Fenomena Fandom dan Kesehatan Mental : Dampak Fandom K-Pop Terhadap Kesejahteraan Emosional Fans

profile picture Anastiara19
Lifestyle - Musik

Di era globalisasi seperti sekarang ini, fenomena fandom merebak di kalangan para pecinta idol K-Pop. Arus globalisasi yang semakin kencang dan perkembangan teknologi yang semakin pesat memudahkan bagi siapapun untuk bisa mengakses berbagai tontonan termasuk tontonan dari para idol K-pop asal Korea Selatan tersebut.

Fandom K-Pop telah menjadi fenomena global yang tak terbendung dalam beberapa tahun terakhir. Para penggemar K-pop tidak hanya mengidolakan musik dan artis Korea, tetapi juga membentuk komunitas yang saling mendukung dan menghibur satu sama lain melalui forum online dan offline.

The Korea Times memaparkan data yang menunjukkan bahwa jumlah penggemar kebudayaan Korea di seluruh dunia  meningkat 22%. Dari yang semula 73,12 juta penggemar, menjadi 89,19 juta penggemar pada tahun 2017. 

Indonesia tentu saja tak luput dari serangan Korean Wave ini. Korean Wave pertama kali memasuki Indonesia pada tahun 2000-an. Pada waktu itu banyak ditayangkan berbagai drama Korea di stasiun televisi Indonesia seperti drama Korea Full HouseEndless Love dan Boys Before Flower. Drama-drama fenomenal tersebut digadang-gadang sebagai awal mula seseorang mengenal budaya Korea.

Menurut sebuah survei yang diambil dari jumlah viewers video dengan konten K-Pop di YouTube, Indonesia berada pada peringkat dua dengan meraih 9,9 % dari total viewers (WowKeren, 2019). Hal ini menjadikan Indonesia sebagai penikmat konten Korea nomor satu di luar negara Korea Selatan itu sendiri.

Nah, pada artikel ini akan dibahas mengenai dampak fenomena fandom K-Pop pada kesejahteraan emosional para penggemarnya. Yuk, simak sampai selesai! 

Dampak Positif

Fandom K-Pop dapat memberikan dukungan emosional yang kuat bagi para penggemarnya. Tergabung sebagai salah satu bagian dari fandom juga mampu membuat anggotanya menjadi lebih bahagia. Berdasarkan penuturan seorang psikoterapis sekaligus profesor dalam bidang psikologi di University of Columbia, Laurel Steinberg, menyatakan bahwa terhubung dengan orang-orang yang didasari dengan minat yang sama, nyatanya baik untuk kesehatan mental karena membantu menciptakan rasa aman seperti persaudaraan atau keluarga.  

Dengan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki minat sama juga berpengaruh besar dalam meningkatkan motivasi seseorang. Mereka dapat saling bercerita baik secara virtual maupun secara langsung mengenai banyak hal termasuk dalam hal K-Pop, atau bahkan sharing cerita kehidupan pribadi. Dengan demikian, secara tidak langsung mereka bisa menjadi support system satu sama lain.

Kemudian, mengikuti kegiatan konser, fan sign atau fan meeting juga bisa menjadi ajang untuk memupuk silaturahmi di antara para penggemar. Hal ini sekaligus bisa menjadi healing tersendiri bagi mereka di tengah kehidupan orang dewasa yang mungkin terasa begitu  berat dan melelahkan. Selain itu, alunan musik, suara dan visual para idol K-Pop yang menawan ini tentunya juga memanjakan diri para anggota fandom.

Ketika mengidolakan seseorang, pasti hati kita juga ikut tergerak untuk mencari tahu lebih jauh tentang idola kita tersebut. Berawal dari hal itu, tak jarang bisa menjadi hobi yang justru menghasilkan. Seperti membuat konten video maupun artikel tentang K-Pop atau idola kita. Dengan begitu, hidup menjadi lebih produktif dan terhindar dari burnout.

Kerja keras dan optimisme yang ditunjukkan oleh para idol K-pop di panggung maupun layar kaca juga menularkan energi positif di kalangan para penggemarnya. Tak sedikit dari mereka yang merasa terinspirasi atau termotivasi untuk bekerja keras dalam mencapai mimpinya

Dampak Negatif

Dalam dunia fandom, dikenal istilah yang namanya “sasaeng”. Sasaeng ini merupakan seseorang yang mengidolakan idol secara berlebihan hingga menguntit kehidupan pribadi sang idol dan mengikutinya ke mana-pun ia pergi. Hal ini tentu saja justru membuat sang idol merasa tidak nyaman dan terancam keamanannya. 

Selanjutnya, mencari update informasi dari idol yang diidolakan juga bisa membuat seseorang lupa waktu. Scrolling media sosial ataupun membaca artikel terkadang mampu meningkatkan informasi atau wawasan yang dimiliki seseorang. Akan tetapi, ketika berlebihan tentu tidak baik dampaknya. Seseorang dapat melupakan kewajibannya dalam kehidupan sehari-hari seperti beribadah, bersosialisasi dan kewajiban-kewajibannya yang lain. Hal ini berarti dapat berdampak pada kesehatan mental para fandom K-Pop.

Fenomena fandom juga bisa membuat anggotanya merasa harus mengejar standar kecantikan idolanya. Bahkan ada yang sampai rela melakukan operasi plastik demi bisa memiliki wajah yang mirip dengan idolanya tersebut. Mereka juga terkadang memiliki tekanan yang tinggi untuk bisa memiliki gaya hidup seperti idolanya.

Fenomena fandom juga bisa memunculkan budaya konsumerisme. Pasalnya, fan yang sudah fanatik dan sangat terobsesi tak akan segan merogoh kocek untuk membeli berbagai atribut yang berkaitan dengan idolanya seperti light stick, topi, foto, dan lain-lain. Bahkan mereka rela membeli tiket seharga jutaan rupiah demi bisa menghadiri konser ataupun fan meeting band K-Pop maupun artis Korea idolanya.

Selain itu, muncul fenomena fan wars dalam dunia fandom. Fan wars ini juga berdampak pada kesejahteraan emosional para penggemar idol K-Pop. Para penggemar yang terlibat dalam fan wars dapat merasa tertekan dan stress apabila terus menerus berusaha membela idolanya.

Oleh sebab itu, sebagai seorang fan K-pop harus tetap membuat batasan antara dunia nyata dengan dunia fandom. Mendukung dan mengidolakan seorang idol secukupnya saja adalah hal yang tepat karena segala sesuatu yang berlebihan akan berdampak buruk pada akhirnya. Jangan sampai mengidolakan seseorang hingga berkembang sampai tahap obsesi ya. Jadilah seorang fan yang sehat, masih dalam batas wajar, bisa mengontrol diri, bisa membagi waktu antara hobi dan kewajiban, serta mengetahui batasan agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Sebagai fandom sejati juga sudah sepatutnya untuk saling menghargai antar fandom untuk menghindari terjadinya fan wars.

#fenomenafandom

Referensi :

Gumelar SA, dkk, 2021. Dinamika Psikologis Fangirl K-Pop. Jurnal Cognicia, 9(1).17–24

2 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
2
0
profile picture

Written By Anastiara19

This statement referred from