Bumi Itu Datar!
Hal pertama yang perlu kamu ketahui ketika membaca tulisan ini adalah rasa optimisme yang meletup – letup di dalam diri penulis, rasa optimisme yang berhasil memberanikan penulis untuk menarikan jari – jemarinya di atas keyboard laptop dan merangkai opini mengenai sebuah statement yang masih menggemparkan masyarakat dunia saat ini.
Bumi itu datar!
Akhirnya, penulis dapat menuliskan kalimat itu dengan lantang tanpa takut diteror oleh para ilmuwan – ilmuwan kenamaan dari negeri Paman Sam. Rasanya begitu melegakan ketika akhirnya dirimu menemukan wadah yang tepat untuk mencurahkan segala opini nyelenehmu terhadap sebuah statement yang ditentang keras oleh masyarakat dunia.
Bumi itu datar!
Sebenarnya, permasalahan apakah bumi itu berbentuk datar seperti kertas HVS atau bulat seperti bola piala dunia, masuk ke dalam sebuah permasalahan yang persepsional. Ya, persepsional. Setiap orang seharusnya bebas mengumandangkan kepercayaannya, apakah ia percaya bahwa bumi itu berbentuk datar, atau apakah ia percaya bahwa bumi itu berbentuk bulat. Seharusnya tak menjadi masalah, toh?! Namun, kenapa masyarakat dunia sangat gencar memojokkan para penganut teori bumi datar hanya karena mereka kaum minoritas? Bukankah saat ini dunia kita telah menjunjung yang namanya kebebasan memilih?
Lucu rasanya ketika melihat seseorang berpendapat mengenai bumi datar, tetapi ia diserang bertubi – tubi oleh manusia – manusia berpikiran lempeng, manusia yang hanya bermodalkan bukti dari pihak ketiga. Sebenarnya, jika dibandingkan dengan para penganut teori bumi datar, tentulah para penganut teori bumi datar memiliki tingkat pemahaman yang lebih kritis dibandingkan dengan para penganut teori bumi bulat, sebab para penganut teori datar selalu memutar otak mereka untuk memanfaatkan keadaan di sekitar mereka dan membantah para penganut teori bumi bulat.
Well, well, well, seperti yang telah penulis sampaikan di beberapa paragraf sebelumnya, permasalahan apakah bumi itu bulat atau datar merupakan permasalahan yang persepsional. Seharusnya, permasalahan seperti ini dapat diposisikan sebagai masyarakat yang menganut agama – agama yang berbeda, apapun agama yang mereka anut, mereka masih mampu menciptakan harmoni di dalam lingkungan sosial. Namun, kenapa ya… hal yang sama tak bisa terjadi diantara para penganut teori bumi datar dan penganut teori bumi bulat?
Bumi itu datar!
Suka tidak suka, kepercayaan bahwa bumi berbentuk datar telah lebih dahulu lahir di dalam kehidupan masyarakat kuno dan kepercayaan ini jugalah yang telah mendorong lahirnya berbagai peradaban – peradaban kuno yang begitu luar biasa, seperti Peradaban Yunani Kuno, Peradaban Mesir, Peradaban Mesopotamia, serta beberapa peradaban lainnya. Hanya bermodalkan pemahaman minim mereka, mereka dapat menyimpulkan bahwa bumi berbentuk datar dan luar biasanya, dengan pemahaman tersebut, mereka mampu membangun peradaban kuno yang harumnya masih terasa hingga saat ini.
Sebenarnya, penulis tak berminat untuk mengadu para penganut teori bumi berbentuk datar dan bumi berbentuk bulat di laman tulisan ini. Namun, penulis hanya hendak memantik pemahaman di dalam kepala para pembaca sekalian, tentang bagaimana teori bumi datar yang saat ini ditentang mati – matian oleh lebih dari 50% masyarakat dunia, nyatanya pernah menjadi pemahaman yang melandasi lahirnya peradaban kuno yang begitu luar biasa.
Suka tidak suka, teori bumi berbentuk datar pernah menemani perjalanan hidup manusia dan menyempurnakan peradaban manusia, karenanya, rasanya begitu tak adil jika masyarakat dunia saat ini mencoba untuk membunuh habis – habisan para penganut teori bumi datar.
Seharusnya, kepercayaan terhadap sebuah teori, apakah bumi itu datar atau bulat, menjadi hak bebas bagi seluruh masyarakat. Tak perlu ada saling adu argumentasi yang berujung pada perpecahan, terlepas dari argumentasi bentuk sebenarnya dari bumi, bukankah pada akhirnya, kita tetap tinggal di bumi ini?
#flatearth