Tentang bentuk bumi; bila kita berbeda, pertanda akal kita bekerja!
A. Opening
Awali dengan membaca Basmalah, kemudian baca dan kaji ayat berikut ini;
وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الأرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dialah yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dia menjadikan padanya (semua) buah-buahan berpasang-pasangan (dan) menutupkan malam pada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”.
Shadaqallâh al-‘Adhim... Alhamdulillah kita sudah mendapat pahala dari membaca ayat suci Alquran di atas. Ada dua keyword yang ingin kita ulas pada QS. Ar-Ra’du ayat 3 tersebut. Pertama, lafal “مَدَّ” yang memiliki terjemah kata dalam bahasa Indonesia “menghamparkan, membentangkan, memanjangkan”. Kedua, lafal “يُغْشِي” yang berarti “menutupkan, menyelubungi, menutupi”. Ini kalau kita buka dan lihat di kamus Arab-Indonesia.
Setelah membuka kamus, ingat-ingat kembali pelajaran tata bahasa Arab dalam hal ini spesifik pada fan ilmu Sharf. Lafal “مَدَّ” adalah bentuk dari fi’il madhi, yaitu kata kerja yang menunjukkan keterangan waktu lampau atau sudah terjadi (past). Sedangkan lafal “يُغْشِي” adalah bentuk dari fi’il mudhari’, kata kerja yang menunjukkan keterangan waktu sedang (continous) atau akan terjadi (future).
B. Discussion
Dari pemilihan diksi dua lafal tersebut dalam satu ayat, ternyata Tuhan hendak menguji akal kita untuk berpikir (tafakkur) dan merenung dengan mendalam dan mendasar (tadabbur) peristiwa yang terjadi di alam semesta (kauniyyah) ini. Lantas kenapa Tuhan kok ingin menguji akal pikiran kita?. Tak lain agar kita bisa menyandang predikat makhluk hidup yang eksistensinya diperhitungkan sebagaimana dawuh paman René Descartes -si filosof kenamaan berkebangsaan Perancis- “cogito ergo sum” serta agar kita selaku manusia bisa terbedakan dengan makhluk hidup lainnya yang tak berakal, hal ini juga sebagaimana hasil konsorsium para intelek ilmu manthiq, “al-Insân Hayawân Nâthiq”.
Bagaimana agar akal kita ‘hidup’ dan ‘bekerja’? maka, kita munculkan sebanyak mungkin pertanyaan tentang dua lafal tersebut. Layaknya kaum penggiat dan penggila filsafat lainnya, bertanya untuk menemukan jawaban. Karena kita yang memunculkan pertanyaan tersebut berikut sepaket dengan jawabannya, tidak ada istilah kata ‘benar’ atau ‘salah’ kemudian. Akan tetapi, sesuai kenyataan (haqiqat al-wâqi’) atau tidakkah jawaban yang kita gali dan temukan itu?.
Bermula dari lafal “مَدَّ”, kita inventarisir beberapa pertanyaan; bagaimana bentuk atau tampang planet kita, yaitu bumi (الأرض)? Bulatkah atau datar (flat)? Kalau bulat kenapa Tuhan menggunakan lafal “مَدَّ”, bisakah sesuatu yang bulat itu kita hamparkan dan bentangkan?, tidak pernah dijumpai kalimat seperti ini, “hamparkan telur itu!”, “bentangkan bola itu!”. Dan juga jika bentuknya datar, siapakah penghuni empat ujung (barat, timur, selatan dan utara) muka bumi ini? Kok selama ini kita tidak pernah mendengar dan melihat orang-orang yang menahbiskan dirinya tinggal di ujung bumi? Serta pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Sebelum menjawab pertanyaan yang sedemikian rupa, mari sejenak kita kutap-kutip komentar para ahli tafsir berikut;
Imam at-Thabariy, si empunya kitab tafsir Jâmi’ al-Bayân menuliskan tentang tafsir QS. al-Ra’du ayat 3 dengan mengutip pendapat Imam Abu Ja’far,
قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: والله الذي مَدَّ الأرض، فبسطها طولا وعرضًا
“Allah adalah Dzat yang telah menghamparkan bumi dengan cara membentangkan panjang dan lebarnya”.
Dalam rumus matematika, panjang x lebar ditujukan untuk mencari luas bangunan berbentuk persegi. Bayangkan saja bumi ini berbentuk persegi! Lantas bila akal kita menolaknya mentah-mentah dengan bentuk atau tampang bumi yang sedemikian, bagaimana dengan penafsiran ulama’ di atas?. Biasakan sebelum tidak sependapat dengan orang lain, kita pahami betul apa sebenarnya yang mereka maksudkan dari pendapatnya. Jangan hanya karena kita enggan untuk berfikir lebih dalam tentang perkataan orang lain, kita malah terjerumus dalam jurang misunderstanding. Pernah di dengar dari sabda mulia nabi agung Muhammad Saw,
أُمِرْنَا مَعَاشِرَ الأَنْبِيَاءِ أَنْ نُكَلِّمَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ
“kita para nabi diperintah untuk berkomunikasi dengan umat sesuai kapasitas akal mereka”.
Nah, karena kitab suci Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw kemudian beliaulah yang menyampaikan secara verbal ayat-ayat tersebut kepada umatnya, maka Tuhan dengan sengaja memilih diksi lafal “مَدَّ” agar mudah dicerna dan dipahami oleh umat baginda Nabi Saw berdasarkan pengetahuan inderawi mereka secara mata telanjang bahwa bentuk bumi memang terlihat ‘flat’ sejauh mata memandang. Apakah pandangan seperti ini dibenarkan? Sekali lagi, kita tidak berbicara benar atau salah, tapi sesuai realita atau tidak.
Dalam diskursus filsafat, pernah muncul aliran Empirisme yang beranggapan bahwa Epistemologi (sumber pengetahuan) manusia diperoleh dari pengalaman yang ditangkap oleh panca inderanya tentang objek yang nyata. Sebagaimana mata kita memandang tentang bentuk bumi ini dari sudut yang datar, akan meniscayakan pengetahuan bahkan kepercayaan kita bahwa bentuk muka bumi memang terlihat datar. Apakah pengetahuan tersebut sesuai dengan fakta? wait dulu. Ingat, pengetahuan yang belum teruji keabsahannya secara ilmiah tidak bisa disebut dengan sebutan ‘Teori’.
Dengan ini menjadi jelas bahwa, kemungkinan besar apa yang disampaikan oleh Tuhan kemudian ditafsiri demikian oleh Imam Abu Ja’far dapat kita arahkan bahwa hal tersebut ditujukan kepada pengetahuan kasat mata para manusia yang berdiri di atas hamparan bumi yang datar. Oleh karena itu, komentar Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah dalam Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir kepunyaannya,
“Maksud dari membentangkan bumi secara memanjang dan melebar; ini tidak menafikan bahwa bumi berbentuk bulat karena ujung-ujungnya saling berjauhan sehingga terlihat oleh orang yang berada di permukaannya seakan-akan berbentuk datar”.
Beralih pada lafal “يُغْشِي”, Allah Swt menutupkan malam pada siang. Dari lafal ini timbul pertanyaan; jika bumi ini datar, lantas bagaimana Tuhan membungkuskan malam/gelap pada siang/terang sementara disisi belahan bumi lainnya ada yang malam dan ada yang siang? Menutupkan malam pada siang, berarti kan mengganti siang secara totalitas dengan malam? Kenapa tidak serempak satu waktu, malam ya malam semuanya, begitupula sebaliknya, siang berarti siang seluruhnya. Tidak ada yang siang di belahan timur dan malam di belahan barat dalam waktu yang bersamaan. Apakah ini pertanda bahwa bentuk bumi adalah bulat? Bukankah bila bumi datar semuanya akan satu waktu?.
Tentu secara logika, jawaban dari kegelisahan di atas akan mengarah pada jawaban bumi ini bulat. Bagaimana mungkin ketika kita menutupkan tudung saji pada makanan yang dihamparkan diatas meja makan, lantas makanan tersebut ada yang terkena sinar dan ada yang tidak. Kondisinya pasti makanan itu akan terlindungi dari cahaya atau sinar yang akan menerobosnya. Sama halnya dengan ketika tudung saji itu kita angkat dan buka, maka otomatis makanan akan terkena cahaya dan sinar. Itulah analogi malam dan siang dengan logika tudung saji.
C. Closing
Subhânallâh... maha suci Allah yang telah menjadikan dalam satu ayat dua pengertian yang saling memanjakan akal pikiran manusia untuk men-tafakkuri dan men-tadabburinya. Hanya cukup dengan dua kosa kata saja, tidak lebih. Inilah pilihan diksi bahasa Alquran yang penuh dengan hegemoni ta’ajjubiyyah, mencengangkan dan membuat geleng-geleng kepala para penyair yang hendak menandinginya tapi apalah daya. Bahasa Alquran melampaui ilmu sastra yang mereka kuasai.
Dari paragraf-paragraf di atas, kita bisa menarik konklusi bahwa Tuhan tidak pernah melarang hambaNya untuk berpikir dan mendayagunakan akalnya secara maksimal dan optimal, bahkan Tuhan memanjakan hambaNya untuk memfungsikan salah satu nikmat terbesar bagi manusia tersebut. Bolehlah bagi kita berusaha memahami bahasa Tuhan dengan segala perangkat keilmuan dan pengetahuan yang kita punya. Tiada larangan untuk itu. Soal beda pemahaman dan beda pendapat, itu masalah klasik yang telah menjadi sunnatullah fi al-kaun. Karena tanpa perbedaan, hidup tidak indah. Falyataammal!