Media Massa Sebagai Marketing Terselubung

profile picture Vaath

Pertama kali covid-19 terdeteksi di Indonesia pada 2020 yang lalu, ditanggapi nyeleneh oleh sebagian pejabat pemerintah. Bermacam-macam opini tidak berdasar yang kemudian dibesar-besarkan oleh media. Sehingga masyarakat yang mendengar berita tersebut merasa bahwa covid-19 bukanlah virus yang berbahaya.

Pemberitaan covid-19 yang mulanya dianggap flu biasa, mendadak berubah menjadi hal yang paling mematikan. Kematian orang di pelosok negeri di pertontonkan, psikologis anak bangsa dipermainkan. Media memberitakan para petugas membawa, menjemput paksa dan menguburkan mayat korban covid-19 dengan memakai alat pelindung diri bak astronot. Psikologis rakyat mendadak buruk, mental rakyat runtuh. Ketakutan mulai menerpa rakyat. Kebijakan-kebijakan pemerintah menanggulangi covid-19, diberitakan seolah bumi akan kiamat. Ketegangan demi ketegangan diperlihatkan selama PSBB.

Beralihnya status menjadi darurat, menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Rakyat mulai mengurung diri, mengurangi aktivitas, tidak bersalaman, tidak beribadah di rumah ibadah, dan lain-lain. Hal ini yang kemudian membuat masyarakat mulai mencari obat agar kebal dari virus covid-19. Bermacam-macam obat yang diberitakan oleh media, dari jamu sampai obat cacing.

Dewan pers dalam situs mereka mengatakan bahwa tingkat kepercayaan publik dari generasi baby boomers (usia 57-75 tahun) terhadap peran media dalam membantu masyarakat mengakses informasi terpercaya tentang covid-19 cukup tinggi. Dilansir dari situs web dewan pers Indonesia, kepercayaan masyarakat terhadap media diangka 79,15%. Mereka menyatakan setuju atau sangat setuju tentang pemberitaan yang disebarluaskan oleh media massa.

Namun media massa menjadi semacam marketing terselubung dalam memasarkan obat cacing yang dianggap ampuh untuk obat covid-19. Sementara BPOM saat itu mengatakan obat cacing bukanlah obat untuk menjadikan seseorang kebal terhadap virus corona. Gencarnya media memberitakan hal tersebut, di satu sisi seakan memberi informasi yang bermanfaat bagi rakyat dalam menjaga kesehatan di tengah bumi yang diselimuti virus. Bahkan saat beberapa orang pendukung pemerintah, mengabarkan bahwa mereka sembuh dari covid-19 hanya mengkonsumsi jamu, media memberitakan mereka secara berlebihan, seolah-olah itu adalah kebenaran mutlak. Muncul narasi bahwa ramuan herbal Indonesia terbukti menyembuhkan orang dari virus corona. Setelah itu dapat kita saksikan apa yang terjadi terhadap penjualan jamu. Padahal belum ada penelitian medis yang membenarkan hal tersebut.

Di sisi yang lain, ketika media memaparkan bermacam obat meskipun belum terverifikasi oleh pihak berwenang, media massa berjasa mempromosikan produk tersebut di tengah masyarakat yang panik dan sedang membutuhkan obat penangkal corona. Dengan dibesar-besarkannya obat cacing oleh media, membuat penjualan obat cacing tersebut meningkat pesat. Rakyat berbondong-bondong membeli obat cacing itu secara online maupun offline. Kekurangan literasi anak bangsa mengenai ampuh atau tidaknya obat cacing terhadap covid-19 menjadi semacam keberuntungan tersendiri bagi perusahaan obat cacing dan media sebagai marketingnya.

Karena panik dan setengah putus asa rakyat percaya berita itu. Namun setelah rakyat meminum obat cacing itu, muncul penjelasan dari BPOM bahwa obat cacing tidak bisa dijadikan sebagai obat corona karena mengandung zat kimia yang memberikan efek samping yang cukup berbahaya bagi penggunanya. Rakyat yang telah meminum obat cacing itu menjadi muak dan menganggap media sebagai marketing. Kemudian banyak masyarakat yang awalnya percaya dengan covid-19 mengubah pandangan mereka dan menganggap bahwa covid-19 adalah akal bulus kapitalis dalam memiskinkan umat manusia. Dan di sinilah kita hari ini.

5 Agree 4 opinions
4 Disagree 4 opinions
5
4
profile picture

Written By Vaath

This statement referred from