Tren Hallyu di Indonesia, Ini Alasan Fandom K-Pop Sering Kena Ejek

profile picture salma.rihhadatul
Lifestyle - Musik

Beberapa tahun belakangan, budaya Korea Selatan mulai mendunia bersamaan dengan berkembangnya industri hiburan asal Korea Selatan ini. Industri hiburan Korea Selatan yang terlihat sangat serius dalam hal ini membuat gelombang Korea (Korean Wave) atau dikenal juga dengan Hallyu, semakin meluas ke seluruh dunia.

Istilah Hallyu sendiri merujuk pada tren dunia hiburan asal Korea Selatan yang semakin berkembang dan menjadi kiblat budaya baru di banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Anak-anak muda di negara kita saat ini sedang keranjingan budaya Korea. Tidak heran, budayanya yang dikemas menarik dan segar lewat produk-produk hiburan menjadikan budaya Korea mudah diterima oleh kawula muda.

Dilansir dari liputan6.com, Hallyu mulai berkembang pada sekitar akhir abad 20 (1990-an) hingga awal abad 21. Budaya Korea, yang dikemas dalam produk-produk hiburan seperti K-drama dan K-movie (serial dan film Korea), K-pop (musik pop Korea), K-food (makanan Korea), K-fashion (tren busana gaya Korea), hingga K-beauty (tren kecantikan Korea) kemudian mulai berkembang dan merajai pasar di banyak negara di seluruh dunia.

Korean Wave di Indonesia

Di Indonesia sendiri, budaya Korea menempati posisi tersendiri di tengah-tengah masyarakat, terutama anak-anak muda. Yang paling tren adalah musik popnya. Musik pop Korea (K-pop) yang dibawakan oleh solois serta boy dan girl group membentuk fandom-fandom (grup penggemar) masing-masing di kalangan para penggemar K-pop. Apalagi setelah pandemi ini, konser-konser K-pop baik tunggal maupun gabungan banyak digelar di Indonesia, kepopuleran K-pop kemudian mulai terdengar di kalangan non-fans.

Semakin populer K-pop tentu saja menjadikan fandom-fandom K-pop semakin besar dan banyak. Tidak hanya fandom, haters (pembenci) juga mulai bermunculan ke permukaan. Haters ini sebenarnya bisa terbentuk dari kalangan non-penggemar K-pop ataupun sesama fandom K-pop sendiri. Dari kalangan non-penggemar, rasisme menjadi alat terkuat haters untuk mengekspresikan ujaran kebencian terhadap artis dan idola K-pop. Julukan seperti wajah plastik, laki-laki cantik, sipit, dan lain sebagainya menjadi bahan ejekan paling sering yang digunakan non-penggemar K-pop dalam menjalankan aksi ujaran kebencian mereka.

Terakhir kemarin saat gelaran konser Neo City: Jakarta, The Link (konser tunggal grup idol laki-laki NCT 127) awal November kemarin. Berita konser ini sampai muncul berkali-kali di hampir semua siaran kanal televisi nasional. Beritanya yang disiarkan tidak jauh berputar pada kejadian rusuh yang sempat terjadi pada hari pertama konser dan heboh ancaman bom pada pagi hari sebelum konser berlangsung. Puncaknya, konser hari pertama terpaksa diberhentikan di tengah jalan.

Hal-hal tidak menyenangkan bagi fandom penggemar grup ini tidak sampai di situ saja. Unggahan instagram yang menampilkan foto bersama member NCT 127 dan Jerome Polin, salah satu influencer dalam negeri yang berkesempatan untuk wawancara dan bertemu langsung dengan para member NCT 127 ramai dibanjiri komentar berbau ejekan dan rasisme dari kalangan non-fans. Jerome Polin sampai harus menonaktifkan kolom komentar demi menghentikan komentar buruk tersebut. Tidak hanya itu, beberapa influencer juga ikut-ikutan pansos dengan membawa-bawa nama boy group asal Korea Selatan tersebut.

Ini Alasan Penggemar K-pop Dipandang Buruk

Sebenarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan non-penggemar K-pop menjadikan penggemar K-pop sebagai bulan-bulanan bahan ejekan di media sosial. Alasan-alasan logis seperti tindak fanatik dan anarkis menjadi alasan paling umum yang membuat non-penggemar geleng-geleng kepada menyimak kelakuakan fandom K-pop. Alasan tidak masuk akalnya juga banyak, banyak pula haters yang tanpa dasar apapun justru membenci idol dan artisnya. 

Berikut poin-poin alasan mengapa penggemar K-pop sering kena bully dari kalangan non-penggemar,

  1. Dinilai terlalu fanatik

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dari sebuah fandom penggemar K-pop, pasti ada beberapa penggemar yang dinilai terlalu fanatik dan berlebihan dalam memuja dan mengidolakan idolanya. Beberapa penggemar membela secara berlebihan idol mereka yang terkena ejekan. Tidak jarang aksi bela membela ini berujung pada tindakan konyol yang memalukan, yang juga membuat penggemar lain dalam fandom merasa malu dengan oknum-oknum fanatis ini. 

  1. Tindak anarkis dan toxic penggemar K-pop 

Tindak anarkis dan toxic dari penggemar K-pop juga sering ditemukan. Persentasenya memang cenderung sedikit jika dibandingkan dengan para penggemar lain yang adem ayem (hal ini membuat nama baik fandom secara keseluruhan ikut tercoreng), meski begitu, tindakan anarkis dan toxic dari penggemar K-pop sama sekali tidak dibenarkan.

Contohnya saja, saat konser The Link NCT 127 kemarin, beberapa penggemar anarkis sengaja menjatuhkan barikade pelindung di pinggir panggung demi mendapat item yang ingin dibagikan idola. Tindakan ini sangat merugikan karena menimbulkan kerusuhan dan korban. Sementara itu, tindakan toxic penggemar K-pop banyak terjadi antarfandom. Ejek-mengejek idola, war (pertengkaran) antarfandom dengan banyak kata-kata toxic dan ungkapan kebencian bisa ditemukan dalam dunia per-K-pop-an.

  1. Dinilai tidak cinta tanah air

Sebenarnya alasan ini adalah pandangan sepihak dari non-penggemar. Penggemar K-pop dinilai tidak cinta tanah air karena yang mereka idolakan adalah idola dan artis asal Korea Selatan, di saat masih banyak artis dan produk hiburan dalam negeri yang bisa dinikmati.

  1. Faktor lain

Ada beberapa non-penggemar dan haters K-pop yang melancarkan aksi kebenciannya murni dengan alasan iseng atau ikut-ikutan. Mereka bisa jadi murni membenci idola K-pop, atau hanya senang mengejek dan melihat reaksi dari para penggemar yang merasa tersinggung. 

Beberapa yang lain mengejek penggemar dan idola asal Korea Selatan dengan alasan rasisme dan toxic masculinity yang tidak masuk akal. Ego laki-laki yang terusik juga bisa menjadi faktor banyak non-penggemar K-pop mengejek penggemar K-pop. Mereka menilai laki-laki yang seharusnya maskulin (yang mengarah kepada toxic masculinity) tidak dapat ditemukan dalam idol laki-laki. Idol laki-laki K-pop dianggap lemah, cengeng, dan seperti perempuan karena selalu pakai kosmetik dan perawatan kulit. 

Penggemar K-pop Tidak Selalu Buruk

Terlepas dari alasan-alasan yang sudah disebutkan di atas, sebenarnya perkara fanatik ini tidak hanya ditemukan di kalangan K-popers. Meski begitu, seringkali kalangan non-penggemar hanya menyoroti fanatisme penggemar K-pop karena paling sering terlihat dan populasinya banyak. 

Kegemaran terhadap K-pop kembali kepada selera masing-masing. Faktor-faktor lain seperti kualitas produksi dan keseriusan industri dan agensi hiburan Korea Selatan dalam menggarap suatu proyek membuat sebagian orang menjadi penggemar K-pop. K-popers di Indonesia juga tidak lupa diri akan jati diri negaranya, sebagian besar penggemar hanya menjadikan K-pop sebagai hiburan dan hobi, tidak sampai menjadikan negara Korea Selatan sebagai kiblat atau menganggap Korea Selatan adalah negara sendiri. 

Buktinya, ketika terjadi bencana alam atau tragedi di Indonesia, K-popers Indonesia menjadi salah satu kelompok tercepat penggalangan dana (Tragedi Kanjuruhan, gabungan fandom K-pop menyumbangkan hampir 500 juta rupiah untuk korban), dan proyek-proyek sosial lain. Biasanya, event-event seperti ulang tahun idol menjadi ajang berbagi kebaikan dari para penggemar K-pop, membuktikan bahwa banyak hal positif yang bisa dilakukan oleh fandom-fandom K-pop.

Mengenai pemakaian kosmetik dan perawatan kulit, faktanya, kosmetik dan perawatan kulit bukan hanya untuk perempuan. Pekerjaan mereka sebagai penghibur (entertainer) dengan kultur K-pop yang mengedepankan visual mengharuskan mereka tampil sempurna di depan kamera. Tidak hanya itu, faktanya latihan koreografi dan fisik selama bertahun-tahun sebelum para idol debut justru menjadikan fisik dan mental mereka mayoritas kuat. Menangis juga bukan tanda bahwa mereka lemah. Menangis adalah respon manusiawi jika suatu individu merasa sedih atau terharu. 

Kelakuan fanatisme, anarkis, dan toxic dari fans k-pop ini sebenarnya wajar jika mengundang rasa geram dari kalangan non-fans. Yang tidak dibenarkan adalah ujaran kebencian, rasisme, dan ejekan berlebih yang ditujukan justru kepada idol atau artisnya yang notabennya tidak tahu apa-apa perkara kelakuan fans mereka (bahkan di beberapa kasus, idol sudah mengingatkan penggemar untuk tidak bertindak fanatis dan anarkis). Ejekan dan ujaran kebencian ini justru menjadikan haters Indonesia terlihat semakin memalukan dan tidak berkelas. Imbasnya, bisa jadi orang Indonesia secara keseluruhan yang dicap sebagai warganet terburuk karena tidak bisa menjaga ketikan, ulah oknum-oknum haters tersebut.

Memilih untuk menjadi non-penggemar atau penggemar sebenarnya sah-sah saja. Apapun jenis idolanya, mulai dari aktor, penyanyi, penulis buku, hingga mengidolakan seleb medsos, setiap penggemar punya hak dan kewajiban yang sama untuk saling menghormati preferensi terhadap idola masing-masing. 

Referensi : 

kompasiana.com. (2022). Pengaruh Budaya Hallyu di Indonesia Hasil dari Globalisasi? https://www.kompasiana.com/rinta2803/62b98d20bb448676a11fb8c2/pengaruh-budaya-hallyu-di-indonesia-hasil-dari-globalisasi. Diakses pada 12 November 2022.

detiknews. (2022). Fanatisme Penggemar K-pop di Media Sosial.  https://news.detik.com/kolom/d-6086053/fanatisme-penggemar-k-pop-di-media-sosial. Diakses pada 12 November 2022.

Liputan6.com. (2021).  Mengenal Hallyu, Demam Budaya Korea yang Menembus Batas Negara. https://www.liputan6.com/showbiz/read/4674948/mengenal-hallyu-demam-budaya-korea-yang-menembus-batas-negara. Diakses pada 12 November 2022.



 

20 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
20
0
profile picture

Written By salma.rihhadatul

This statement referred from