LARI KE RRC INI PENYEBAB HARGA SAWIT DAN KEDELAI MELAMBUNG
Sejak tahun 2021 dua harga bahan pokok utama yang paling banyak dipakai rakyat Indonesia, minyak sawit dan kedelai, harganya tidak terkendali, naik tajam. Penyebabnya dua komoditas ini lari ke China dan menjadi komoditas rebutan antara China, Afrika dan India. Khusus untuk minyak sawit, dua negara besar yang berebut, USA VS China. Konsumen Indonesia menerima getahnya atas perang ini. Termasuk Malaysia.
Perebutan CPO China VS Amerika
Sudah sejak pertengahan tahun 2021 harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di Indonesia melambung tinggi. Ini berdampak pada harga minyak goreng di konsumen, di kalangan rumah tangga. Biang keroknya ternyata adalah penurunan pajak impor minyak nabati di beberapa negara seperti Afrika, India dan China. Akibat penurunan pajak impor ini, India, Afrika dan China berebut menguras minyak sawit Indonesia bersaing, dengan Amerika.
Sampai Juli 2021 ekspor minyak sawit Indonesia tercatat sebesar US$ 4,4 Milyar dengan harga CPO yang dikoreksi menjadi US$ 1,226 per ton. Harga ini naik imbas koreksi harga beli oleh China untuk mengalahkan Amerika, Afrika dan India. Pada Juli 2021 lalu ekspor CPO ke China sebanyak 522.200 ton yang kemudian terjadi kenaikan pada bulan berikutnya sebesar 32,6% menjadi 819.200 ton. Sampai Desember 2021, prediksi minyak sawit mentah yang mengalir ke China sebanyak 3,4 juta ton. Ini berhasil mengeringkan cadangan minyak sawit di tanah air hingga membuat “emak-emak” galau dan harus ngantri di program pasar murah yang diadakan Pemerintah.
Yang lucu, Indonesia sebagai penghasil sawit terbesar di dunia, disusul oleh Malaysia, rakyatnya mengalami kelangkaan minyak sawit untuk rumah tangga. Jikapun ada maka harganya melambung tinggi. Ini juga hal yang sama dialami oleh Malaysia. Sebagai runner up, Malaysia sebenarnya juga masih mengandalkan banyak CPO dari Indonesia. Karena Malaysia lebih banyak menanamkan saham untuk membuka perkebunan sawit di Indonesia. Jadi merekapun kena imbas perebutan minyak sawit oleh negara-negara besar dunia. Hasil miyak sawit oleh kebun mereka di Kalimatan dan Sumatera tidak sempat mampir ke negara mereka.
Produksi CPO Indonesia sendiri pada tahun lalu mencapai 46,88 juta ton. Selain dipakai untuk rumah tangga, UMKM dan industri dalam negeri, minyak sawit ini juga harus dibagi-bagi ke seluruh penduduk dunia yang memerlukan minyak goreng. Kebutuhan Indonesia sendiri sekitar 18,442 juta liter. China sendiri berebut minyak sawit selain untuk konsumsi minyak sawit rumah tangga, juga diperlukan untuk industrinya.
Berebut Kedelai Dari Amerika
Tidak hanya berebut minyak goreng ke seluruh dunia, China dengan jumlah penduduk hampir mencapai 1,5 milyar jiwa juga mencari logistik berkeliling dunia. Selain menguras minyak goreng, China juga menyebabkan kelangkaan kedelai di Indonesia. Indonesia sendiri, karena faktor agroklimat tidak bisa menjadi penghasil kedelai dan harus impor dari Amerika, Canada, Argentina, Brasil, Malaysia, Australia, Prancis, India, dan Kroasia. Nilai impor kedelai kita pada tahun 2021 mencapai US$ 1,482 milyar atau setara dengan Rp 21.04 triliun. Sebagian besar, sebanyak 87% kebutuhan kedelai kita diimpor dari Amerika.
Total impor kedelai kita adalah 2,49 juta ton, sedangkan produksi kedelai dalam negeri hanya 632.326 ton yang dihasilkan dari lahan seluas 381.311 hektar. Sedangkan kebutuhan kedelai Indoesia sudah lebih dari 3 juta ton per tahun. Kedelai impor ini terbanyak diperlukan untuk industri tempe dan tahu. Beberapa produsen tahu, sebagian masih mengandalkan kedelai lokal untuk mengejar citarasa. Sedangkan untuk tempe, mutlak menggunakan kedelai impor yang ukuran bijinya lebih besar dan mengembang untuk tempe.
Sebagai catatan, 40% produksi kedelai Amerika diekspor ke China pada tahun 2021. Total pesanan kedelai China yang ditandatangani pada masa Donald Trump adalah sebesar 9,89 juta ton. Ini yang membuat kita tidak kebagian banyak kedelai dari Amerika hingga berujung pada naiknya harga kedelai di tanah air. Kenaikan harga kedelai yang selalu berulang ini membuat per hari Senin, 21 Februaru 2022 ini gabungan perajin tempe dan tahu melakukan mogok nasional selama 3 hari.
Pada beberapa tahun lalu sebenarnya Indonesia pernah menjadi importir kedelai dari China. Namun seiring meledaknya jumlah populasi manusia di China yang berdampak pada kebutuhan logistik, baik untuk manusia maupun ternaknya maka kedelai produksi China pun tidak cukup lagi untuk diekspor. Sebagai negara tempat asal tahu atau tofu, China mutlak memerlukan kedelai. Selain untuk konsumsi warganya, kedelai juga diperlukan untuk industri minyak kedelai, dan dimanfaatkan bungkil ataupun ampasnya untuk makanan ternak, terutama babi.
Kelangkaan minyak sawit dan kedelai akibat perebutan negara-negara besar, terutama China yang memang sedang membutuhkan logistik banyak untuk populasinya ini tidak bisa dihindari lagi. Untuk penggunaan minyak sawit, solusi paling ramah adalah kembali memanfaatkan minyak kelapa yang sudah lama ditinggalkan. Atau mengurangi makanan atau masakan yang harus digoreng menggunakan minyak. Bukannya beberapa makanan tidak perlu digoreng, dan bisa diganti dengan merebus?
Hilangnya penggunaan minyak kelapa, dan pergeseran penggunaan minyak kelapa ke minyak sawit ini terjadi beberapa puluh tahun lalu akibat kampanye hitam konsorsium sawit dunia. Mereka mengkampanyekan bahwa penggunaan minyak kelapa tidak baik untuk kesehatan karena mengandung asam lemak jenuh. Padahal minyak sawit pun yang digunakan untuk menggoreng juga mengandung lemak jenuh. Lalu minyak kelapa kemudian didiversifikasi menjadi Virgin Coconut Oil (VCO) bukan untuk masak, tetapi diembel embeli untuk pengobatan hingga harganya lebih tinggi dari minyak sawit. Maka peran minyak kelapa sebagai minyak goreng selesai.
Jika kita bisa mengurangi penggunaan minyak sawit secara ramah dengan memilah bahan mana yang bisa direbus, dikukus atau digoreng, juga mulai memanfaatkan kembali minyak kelapa maka Indonesia tidak perlu lagi tersiksa menjadi korban perang berebut logistik oleh China dan USA. (BTWW)