Flat Earther: Cuma Sekumpulan Orang Penggila Teori Konspirasi
Penganut paham bumi datar memang luar biasa. Mereka bahkan sampai “beriman” jika bumi itu datar. Mike Hughes, penganut paham bumi datar yang sangat militant, lebih dari sekali sukses meluncurkan roket berawak rakitan sendiri (home made). Sayang, pada peluncuran roketnya yang terakhir pada 2020 lalu dia belum juga berhasil mengambil foto bumi yang datar, bahkan harus kehilangan nyawa karena gagal menyelamatkan diri saat roketnya jatuh. Sampai sekarang, mungkin cuma Mike Hughes satu-satunya penganut paham bumi datar yang berani mengambil resiko besar membuktikan hipotesa flat-earth. Mengambil resiko besar sampai kehilangan nyawa, apalagi kalau bukan orang beriman.
Sebenarnya ada acara yang lebih murah, mudah sekaligus aman untuk membuktikan kalau bumi itu datar atau bulat. Jika kemampuan matematis dan pengetahuan fisika anda rendah, maka lihat saja foto-foto satelit dari badan antariksa seperti NASA yang bertebaran di berbagai situs. Di era internet,akses untuk mendapatkan informasi tentang bumi dan alam semesta sangat mudah. Perkembangan sains selalu dipublikasikan, foto terbaru dari teropong Hubble atau yang lainnya selalu dipublikasikan. Hasil penelitian terbaru juga selalu dibagi, tidak pernah ditutupi. Dari publikasi ini kita tahu sekarang jagad raya sudah mulai terpetakan meskipun belum sempurna, gambar benda-benda langit sudah bisa disajikan dengan resolusi tinggi bahkan blackhole sudah bisa diambil gambarnya. Satelit juga sudah bisa menyajikan foto bumi secara akurat. Astronot yang sedang spacewalk juga sering iseng memotret gambar bumi. Namun rupanya semua itu tidak pernah bisa meyakinkan flat-earther bahwa bumi itu bulat. Salah satu penyebabnya - bahkan mungkin penyebab utama dan satu-satunya- adalah mereka sudah meyakini kalau konsep bumi bulat adalah hasil konspirasi yang sengaja dibuat untuk menyesatkan banyak orang. Foto-foto yang dirilis NASA katanya adalah hasil Photoshop. Semua pengetahuan hasil penelitian dan observasi selama ini tidak pernah dianggap. Mereka malah mempercayai yang sebaliknya. Bumi dipercaya adalah sebuah piringan dengan Lingkaran Arktik di tengahnya. Antartika,menurut mereka, adalah dinding es setinggi 150 kaki yang mengelilingi piringan bumi. Di berbagai forum flat-earther mengklaim bahwa NASA menempatkan pasukan menjaga dinding es ini untuk mencegah orang mendekatinya. Mereka juga mengatakan bahwa gravitasi bumi adalah ilusi, dan benda tidak jatuh ke bawah. Sebaliknya, piringan Bumi mempercepat mereka ke atas oleh kekuatan mistik yang disebut 'energi gelap'. Hal ini sebenarnya dapat dengan mudah dibantah oleh teori relativitas Einstein. Mereka juga yakin bahwa perangkat GPS dimanipulasi untuk membuat pilot pesawat terbang berpikir bahwa mereka sedang terbang dalam garis lurus di atas sebuah bola, tetapi sebenarnya mereka terbang dalam lingkaran di atas piringan Bumi. Hampir semua penganut bumi datar meyakini teori konspirasi ini. Ilmuwan NASA dan para fisikawan atau matematikawan dari jaman Yunani kuno sampai sekarang, dicurigai merupakan organisasi rahasia yang secara turun temurun menjalankan misi penyesatan. Apa tujuannya? Kurang paham, mungkin menurut mereka semacam panitia penyambutan Dajjal. Orang-orang yang ingin menjauhkan umat manusia dari Sang Khalik, ingin menjadikan penduduk bumi atheis. Wess….angel…angel…Jangan-jangan Zakir Naik, mahaguru debat itu, bisa auto kafir kalau flat-earther tahu Zakir Naik ternyata penganut bumi bulat.
Maka, menghadapi kaum bumi datar tidak perlu repot ndalil dengan hukum fisika, matematika, atau argument sain apapun. Percuma. Keyakinan mereka kokoh tak tertandingi seperti semen merek lokal. Sudah saatnya kaum bumi bulat diam.Toh mereka pasti akan tetap ngeyel. Argumen orang-orang yang berkompeten dianggap palsu dan menyesatkan. Pernahkah kita menguji berapa banyak flat-earther yang punya latar belakang sains? Tapi ya sudahlah, kita berikan saja bolanya kepada kaum bumi datar. Kita tidak perlu terlalu ngotot. Toh mereka bukan orang-orang berbahaya. Sama seperti banyak orang Indonesia yang percaya dukun. Jika bumi memang datar, maka kita tinggal semangati mereka ke tepian (edge) bumi. Kita tunggu saja foto selfie-nya dan perdebatan yang bikin mulas inipun selesai. Kalau perlu, kaum bumi bulat menggalang dana untuk membiayai perjalanan kaum bumi datar mencari pinggiran piring bumi. Jangan lupa, buat petisi di Change.org agar pasukan NASA yang berjaga di tembok es tepian bumi agar jangan coba-coba menghalangi.
Ada beberapa alasan mengapa kita tidak perlu serius menanggapi orang-orang penggila teori konspirasi termasuk flat-earther. Pertama adalah dari cara berpikir (nalar) mereka. Cara berpikirnya seperti pemikiran mistik. Nalar mereka mirip kepada suatu keyakinan (iman) daripada ilmu. Diskusi se-ilmiah apapun tidak akan berfungsi sebab mereka mengunci pintu bagi kemungkinan kebenaran lain sedari awal. Oleh karena itu tidak perlu repot menyiapkan argument ilmiah, se-solid apapapun argumennya pasti dianggap palsu atau rekayasa. Kedua adalah soal cara mereka memperoleh informasi plus pengolahannya (akses-proses data). Penganut nalar konspirasi dikenal menyangkal semua informasi umum terkait data-data sains (data terbuka) yang telah dengan susah payah disajikan oleh orang-orang yang berkompeten. Hanya data-data yang mendukung keyakinan mereka saja yang digunakan. Dengan meyakini data mereka sebagai kebenaran tunggal, mereka lupa bahwa kesimpulan sains bersifat dinamis, yakni kebenaran lama otomatis batal dengan ditemukannya kebenaran baru.
Peneliti Abalakina-Paap, Stephan, Craig, & Gregory (1999) dan Grzesiak-Feldman (2013) menyatakan bahwa orang akan mendukung pemikiran konspirasi ketika mereka diliputi kecemasan, kondisi serba tidak pasti dan rasa tidak berdaya.
Lantas, apakah kaum bumi datar sedang merasa terancam ? Sulit menjawabnya, kita hanya bisa berspekulasi. Jika dilihat rata-rata penganut paham bumi datar adalah orang yang relijiyes, ada kemungkinan mereka sedang merasa bahwa kepercayaan mereka sedang terancam. Memang harus diakui, tren atheism sedang marak. Sudah banyak orang yang berani speak up mempertanyakan keberadaan Tuhan. Bahkan dikalangan ilmuwan, terutama fisikawan, ilmuwan biologi, banyak yang sudah terang-terangan tidak mengakui adanya Tuhan. Mungkin, sekali lagi mungkin, penganut paham bumi datar yang kebanyakan kaun religius merasa terancam keberadaannya. Mereka cemas dan berasumsi ilmu pengetahuan sudah dikuasai para atheis. Mereka khawatir para ilmuwan dengan teori-teorinya sekaligus fakta-faktanya akan menjauhkan manusia dari Tuhan. Maka mereka menganggap semua pengetahuan dari para ilmuwan palsu dan menyesatkan. Kebanyakan Flat-earther sering menggunakan kitab suci sebagai rujukan.
Tentu pemikiran seperti itu sangat tidak perlu. Mereka lupa bahwa masih banyak fisikawan, chemist, pakar biologi yang masih “beriman”. Jika anda sedikit lebih rajin googling tentang mereka pasti akan menemukan banyak ilmuwan yang tanpa ragu mendeklasrasikan diri sebagai orang yang percaya keberadaan Tuhan. Percaya bumi bulat sekaligus percaya keberadaan Tuhan.
Jika kita flashback ke belakang, membaca sejarah, kesimpulan bumi bulat adalah output dari sebuah proses pencarian yang panjang. Rasa penasaran manusia akan alam sekitarnya yang dilanjutkan dengan proses berpikir, observasi, menganalisa fakta dan data, lalu mengambil kesimpulan. Orang-orang yang mencari tahu ini (ilmuwan, saintis) tidak serta merta sedari awal tahu seperti apa bentuk bumi. Makanya mereka mencari tahu. Mereka awalnya juga tidak tahu jika bentuk bumi itu seperti apa, bulat, datar atau kotak. Sungguh tidak masuk akal jika mereka dicurigai sebagai bagian dari konspirator yang ingin menyesatkan.
Ilmu pengetahuan dan agama memang tidak selalu berjalan beriringan. Kitab suci bukan buku kumpulan pengetahuan. Itu adalah panduan moral, sikap dan karakter bagi manusia. Bukankah Kitab Suci dominan berbicara soal itu? Tidak peduli bumi datar atau bulat atau segitiga, spiritual manusia atau yang menyangkalnya akan tetap eksis. Apa kalau bumi itu datar lantas tidak ada orang yang atheis? Tidak ada jaminan. Apa kalau bumi itu datar lantas manusia bumi serta merta tunduk dan percaya kepada Tuhan? Belum tentu.