Bentuk Bumi Bulat atau Datar Kita Tetap Bijak dan Saling Menghargai

profile picture Dewi Sholichah

Semua kurikulum sekolah mengklaim bahwa bentuk bumi yang kita pijak ini adalah bulat dan guru menerangkan melalui globe yang ada disetiap ruang kelas. Namun mayoritas para siswa tidak mengetahui bahwa ada ilmuwan lain yang mengatakan bahwa bentuk bumi itu datar dan tidak ada gravitasi bumi. Sehingga sebagian besar siswa termasuk kita yang awam terkaget-kaget, bahkan mencibir dan menertawakan, mengapa hal itu bisa terjadi ? Karena informasi yang didapat bertahun-tahun bahkan puluhan tahun klaim bumi bulat. Tidak melakukan penelitian atau menganalisis. Hanya membaca, kata guru atau orang tua saja. Ya, memang keterbatasan ilmu kita membuat kita kadang melecehkan orang lain yang tidak sama dengan kita. Padahal wilayah ilmu itu wajar bila berbeda. Seperti saat belum ditemukannya mesin, kendaraan hanya menggunakan kuda, keledai atau unta. Bahkan mungkin ditertawakan juga saat ada yang mengatakan kalau nanti kita bisa mengobrol walau jaraknya berjauhan tanpa kabel. Sungguh teknologi terus berkembang, bisa jadi  tahun 3000 mendatang akan seperti apa teknologi, yang jelas berbeda jauh dengan keadaan sekarang. Benar para Nabi utusan Allah mengajarkan agar kita beradab dulu sebelum berilmu, agar kita semakin bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat dan bila berdiskusi akan saling menghargai. Jangan sampai hanya karena masalah Flat Earth atau Globe Earth kita jadi saling menistakan, mengejek bahkan bermusuhan. Pendapat berbeda tentang bumi datar atau bumi bulat jangan sampai merusak keimanan kita bahwa Allahlah yang Maha Segalanya, hingga masalah bentuk saja manusia masih belum bisa membuktikan dengan sempurna ini menunjukkan betapa lemahnya ilmu manusia. Perbedaan pendapat itu bagaikan kita duduk bareng sahabat, saya lebih suka minum kopi  sedangkan sahabat saya lebih suka minum teh. Walau berbeda minuman, makanan, suku bangsa,  berbeda cara pandang atau berbeda rumus dalam mengatasi problema hidup tak jadi masalah kita tetap bersaudara. Karena sejatinya pelangi itu indah karena berbeda warnanya. Lukisan nampak menakjubkan karena ada perpaduan nuansa warna berbeda yang indah dan memukau setiap mata memandang. Kita lahir ke dunia pun karena berbedanya orang tua kita, berbeda laki-laki dan perempuan. Begitu pun alam semesta yang luas luar biasa dengan pernak perniknya berbeda bentuk dan warna semua punya ciri khasnya sendiri.

Seperti pendapat para sahabat nabi, ulama, ilmuwan, juga rakyat jelata harus tetap saling menghargai, berbagai perbedaan itu menjadikan kita semakin bijak dalam bertindak.

Semua teori atau asumsi  tak semuanya tetap, namun semua akan berubah bila ada yang membantahnya dan menyertakan bukti yang lebih kuat dan logis. Seperti teori Globe Earth atau Flat Earth hingga saat ini masih terus hangat diperbincangkan. Para ilmuwan dengan amanah ilmunya berhak berpendapat yang berbeda dari teori sebelumnya, begitu pun kita bebas berpendapat walau pun tidak turut meneliti, selama kode etik komunikasi tidak dilanggar boleh kita saat berkomentar atau berpendapat menyelisihi yang lain.

Menurut teori Globe Earth bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Sedangkan menurut Flat Earth justru sebaliknya bumi yang diam, matahari dan bulan mengitari bumi.

Apa pun asumsinya apa pun teorinya semua itu mengacu pada satu perintah Allah dalam Al-Quran surat yang pertama kali diwahyukan kepada Nabi Mahammad Saw. yaitu surat Al-'Alaq ayat 1 yang berbunyi "iqra" yang artinya bacalah ! Ayat ini bukan kita diperintah untuk membaca apa yang ada pada naskah atau pada teks, sebab bila kita kaji dari berbagai sumber riwayat turunnya ayat ini malaikat Jibril tidak membawa teks tertulis untuk dibaca, jadi membaca tidak harus dari teks atau naskah tertulis, tapi bisa membaca realita atau fenomena yang ada seperti fenomena sosial, fenomena alam dan lain sebagainya. Bahkan ada kaidah yang menyatakan bahwa apabila suatu kata kerja yang membutuhkan objek tetapi tidak disebutkan objeknya, maka objek tersebut bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang bisa dijangkau oleh kata tersebut. Karena objek kata iqra tidak disebutkan maka arti iqra bukan sekedar baca teks atau naskah, tapi bermakna meriset, menelaah, merenungkan, bereksperimen dan sebagainya. Bacaan bisa kitab suci, hadits Nabi, atau hasil karya manusia, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Kata iqra dalam ayat ini disertai dengan kalimat bismi rabbikal ladzii khalaq yang artinya dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Kita bisa melihat bahwa Allah Swt. mengaitkan kata "membaca" dengan "nama Allah" tujuannya adalah agar pelakunya selalu melakukan kegiatan yang bersifat ilmiah dengan keikhlasan hanya mencari keridhaan Allah Swt. Sehingga ilmu yang didapatkannya semakin membuat dirinya merasa takut kepada-Nya. Memang fakta di lapangan berbicara bahwa manusia sering lupa diri saat kegiatan ilmiahnya menghasilkan sesuatu yang dianggap hebat, arogansi intelektual sedikit menyelinap ke dalam relung hatinya, merasuk menghunjam hingga merasa diri paling hebat, paling benar yang lain salah semua. Agar hal seperti ini tidak terjadi, maka Allah membingkai dan memagari dengan kalimat bismi rabbikal ladzii khalaq artinya dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan, sehingga kegiatan ilmiah berupa membaca, menganalisis, meriset atau meneliti tidak mengantarkan seseorang pada sifat sombong, justru sebaliknya semakin merasa kecil, merasa tak berdaya di hadapan Allah Swt. bahkan semakin menyadari bahwa ilmu Allah itu Mahaluas tak terhingga.

Kembali pada asumsi bumi bulat atau bumi datar semua adalah pendapat yang punya argumen masing-masing, intinya kita tetap saling menghargai tak ada benci atau dengki justru para ilmuwan semakin senang bila ada teori atau hasil riset yang lebih baik dari dirinya. Seperti menurut Nikola Tesla dalam buku Klaim Serius Bumi Datar halaman 92 (Putro Cahyo W.) bahwa matahari bergerak secara nirkabel (tanpa kabel) pada medan elektromagnetik. Tesla berpendapat bahwa bumi adalah pusat dari tata alam semesta. Elektromagnetik menjadi bantahan Tesla terhadap teori Gravitasi Issac Newton, yang disamakan menjadi penyebab bulan mengorbit bumi.

Dalam buku The Flat Earth Conspiracy (Eric Dubay) Bukti-bukti ilmiah yang mengungkap bahwa bentuk bumi bukan bulat tapi datar menjelaskan dengan sangat detail tentang bukti bumi itu datar diantaranya, bumi yang diam tidak berputar, air diam adalah air yang datar, kaki langit yang selalu horizontal, non-kurvatur bumi datar yang dapat diukur, pencerahan mengenai bumi datar melalui mercusuar, Terusan Suez dan rel kereta api membuktikan bumi itu datar, bumi datar dibuktikan oleh pilot dan pelaut, kutub Selatan itu tidak ada, Arktika  dan Antartika membuktikan bumi datar, matahari tengah malam membuktikan alam semesta ini sesuai dengan paham Geosentris, polaris sang bintang kutub Utara adalah asumsi atau pendapat sebagian ilmuwan dalam hasil penelitiannya. Demikian juga yang berpaham bumi bulat punya argumen sendiri.

Kita sebagai masyarakat biasa yang hanya mampu membaca tanpa meneliti hanya menelan penjelasan guru atau membaca dari media sosial sebaiknya lebih bijak dalam berkata dan terus jadi pribadi pembelajar sejati bukan hanya mencaci tanpa ilmu yang mumpuni. Intinya apapun paham kita tentang bentuk bumi jangan sampai merusak keimanan kita kepada Sang Pencipta bumi dan seluruh jagat raya ini. Tak mampunya kita mengungkap tentang bumi yang sebenarnya ini menunjukkan bahwa ilmu manusia sangat sedikit dan sangat terbatas, maka tak layak kita arogan atau saling merendahkan antar sesama manusia. Kita harus semakin cerdas dan kita harus mampu menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat dan menjadi amal jariah saat kita telah tiada, jangan hanya bisa mencibir bahkan melecehkan temuan para pakar atau ilmuwan. Minimal kita mampu memetik hikmah dan pelajaran dari perbedaan pandangan para ilmuwan dan kita termotivasi agar terus nenjadi pribadi pembelajar hingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan terus belajar tentang berjuta ilmu dan misteri alam yang belum terungkap. Wallaahu 'alam.

Referensi :

1. Tafsir Al-Hikmah Tafsir Kontemporer Juz 'Amma. Cetakan kedua, tahun 2021. Dr. Aam Amiruddin, M.Si. Penerbit Khazanah Intelektual.
2. The Flat-Earth Conspiracy. Cetakan kedua, tahun 2017. Eric Dubay. Penerbit Bumi Media.
3. Klaim Serius Bumi Datar. Cetakan pertama, tahun 2018. Putro Cahyo W. Penerbit CV Jejak.

1 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
1
0
profile picture

Written By Dewi Sholichah

This statement referred from