Economic Growth : Negara Terpapar "Corona Virus" Versus Negara "Non Corona Virus"
Abstrak
Virus Corona adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak negatif hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tidak hanya sektor kesehatan yang terganggu tetapi juga semua sektor lainnya seperti ekonomi, pertanian, transportasi, sosial, dll. Pertumbuhan ekonomi di masa pandemi terus menurun. Penurunan pertumbuhan sektor pengangkutan dan pergudangan juga berdampak pada perdagangan komoditas pertanian. Terdapat disparitas tinggi yang mencapai di atas 50% pada beberapa komoditas seperti ayam ras, cabai merah, daging sapi, dan bawang merah. Namun harga komoditas pertanian seperti beras, telur ayam, minyak goreng, dan gula pasir juga stabil. Pada komoditas daging sapi/kerbau terjadi defisit sebesar 14 ribu ton pada periode Januari-Mei 2021, sedangkan komoditas bahan makanan pokok lainnya mengalami surplus. Bahan makanan pokok merupakan kebutuhan utama masyarakat, sehingga pemerintah harus mampu mengintegrasikan jaringan pasar induk di setiap daerah, memperbaiki manajemen stok dan logistik, serta meningkatkan produksi. Pandemi ini mempengaruhi kehidupan ekonomi di tingkat dunia. Seolah tanpa ampun, perekonomian dunia saat ini, termasuk di Indonesia, mengalami ketidakpastian dan akhirnya berujung pada resesi ekonomi.
Kata kunci : Corona virus, Pertumbuhan Ekonomi
PENDAHULUAN
Virus Corona adalah keluarga virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Sindrom Pernafasan dan Sindrom Pernafasan Akut Parah. Penyakit virus corona adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang paling baru ditemukan. Sedangkan angka kesembuhan pasien Covid-19 menunjukkan arah yang signifikan, yakni 61.982. virus ini ditularkan melalui kontak dengan tetesan pernapasan daripada melalui udara. Cara utama penyebaran penyakit ini adalah melalui tetesan pernapasan yang dikeluarkan oleh seseorang yang batuk.
Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga berdampak pada kondisi ekonomi dan kehidupan masyarakat. Dampak besar COVID-19 terhadap perekonomian adalah melemahnya konsumsi rumah tangga, menurunnya angka investasi di berbagai sektor usaha, hal ini dikarenakan proteksi dari pandemi yang membuat masyarakat ragu untuk memulai investasi, penurunan pendapatan akibat melemahnya sektor pariwisata karena kebijakan PPKM yang membatasi pergerakan orang ke destinasi wisata
NEGARA TERPAPAR CORONA VIRUS
Virus ini ditemukan setelah penyebarannya dimulai di Wuhan, China, pada Desember 2019. (Coronaviruses Covid-19) dilaporkan telah menyebar ke lebih dari 102 negara di dunia dengan total kasus positif mencapai 110.000 orang. Semula penyebaran besar terjadi di China daratan yakni 80.735, disusul Korea Selatan 7.382 kasus, Italia 7.375, Iran 6.566 kasus, dan kini di Indonesia 309 kasus. Sedangkan kasus kematian mencapai 3.825 orang, masih didominasi oleh episentrum virus yaitu di kota Wuhan yaitu 3.007 orang. Disusul Italia 366 orang, Iran 194 orang, dan Korea Selatan 50 orang, serta Indonesia 25 orang.
Keputusan pemerintah Indonesia untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar berdampak luas pada proses produksi, distribusi, dan kegiatan operasional lainnya. Pada akhirnya hal ini dapat mengganggu kinerja perekonomian Indonesia karena angka pengangguran dan kemiskinan dipastikan akan meningkat dan tentunya menghambat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi mengindikasikan bahwa Indonesia akan memasuki resesi ekonomi (Kemenkeu 200a). Pada Oktober 2020, International Fund for Agricultural Development (IFAD) menyatakan bahwa gangguan sosial ekonomi akibat Covid-19 sangat besar. Puluhan juta orang bisa jatuh ke dalam kemiskinan ekstrim. Jumlah penderita gizi buruk di dunia yang diperkirakan mencapai 690 juta pada Oktober 2020, kini bertambah 132 juta lagi hingga akhir tahun 2020. Penurunan pertumbuhan ekonomi juga dapat diikuti oleh dampak ekonomi lainnya seperti peningkatan pengangguran. Pasalnya, selama pandemi banyak perusahaan yang mengalami gangguan. Sehingga banyak karyawan yang terpaksa pulang. pada Agustus 2020, 15,72 juta orang mengalami pengurangan jam kerja dan 1,11 juta orang juga tidak bekerja. Sementara itu, ada 650 ribu warga bukan angkatan kerja yang berhenti bekerja akibat corona sejak Februari 2020. Dampak lain terlihat pada sektor pariwisata akibat aturan social distancing dan larangan berkerumun di tempat umum serta absennya warga lokal dan masyarakat. kunjungan wisatawan mancanegara ke tempat wisata yang berdampak pada lesunya usaha mikro daerah.
NEGARA NON CORONA VIRUS
Apakah kalian tahu bahwa negera-negara ini tidak terpapar virus Corona,kok bisa?
Who atau badan kesehatan dunia mencatat bahwa beberapa negara ini tidak terpapar corona salh satunya yaitu mikronesia,kepulauan pitcairn, Turkmenistan,Nauru,iue,dan Kiribati. menurut WHO tidak ada paparan maupun kasus corona virus dinegara tersebut yang dikonfirmasi dengan nol kematian dan rata rata penduduknya telah divaksinasi secara lengkap. Hal ini juga menjadi berita bagus bagi nergara dan perekonomian mereka,tercatat pada negara mikronesia mereka mengalami perekonomian yang stabil dengan produk domestic bruto yang meningkat dari angka 0,353 miliar US dollar menjadi 0,372 US dollar. Dan di susul oleh kepulauan pitcairn,kepulauan pitcairn memiliki sub bidang perikanan dan pertanian yang baik serta pertumbuhan perekonomian mereka meningkat dengan adanya kegiatan pembuatan kerajinan tangan ,penjualan perangko dan koin untuk kolektor,serta penjualan madu yang dijual ke kapal kapal dijalur anglo-selandia baru melalui terusan panama.selanjutnya disusul oleh Turkmenistan yang meningkat dari angka 40,761 miliar US dollar menjadi 112,613 US dollar.disusul oleh niue yang merupakan negara kepulauan disamudra pasifik selatan yang meningkat dari angka 30,510 miliar US dollar menjadi 43,536 US dollar.
Dengan demikian keuntungan negara yang tidak terpapar corona virus adalah sektor perekonomian tidak terganggu,tidak bertambahnya pengangguran yang cukup siginifikan,di beberapa negara yang terpapar covid-19 mereka mengalami peningkatan yang signifikan mengenai data pengangguran dinegaranya dikarenakan banyak perusahaan yang mengalami penurunan pendapatan yang membuatnya harus memberikan pemberhentian hak kerja kepada 50% karyawannya, keuntungan lainnya yaitu tidak adanya pembatasan sosial yang menyebabkan masyarakat di negara “non corona virus” dapat melakukan aktivitas dengan bebas,baik itu aktivitas bekerja,bersekolah,berwirausaha dan lain sebagainya. Keuntungan yang terakhir yaitu beberapa perusahaan tidak mengalami kebangkrutan dan ramainya sektor pariwisata (turis local maupun mancanegara) yang dapat menambah devisa negara. Serta terhindar dari krisis ekonomi,yang dimana Pandemi Covid -19 ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian negara di dunia yang mengakibatkan adanya penurunan pada semua komponen produk domestik bruto (PDB bahkan kontraksi sehingga pertumbuhan perekonomian termasuk dalam kategori krisis.
KESIMPULAN
Negara-negara yang terpapar virus corona mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan peningkatan jumlah pengangguran. Pasalnya, selama pandemi banyak perusahaan yang mengalami disrupsi. Sehingga banyak karyawan yang terpaksa dipulangkan. sebanyak 15,72 juta orang jam kerjanya dipersingkat dan Sebanyak 1,11 juta mengalami pemutusan hubungan kerja. Sementara itu, ada 650 ribu warga bukan angkatan kerja yang berhenti bekerja akibat Corona sejak Februari 2020. Dampak lain terlihat pada sektor pariwisata akibat aturan social distancing dan larangan mengunjungi tempat-tempat umum serta menimbulkan kerumunan hal ini menyebabkan tidak ada turis yang datang, mengakibatkan lesunya usaha mikro daerah tersebut.
Sedangkan negara-negara yang tidak terpapar virus corona bisa menghirup udara segar karena sektor ekonomi negaranya tidak terganggu, dan tidak ada peningkatan pengangguran yang signifikan, sementara beberapa negara yang terpapar Covid-19 mengalami peningkatan yang signifikan. dalam data pengangguran di negaranya karena banyak perusahaan yang mengalami penurunan pendapatan yang memaksa mereka untuk membuat peraturan kepada 50% karyawannya untuk Work from home. serta tidak adanya pembatasan sosial yang menyebabkan orang-orang di negara "non-coronavirus" melakukan pekerjaannya. kegiatan secara bebas, baik kegiatan bekerja maupun berwirausaha yang dapat meningkatkan pendapatan negara. Dan beberapa perusahaan tidak bangkrut serta ramainya sektor pariwisata dapat menambah devisa negara. Dan menghindari krisis ekonomi.