Serba-serbi Covid-19 Dari Awal Hingga Sekarang

profile picture bertha_budiarti

Saat ini, angka kasus COVID-19 masih bertambah. Saya ingin membagikan cerita saya pribadi saat menjadi penyintas COVID-19 dan bagaimana cara saya melawan penyakit ini. Sebelum itu, mari kita bahas asal muasal COVID-19 ini. Pertama kali muncul di Wuhan, China pada Desember 2019, coronavirus jenis baru ditemukan lalu diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2) dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). (Sumber : covid19.go.id)
Penyakit ini menjangkau anak kecil, orang muda, dan lansia (lanjut usia). Kasus kematian terbanyak terjadi pada kelompok lansia dan orang yang memiliki penyakit komorbid. Penyakit yang kini dinyatakan pandemi ini menjangkiti hampir seluruh dunia. 
Untuk mencegah penularan penyakit Covid-19, kita harus mematuhi 5M, yaitu:
1. Memakai masker 
2. Mencuci tangan dengan sabun, atau hand sanitizer
3. Menjaga jarak minimal 1 meter
4. Menjauhi kerumunan
5. Membatasi mobilitas
Sejak pandemi ini, masker dijual di banyak tempat, baik masker kain maupun masker non medis, karena semua orang harus memakai masker. Hand sanitizer yang lebih praktis dibanding sabun juga banyak dijual.
Di era pandemi ini mobilitas sangat dijaga, pernikahan, acara pertemuan dimana-mana, tempat ibadah, sekolah, tempat kerja, dan rapat sangat dibatasi. Karena itu, pertemuan online banyak dilakukan melalui aplikasi Zoom. 
Covid-19 dapat dideteksi dengan cara melakukan tes swab antigen atau PCR. Tes ini bahkan dijadikan syarat untuk bisa melakukan perjalanan di pesawat dan kereta api, syarat untuk pekerjaan dan sektor lainnya.
Di Indonesia sendiri, kasus Covid-19 beberapa kali melejit tinggi. Terutama pada Juni 2021, saat muncul varian Delta, banyak kasus meninggal dunia dengan gejala yang parah yaitu sesak nafas kronis. Di sini saya terpapar Covid-19 juga. Lalu saya langsung menjalani karantina di rumah. Gejala yang saya alami adalah demam, menggigil, anosmia, dan perut yang tidak nyaman. Begitu hasil tes PCR positif, saya langsung ke dokter dan diberi obat antibiotik, obat demam, dan multivitamin. Dua hari pertama demam, menggigil dan perut tidak nyaman sudah hilang. Untuk mengatasi anosmia, saya rutin makan bawang putih tiap hari karena rasa dan aroma bawang putih yang tajam akan lebih cepat merangsang lidah dan hidung saya agar cepat pulih. Lima hari kemudian semua gejala hilang. Tak lupa saya juga berjemur pada jam 8 pagi selama 20 menit. 14 hari setelah saya dinyatakan positif, saya tes PCR lagi untuk keperluan pekerjaan saya, dan ternyata saya masih positif karena mungkin yang terdeteksi hanya tinggal sisa virusnya saja. Kemudian berdasarkan anjuran dari teman yang penyintas Covid-19 juga, saya mulai rutin setiap hari lari pagi, minum multivitamin dan air kelapa muda. Ya, air kelapa muda dapat membantu penyembuhan karena mengandung elektrolit yang dapat membantu imun tubuh semakin kuat lalu imun tubuh kuat inilah yang akan mengeluarkan virus dan bakteri jahat. Dan benar saja, 1 minggu kemudian saya melakukan tes PCR lagi dan hasilnya negatif.
Sekitar bulan April 2021 pemerintah mulai mencanangkan vaksin pertama dan kedua Covid-19 dengan tujuan agar mencegah penularan dan jika terkena pun gejalanya tidak akan terlalu parah. Sasaran utama dari vaksinasi adalah kelompok lansia (lanjut usia) dikarenakan mereka paling rentan. Setelah kelompok lansia, baru kemudian masyarakat umum dewasa. Jarak penyuntikan vaksin pertama dan kedua minimal 1 bulan. Saya baru mengikuti vaksin pertama pada bulan Agustus 2021, dan vaksin kedua di bulan September 2021. Setelah vaksin reaksi yang saya alami batuk dan pilek, walaupun sebelum suntik saya sudah minum multivitamin. Reaksi tiap orang berbeda-beda setelah suntik vaksin. Ada yang merasa pegal, demam, batuk dan pilek.
Sehari setelah vaksin pertama dan kedua, pemerintah akan memberi sertifikat dengan cara mendownload aplikasi Peduli Lindungi. Sertifikat ini selanjutnya akan menjadi syarat perjalanan di sektor transportasi (pesawat dan kereta api), pekerjaan dan sektor lainnya, sehingga jika sudah vaksinasi lengkap, maka diizinkan mengikuti perjalanan. Jika vaksinasi belum lengkap, maka harus tes swab antigen atau PCR sesuai peraturan yang berlaku. Dengan aplikasi Peduli Lindungi, maka kita hanya tinggal scan barcode jika ingin memasuki suatu tempat, biasanya scan barcode selalu disediakan di mall, tempat kerja, restoran, kafe, dan tempat lainnya jika keluar tanda hijau maka kita diizinkan masuk, artinya vaksinasi sudah lengkap.
Karena kasus Covid-19 masih terus bertambah, apalagi virus ini terus bermutasi, sekarang muncul varian baru yaitu Omicron. Agar perlindungan masyarakat terhadap virus Covid-19 terus ada, pemerintah mencanangkan vaksin booster pertama pada awal tahun 2022. Jarak dari vaksin kedua minimal 6 bulan. Saya sendiri vaksin booster pertama pada Maret 2022. 
Setelah sebagian besar masyarakat sudah mengikuti vaksinasi booster pertama, vaksinasi pertama dan kedua terhadap anak-anak pun mulai dilakukan, dan dijadikan syarat masuk sekolah. Kini Desember 2022, pemerintah mencanangkan vaksin booster kedua.

Pesan saya melalui artikel ini : Jagalah kesehatan dan berbahagialah selalu karena hati yang gembira adalah obat.

Sumber : covid19.go.id

3 Agree 2 opinions
0 Disagree 0 opinions
3
0
profile picture

Written By bertha_budiarti

This statement referred from