Pentingnya Penerapan Gizi Seimbang pada Anak Ditengah Pandemi COVID-19

profile picture Yesi_Lisna_Lestari

JAKARTA - Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof.Dr.dr.Aman Bhakti Pulungan Sp.A(K), MPPH mengatakan bahwa tingginya kasus COVID-19 menunjukkan perlunya perhatian lebih lagi terkait asupan gizi pada anak.


"Tingginya kasus COVID-19 pada anak menunjukkan asupan gizi anak perlu lebih diperhatikan. Sebab, kecukupan gizi pada anak akan meningkatkan imunitas tubuh anak dalam menangkal virus dan bakteri," kata Aman.


Selain itu, menurut pakar nutrisi UNICEF Sri Sukotjo, dalam pemaparannya di Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta, mengatakan bahwa sebelum adanya pandemi COVID-19, status gizi anak balita di Indonesia dirasa belum optimal.


"1 dari 3 anak Indonesia atau sekitar 7 juta balita Indonesia mengalami stunting. Kemudian wasting sekitar 2 juta balita. Jadi memang status gizi kita belum optimal," Kata Sri.


Stunting sendiri adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak, yang ditandai dengan tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya. Sedangkan, wasting adalah kondisi ketika berat badan anak menurun seiring waktu hingga berat badannya jauh dibawah standar pertumbuhan.


Menurut hasil riset kesehatan dasar (riskesdes) 2018, bahwa 23,6 persen anak usia 5-12 tahun mengalami stunting. Diantaranya, 9,2 persen kurang gizi, 9,2 persen mengalami obesitas, dan 10,8 persen mengalami kelebihan berat badan.
Seperti kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, stunting menjadi isu sentral sebab merupakan refleksi dari masa depan bangsa. Anak yang mengalami stunting tidak hanya mengalami keterlambatan pertumbuhan saja, namun juga dalam perkembangan otaknya.


COVID-19 menjadi ancaman gizi buruk, dimana pada perkembangannya menimbulkan dampak krisis multidimensi yang diprediksi akan memunculkan setidaknya 1 juta orang miskin baru di Indonesia. Kasus ini menjadi penyebab ancaman tambahan bagi kesehatan anak dengan potensi stunting dan gizi buruk dimana-mana.


Pendapatan orang tua yang menurun akibat pandemi COVID-19 menjadi salah satu faktor dari penyebab kekurangan gizi pada anak dan ibu hamil dan menyusui. Sebab, ketidakamanan pangan rumah tangga sering kali mengurangi porsi makan karena masalah keuangan,sehingga kasus tersebut diperkirakan akan meningkatkan prevalensi kekurangan gizi, khususnya anemia dan kurangnya berat badan.


Dalam meningkatkan implementasi perbaikan gizi, diperlukan peran aktif dari berbagai pihak yang meliputi peran seluruh kementrian dan lembaga, dunia usaha, pendidikan, media massa hingga seluruh elemen masyarakat. Usia sekolah dasar menjadi salah satu rentang usia paling penting yang perlu diperhatikan dalam tahap perkembangan.


Direktur Jendral Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan dr Kirana Pritasari berpendapat bahwa ketersediaan pangan di rumah tangga dan kemampuan pengetahuan orang tua dalam memilah dan memilih makanan bergizi sesuai kemampuan perlu menjadi perhatian khusus.


Dalam menjaga gizi seimbang dan tumbuh kembang anak di tengah pandemi COVID-19 ini bukan hanya persoalan jangka pendek belaka, namun merupakan tugas jangka panjang yang harus terus dilakukan supaya persoalan gizi buruk dan kekurangan gizi ini tidak bertambah dimana-mana.


Maka dari itu pemenuhan gizi yang seimbang bisa menjadi salah satu faktor dalam tumbuh kembang anak yang optimal. Gizi yang optimal menjadi faktor paling penting untuk pertumbuhan, perkembangan, dan kecerdasan anak. Dengan gizi seimbang, seorang anak diharapkan memiliki tubuh yang sehat, dan tidak mudah terkena penyakit, virus dan lain-lain.


Pemenuhan gizi seimbang ini bisa dimulai dengan memilah dan memilih jenis makanan yang bergizi sesuai kemampuan daya beli orang tua. Misalkan dengan memberikan asupan makanan bergizi yang beragam. Seperti makanan dengan kandungan protein bisa didapatkan dari ikan, tahu, tempe, telur, dan sebagainya. Makanan dengan asupan serat bisa di dapatkan dari mangga, pepaya, tomat, brokoli, dan sebagainya. Dan makanan-makanan lain yang mengandung zat besi, kalsium serta vitamin A,C,D, dan sebagainya.


Selain makanan yang bergizi, membiasakan perilaku hidup sehat dan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga bisa menjadi cara dalam penerapan gizi seimbang.

Reference :

1 Agree 1 opinion
0 Disagree 0 opinions
1
0
profile picture

Written By Yesi_Lisna_Lestari

This statement referred from