Gaya Hidup Hedonis Pada Fans K-pop
K-pop atau Korean pop merupakan genre musik popular yang berasal dari negeri ginseng, Korea Selatan. K-pop mulai mewabah berkat adanya Korean Wave, sebuah fenomena sosial yang hadir sebagai solusi dalam mengangkat perekonomian Korea Selatan yang mengalami krisis pada saat itu. Korean Wave berkembang semakin cepat berkat adanya globalisasi yang memudahkan semua orang dari berbagai belahan dunia untuk saling terhubung. K-pop sebagai bagian dari Korean Wave terbilang sukses mengangkat industri hiburan Korea dan menyelamatkannya dari krisis keuangan pada akhir tahun 1990-an.
Indonesia yang merupakan negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia menjadi target pasar yang potensial menjamurnya Korean Wave. Bisa dibilang, Indonesia menjadi rumah bagi jutaan fans K-pop yang tersebar di seluruh dunia. Pada tahun 2019, Twitter sempat mempublikasikan daftar negara yang men-tweet paling banyak mengenai artis K-pop sepanjang tahun itu dan Indonesia berada di peringkat ketiga setelah Thailand dan Korea Selatan. di lain hal, Indonesia menduduki peringkat ke-2 setelah Korea Selatan untuk penayangan video-video K-pop di Youtube.
Fanbase dari Indonesia memang terkenal dengan sifat loyal dan royalnya kepada idol-idol mereka. Mereka rela mengeluarkan sejumlah uang yang tak sedikit demi mendukung idola favorit mereka, dengan cara membeli tiket konser, album, merchandise, bahkan produk-produk yang di iklankan oleh idol kecintaan mereka. Mereka berpendapat bahwa, hal ini dilakukan tidak serta merta dengan tujuan men-support idol mereka, tetapi juga sebagai bentuk kepuasaan diri dan juga reward. Hal-hal dan pengalaman semacam ini terbilang berharga bagi mereka sehingga uang tak menjadi masalah. Dari sinilah, gaya hidup hedonis mulai terbentuk dalam diri seorang fans K-pop.
Hedonisme, secara etimologi berasal dari Bahasa Yunani “hedone” yang berarti kesenangan. Hedonisme adalah suatu ideologi atau cara pandang dalam hidup yang beranggapan bahwa kepuasan hanya dapat dicapai dengan mengutamakan kesenangan diri sendiri sambil mengabaikan atau menghindari emosi yang tidak menyenangkan. Jadi, sederhananya gaya hidup hedonis bisa dipahami sebagai pola hidup dimana seseorang cenderung membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan dan tak dapat digunakan dengan maksimal. Barang-barang tersebut merupakan media bagi mereka memperoleh kesenangan sesaat untuk mengabaikan perasaan-perasaan negatif atau situasi dan kondisi yang tak menyenangkan.
Gaya hidup hedonis tentu memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan seseorang. Sikap hedon ini dapat berujung pada kondisi keuangan yang tidak sehat. Selanjutnya, kondisi keuangan yang tidak baik dapat menganggu proses pemenuhan kebutuhan harian maupun bulanan seseorang. Di sisi lain, gaya hidup hedonis seakan menggantungkan kebahagiaan seseorang pada sesuatu yang mereka peroleh dari luar. Hal ini dapat memicu sifat ketergantungan yang tidak wajar terhadap sesuatu. Akhirnya, segala cara akan dilakukan demi memuaskan hasrat dan nafsu yang sudah menguasai. Gaya hidup hedonis juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang secara tidak langsung. Orang yang manganut ideologi ini cenderung memiliki sifat egois dan sombong. Mereka hanya memedulikan diri mereka sendiri dan bagaimana cara agar mereka bisa Bahagia. Sifat sombong juga dapat terbentuk dikarenakan oknum cenderung menilai seseorang berdasarkan tampilannya, yang tentunya tidak rasional.
Dampak buruk ini tentu bisa dicegah selama terdapat kesadaran dalam diri pelaku hidup hedonis ini. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengubah mindset konsumtif kita menjadi produktif. Kita harus bisa memilah dan membatasi kegiatan mana yang bersifat konsumtif dan kemudian menggantinya dengan kegiatan yang lebih produktif. Berikutnya, kita dapat membuat rancangan keuangan yang bersifat long term. Dengan begitu kita dapat menentukan prioritas terhadap hal-hal yang dibutuhkan dan diinginkan. Rancangan ini juga meliputi dana darurat atau investasi sebagai bentuk kepedulian kita terhadap diri kita sendiri di masa depan. Kemudian, perlu ditekankan juga pada diri kita sendiri bahwa hidup tidak dapat diisi oleh kebahagiaan saja. Dan menggantungkan kebahagiaan kita pada sesuatu bukanlah keputusan yang bijak. Kita perlu merasakan emosi lain dalam hidup sehingga kebahagiaan yang kita rasakan dapat lebih bermakna, dan mengenai kebahagiaan itu sendiri sebenarnya adalah cara pandang kita dalam menyikapi sesuatu. Tidak perlu sampai harus menguras dompet hingga kering, disaat kita sebenarnya dapat merasakan kebahagiaan dari hal-hal kecil.
Fangirling memang merupakan sebuah hobi dan tentu sah-sah saja dilakukan. Namun, kita juga harus tetap bijak dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan masa depan kita. Jika kita bisa mengekspresikan bentuk cinta kita kepada idol dengan melakukan kegiatan yang bersifat konsumtif, seharusnya kita juga dapat melakukan hal yang sama untuk diri kita. Dengan membagi semuanya dengan porsinya masing-masing, hidup akan terasa jauh lebih mudah dan menyenangkan karena tidak lagi terjebak dalam gaya hidup yang menjerumuskan.