Jangan Menikah! Diskusikan 8 Hal Ini Dengan Pasanganmu Dahulu

profile picture Evitanujaya
Lifestyle - Other

Menikah merupakan proses dalam kehidupan yang bisa mengubah hidup seseorang hanya dalam waktu satu malam. Oleh karena itu, sangat wajar, jika diawal pernikahan, pasangan suami istri akan menemukan banyak perbedaan yang kadangkala bisa menyebabkan pertikaian. Kerikil dalam rumah tangga adalah hal yang lumrah, karena pada dasarnya, suami dan istri adalah dua manusia yang berbeda yang “terpaksa” harus memiliki pemikiran sejalan dan harus saling mengerti.

Tentunya, tidak ada pasangan suami istri yang ingin berpisah hanya karena konflik kecil. Siapa sih yang tidak ingin pernikahannya langgeng dan bisa menua bersama pasangan? Jadi, bagi kalian yang belum menikah, JANGAN MENIKAH DAHULU! Kalian perlu diskusikan 8 hal ini sebelum menikha, untuk menghindari konflik yang bisa berujung perpisahan.

 

 

Tempat tinggal setelah menikah

Percayalah, tempat tinggal akan menentukan keharmonisan pernikahan kalian. Diskusikan bagaimana dan dimana kalian akan tinggal dan bersama dengan siapa. Bahas bersama, apa keuntungan dan kerugian memilih pilihan tersebut. Bicarakan rencana kedepannya juga, apakah akan terus tinggal disana, atau ada rencana pindah dalam kurun waktu tertentu. Ini beberapa opsi tempat tinggal yang bisa kalian diskusikan:

Tinggal dengan mertua atau anggota keluarga lain

  • Diskusikan siapa saja yang akan ada di dalam rumah tersebut.
  • Bagaimana privasi pasangan kelak.
  • Bagaimana sikap pasangan jika terjadi konflik antara pasangan dan mertua atau anggota keluarga lain.
  • Mau berapa lama tinggal bersama dengan mertua atau anggota keluarga lain.
  • Bagaimana tugas masing-masing orang yang tinggal dirumah tersebut.

Memilih kos atau kontrakan

  • Segera pilih lokasi sebelum menikah.
  • Rencanakan berapa lama tinggal disana, dan langkah selanjutnya.
  • Perhatikan kondisi lingkungan, apakah privasi pasangan terjaga, apakah aman untuk anak tinggal disana.
  • Bagaimana jika ada anggota keluarga yang ingin menginap.
  • Bagaimana peran masing-masing suami dan istri dalam menjaga kos atau kontrakan tersebut.
  • Diskusikan bagaimana usaha untuk membayar kos.

Tinggal dirumah sendiri

  • Apakah rumah tersebut adalah hasil beli salah satu pihak, warisan, atau dicicil bersama. Hal ini penting karena akan mempengaruhi keuangan kalian kedepannya. Jika berupa warisan, pastikan semua sudah selesai secara hukum, untuk menghindari konflik keluarga besar nantinya.
  • Bagaimana jika nanti tiba-tiba ada salah satu pihak keluarga yang mau tinggal disana dalam waktu yang lama.
  • Bagaimana pembagian tugas suami dan istri di dalam rumah.
  • Jika rumah masih dalam cicilan, siapa yang akan membayar.

Penghasilan, tanggungan, hutang piutang

Tidak perlu sungkan membicarakan masalah keuangan dengan pasangan. Keuangan adalah salah satu hal yang sangat sensitif, apalagi jika sudah menikah. Saling terbuka masalah penghasilan satu sama lain, jangan ditutup-tutupi. Berikutnya, bicarakan berapa beberapa hal dibawah ini

  • Berapa penghasilan calon suami atau calon istri kalian saat ini.
  • Nafkah yang akan diterima sang istri, sebutkan nominal kemungkinan terkecil. Dan jika suami mendapatkan penghasilan tambahan, apakah nafkah istri juga akan naik.
  • Siapa yang akan mengelola keuangan. Apakah semua pemasukan akan dikelola suami atau istri, istri hanya akan menerima nafkah, atau memiliki pemikiran lain.
  • Bagaimana keuangan dalam rumah tangga kalian bergerak. Artinya apakah istri juga akan bekerja nantinya, dan bagaimana pengelolaan penghasilan istri.

Berikutnya, bahas juga masalah tanggungan, karena tentunya ini akan mempengaruhi pemasukan suami istri.

  • Apakah calon suami dan calon istri ada tanggungan keluarga? Misalkan menanggung biaya sekolah saudara, membiayai orang tua, memberikan uang jajan kepada adik, dll.
  • Sampai kapan akan menganggung biaya tersebut.
  • Jika keuangan kalian kedepannya mengalami cobaan, apakah bersedia mengurangi uang tanggungan?
  • Apakah keluarga atau orang yang ditanggung sanggup apabila uang yang diberikan berkurang, jika tiba-tiba kedepannya terjadi goncangan keuangan di rumah tangga kalian? 

Jangan lupa untuk berdiskusi masalah hutang piutang sebelum menikah. Kalian bisa bicarakan hal berikut:

  • Apakah ada hutang yang diakibatkan pasangan yang terjadi saat ini? Jika ya bagaimana cara pelunasan kedepannya? Akan ditanggung sendiri atau perlu melibatkan pasangan?
  • Apakah ada hutang keluarga yang harus ditanggung oleh pasangan? Jika ya, mau sampai kapan menanggungnya? Dan bagaimana jika anggota keluarga calon suami atau calon istri melakukan hutang kembali?
  • Bicarakan bunga hutang yang ditanggung.
  • Apabila ada piutang, diskusikan kapan akan dilunasi, siapa yang dihutangi dan siapa yang akan menagih.

Anak dalam pernikahan

Saat ini, sudah mulai banyak orang yang memiliki pemikiran ingin childfree dengan berbagai alasan. Walau belum menikah, ada pula yang sudah memikirkan mau memiliki jumlah anak berapa. Untuk memperkecil konflik, mari bahas bersama pasanganmu!

  • Apakah memutuskan childfree atau memiliki anak?
  • Berapa jumlah anak yang diinginkan?
  • Apakah ada biaya yang cukup dalam membesarkan anak?
  • Jika nanti salah satu dari kalian tidak bisa memiliki anak, langkah apa yang akan diambil?
  • Jika jumlah anak kedepannya tidak sesuai ekspetasi, bagaimana menyikapinya?
  • Apakah akan sabar menunggu bila memerlukan waktu yang agak lama dalam memiliki anak?
  • Setelah menikah ingin segera memiliki anak atau menunda dalam kurun waktu yang ditentukan?
  • Rencana KB.
  • Jika keduanya bekerja, siapakah yang akan mengalah atau yang akan mengasuh anak.
  • Sikap pasangan apabila nantinya ada dari pihak keluarga yang terlalu ikut campur masalah anak.
  • Sikap calon suami apabila nanti istri babyblues atau semacamnya.
  • Kerjasama suami dan istri dalam membesarkan anak. Perlu diingat, anak bertumbuh perlu peran dari kedua orang tua dalam hidupnya. Peran yang dimaksut bukan hanya masalah keuangan, tapi kehadiran dan turut campurnya dalam pertumbuhan dan pendidikan anak.

Visi misi dalam rumah tangga

Rumah tangga adalah kerjasama antara suami dan istri, untuk mereka bisa hidup bersama hingga maut memisahkan. Penting untuk menyatukan visi misi kalian kedepannya, agar bisa berada dijalan yang sama. Visi dalam rumah tangga bisa masalah rumah, pemasukan, pendidikan, liburan keluarga, dll.

Sakit atau penyakit yang di derita

Terbuka pada pasangan, tentang sakit atau penyakit yang saat ini sedang ada dalam tubuh kalian. Ini untuk melindungi pasangan kalian, dan juga mengetahui, apakah pasangan kalian mampu menerima kekurangan dalam diri kalian. Pasangan juga perlu tau, semisal kedepannya penyakit tersebut kambuh, bagaimana penangannya. 

Pastikan juga apakah penyakit ini bisa menular kepada pasangan atau keturunan kalian kelak. Akan lebih baik lagi, apabila pasangan melakukan premarital check up di pusat kesehatan terdekat.

Kondisi keluarga besar masing-masing

Saling terbuka mengenai kondisi keluarga besar itu juga perlu. Bukan bermasut membuka aib, tetapi menikah bukan hanya menyatukan dua orang, melainkan dua keluarga besar. Beberapa pernikahan gagal hanya karena “bentrokan” dengan keluarga dari calon besan.

Selain itu, dengan mengetahui sifat atau kondisi keluarga besar, juga membantu suami atau istri kalian nantinya tidak akan kaget, dan lebih memahami saat terjadi suatu insiden. Contoh, keluarga istri mempunyai tradisi, tidak boleh seorang anak makan terlebih dahulu daripada orang tua. Jadinya saat bertemu keluarga besar, pasangan kalian akan tau apa yang harus diperbuat, untuk menampilkan kesan positif.

Tugas dan peran rumah tangga

Terlepas dari masalah budaya patriaki, pembagian peran masing-masing pasangan dalam menjalankan rumah tangga perlu di diskusikan.

  • Apakah tugas suami dan istri kelak?
  • Bagaimana pembagian tugas rumah tangga, dan peran orang tua nantinya?
  • Apakah diperlukan ART?
  • Apakah tidak masalah menggunakan jasa orang lain untuk menyelesaikan masalah rumah tangga, seperti laundry atau pesan makanan online?
  • Bagaimana dengan hubungan pertemanan kedua belah pihak ketika menikah?

Perjanjian pranikah (bila perlu)

Terlepas dari itu semua, diskusi diatas hanyalah sebatas pembicaraan antara calon suami dan calon istri. Jika kalian mau lebih meyakinkan, dan berkekuatan hukum, maka pertimbangkan untuk membuat perjanjian pranikah di hadapan notaris. 

Perjanjian pranikah bisa berisi hasil diskusi kalian diatas. Mulai dari masalah harta, peran rumah tangga, hingga konsekuensi jika ada yang melanggar dan berkhianat. Perlu diingat, perjanjian pranikah bukan berarti surat ancaman, atau jaminan bahwa akan bercerai kemudian hari, namun murni untuk melindungi pernikahan, dan apa yang kalian punya.

Tidak perlu sungkan untuk melakukan diskusi terbuka bersama pasangan, sebab suami istri yang bahagia, akan melahirkan anak bahagia, dan membentuk keluarga yang bahagia. Tujuan menikah pun salah satunya adalah untuk berbahagia bersama pasangan hingga tua. 

0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By Evitanujaya

This statement referred from