tanpa condong terhadap pihak manapun. Maka wartawan yang berada dibawah naungan perusahaan ini akan lebih bebas mencari topik pemberita Covid-19, namun informasi yang disampaikan adalah informasi-informasi positif sehingga dapat mengurangi kecemasan masyarakat mengenai kasus virus Covid-19 ini.

Adanya perbedaan ideologi dan kepentingan yang ingin diraih masing-masing  media tidak menjadi masalah besar bagi wartawan. Dikarenakan tuntutan pekerjaan mereka, dimana ada satu media yang memang focus atau condong menekankan akan satu aspek seperti aspek politik, kekuasaan dan lain sebagainya. Asalkan berita yang ditampilkan mengikuti prinsip-prinsip dasar dalam meliput berita seperti prinsip akurasi, kemanusian dan komitmen.

References

Astrid, A. F. (2020). Jurnalisme Positif Ala Portal Republika Pada Isu Covid-19. Jurnal Mercusuar, 1(1), 150–161. http://103.55.216.56/index.php/mercusuar/article/view/14715

Naqqiyah, M. S. (2020). Analisis Framing Pemberitaan Media Online CNN Indonesia.com dan Tirto.id Mengenai Kasus Pandemi Covid-19. Jurnal Kopis: Kajian Penelitian Dan Pemikiran Komunikasi Penyiaran Islam, 3(01), 18–27. https://doi.org/10.33367/kpi.v3i01.1483

Setiawan, J. H., Stellarosa, Y., Chrisdina, Widodo, A. S., & Irwandy, D. (2021). Analisis Isi Pemberitaan Covid-19 Pada Media Online Di Indonesia. Dewan Pers, 1–62. https://dewanpers.or.id

Sofian, A., & Lestari, N. (2021). Analisis framing pemberitaan tentang kebijakan pemerintah dalam menangani kasus Covid-19. Commicast, 2(1), 58. https://doi.org/10.12928/commicast.v2i1.3150

2 Agree 1 opinion
0 Disagree 0 opinions
2
0
profile picture

Written By Haurazahra

This statement referred from