Childfree, di era sekarang menjadi salah satu trend untuk berbagai pasangan di Indonesia setelah menikah, dengan beragam latar belakangnya.
Ada berbagai alasan yang menjadi dasar. Namun sebelum itu, banyak yang masih menentang hal tersebut.
Beragam alasan, mulai dari pertanyaan bukankah ketika sudah menikah, hal yang didambakan adalah memiliki anak? Kemudian ada lagi, “lalu buat apa menikah jika pada akhirnya tidak memiliki anak?”.
Pada kenyataannya, menurut beberapa sumber. Di tahun 2023 nanti, banyak yang memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan kelahiran. Dan banyak di dominasi oleh para kaum Gen Z dan Milenial, yang rata-rata masih usia produktif.
Lalu kemudian ada beberapa pihak yang menyangkut pautkan dengan aturan agama, utamanya adalah Islam.
Yang mana banyak yang mengaitkan hadist berikut “menikah namun memutuskan untuk tidak memiliki anak, adalah mereka tidak tergolong dalam kaum Nabi Muhammad SAW”.
Dengan permasalahan childfree ini. Menurut Imam al-Ghazali (mengutip dari beberapa sumber). Mengatakan bahwasannya childfree dalam Islam hukumnya boleh.
Asal tidak sampai haram. Maksudnya adalah, belum sampai menjadi anak, dan belum adanya proses sperma bertemu dengan ovum.
Itu dibolehkan. Contoh kegiatannya seperti menumpahkan sperma di luar rahim perempuan, bersetubuh dengan istri, namun ia tidak berniatan untuk menumpahkannya di dalam vagina perempuan.
Yang diharamkan adalah, jika pasangan suami istri memang menolak keras, dengan cara tidak “menggauli” pasangannya, istilah mudahnya seperti itu.
Lalu Apa Alasan Paling Banyak Dilontarkan Oleh Pasangan Menikah Untuk Chidfree?
Mengutip dari beberapa sumber, setidaknya ada 5 alasan mendasar yang menjadi pedoman kuat para pasangan setelah menikah, untuk childfree, yakni:
Isu Fisik
Biasanya hal tersebut berkaitan dengan kondisi tubuh pasangan. Kadang ada yang menyinggung soal bentuk dari panggul wanita.
Yang terlihat kecil dan susah untuk melahirkan secara normal, walaupun sebenarnya ada alternatif lain.
Namun karena budaya patriaki yang lebih me-glorifikasi bahwasannya “seorang perempuan jika tidak merasakan lahir secara normal, itu bertanda tidak merasakan sebagai ibu seutuhnya”.
Menjadi problematik sampai sekarang. Kemudian biasanya karena kualitas dari sperma laki-laki. Yang juga mengalami permasalahan. Jadilah childfree menjadi pilihan.
Kondisi Psikologis
Hal tersebut menyangkut dengan kesehatan mental dari salah satu pasangan. Biasanya karena pernah mengalami toxic relationship.
Mereka takut suatu saat ketika terjadi sesuatu pada dirinya, akan mengancam keselamatan anak mereka, atas perlakuan yang mereka berikan kepada mereka.
Mengingat ketika sudah mengalami toxic relationship, butuh waktu yang cukup lama untuk bisa pulih dan kembali seperti sedia kala.
Faktor Ekonomi
Dimana pasangan memilih untuk childfree, adalah soal perekonomian. Banyak yang berpendapat, bahwa mereka takut.
Jika tidak bisa memberikan kehidupan yang lebih baik kepada anak mereka, dengan keadaan ekonomi yang dialami oleh pasangan.
Dan takutnya lagi, berbagai kebutuhan anak, akan tidak bisa tercukupi dengan maksimal dengan keadaan ekonomi mereka.
Karena Lingkungan
Alasan yang selanjutnya adalah mengaitkan dengan lingkungan. Dimana alam sekarang sudah sangat rusak, karena kebanyakan ulah manusia.
Jadi, para pasangan memilih untuk chidfree agar alam bisa lebih terjaga, lestari, dan sebagainya. Mengigat, satu jiwa, bisa saja merusak alam dengan level yang berbeda-beda.
Alasan Personal
Selanjutnya adalah masalah alasan personal. Dimana ada begitu banyak alasan yang dilontarkan dari beberapa pasangan.
Mulai dari memang sudah kesepakatan bersama untuk hidup berdua saja, atau menginginkan untuk lebih fokus mengejar impian bersama, dan sebagainya.
Itulah beberapa alasan dari pasangan setelah menikah, dan memilih untuk childfree. Meski begitu, pada dasarnya semua adalah pilihan dari seseorang tersebut.
Mau atau tidak. Dan sanggup atau tidak. Itu adalah kunci mudah untuk memutuskan sesuatu di dalam hidup, termasuk dengan keputusan childfree tersebut.
Bagaimanapun nantinya pasangan itu sendiri yang menjalani hidup setelah menikah. Merencanakan kebahagiaan yang seperti apa dan sebagainya.
Itu berada di tangan pasangan itu sendiri. Walaupun memang budaya patriaki masih sangat kental di Indonesia terutama untuk seorang perempuan.
Dimana mereka mempunyai beban sosial lebih berat setelah menikah. Apalagi dengan mereka yang memutuskan untuk childfree.
Akan ada begitu banyak pasang mata yang menyoroti, menilai hal tersebut salah, dan sebagainya. Banyak orang yang melihat sebelah mata akan hal tersebut.
Perempuan adalah manusia. Mereka mempunyai kewajiban dan hak dalam hidupnya. Termasuk hak memilih atas apa yang nantinya akan terjadi di hidupnya di masa depan.
Keputusan untuk melajang, atau menikah namun tidak mempunyai anak, itu adalah pilihan. Begitu juga dengan laki-laki.
Dan karena islam membolehkan hal tersebut, itu menandakan bahwa agama apapun dalam hal ini islam.
Menghargai atas keputusan daripada ummatnya untuk kehidupan mereka. Entah akan memiliki anak atau tidak, itu berada di tangan pasangan yang akan menjalani hidup.
Lalu, Apa PR Kita Sebagai Orang yang Berada di Dekat Pasangan Tersebut?
Kuncinya hanya satu, yakni menghargai. Sekarang bukan lagi trend memaksakan kehendak kita kepada orang lain.
Cukup fanatik ada pada diri sendiri, tapi jangan fanatik tersebut mengintervensi orang lain. Jika memang memiliki anak adalah kewajiban dalam hidup menurut kita.
Biarkan hal tersebut cukup untuk diri kita. Dan kita tidak ada hak apa-apa untuk memaksa seseorang untuk ikut atas persepsi, prinsip atau hal lain yang menjadi pedoman kita.