Fandom Culture, Moral Luntur?

profile picture ItsYann
Lifestyle - Musik

Perkembangan dunia industri musik di era saat ini memberikan banyak dampak positif bagi kalangan pecinta musik, salah satunya yakni pada industri musik K-Pop. Kini, penggemar musik K-Pop tak hanya dapat menikmati performa dan aksi yang spektakuler dari idol mereka, tetapi mereka juga dapat mengoleksi merchandise atau barang-barang yang dirilis oleh grup idol mereka. Bagi sebagian penggemar, selain untuk koleksi, membeli merchandise dari grup idol mereka juga merupakan suatu dukungan akan kecintaan mereka pada grup idol tersebut meskipun terkadang harga dari merchandise itu sendiri amat mahal.

"Fandom culture" adalah istilah dari perilaku penggemar yang rela untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli merchandise atau barang koleksi grup idol. Hal ini bukanlah fenomena yang baru, karena sejak dulu penggemar memang menjadi bagian penting dalam kesuksesan sebuah industri musik maupun artis. Ditambah lagi dengan mudahnya akses media sosial dan perkembangan teknologi, sekarang penggemar dapat dengan mudah memperoleh informasi mengenai grup idol dan barang-barang koleksinya.

Namun, di samping banyaknya penggemar yang rela mengeluarkan banyak uang untuk mengoleksi merchandise dari grup idol kesayangan mereka, ada beberapa dampak negatif yang ditimbulkan seperti hilangnya moral bagi anak muda. Contoh dampak negatif lainnya adalah beberapa penggemar yang rela melakukan segalanya bahkan tindakan tak terpuji sekalipun hanya untuk mendapatkan merchandise tersebut, seperti mencuri, menipu, dan lain sebagainya.

Salah satu kasus yang memprihatinkan dan sangat memilukan adalah kasus remaja perempuan asal Filipina yang dengan tega mencuri uang bisnis keluarganya dengan total lebih dari 2 juta Peso atau sekitar 559,3 juta Rupiah hanya untuk membeli merchandise dari grup idol kesayangannya.

Kasus lain yang juga menjadi sorotan adalah kasus yang terjadi pada tahun 2019 silam oleh seorang anak gadis bernama Yuna asal Korea Selatan, ia rela menghabiskan uang ayahnya sebesar 12 juta Won atau setara dengan 132 Juta Rupiah hanya untuk K-Pop. "Hatiku hancur karena putriku. Ini sangat berat. Saya pikir, dia memulai obsesi ini karena kesepian. Aku bekerja pada jam 1 siang dan baru pulang tengah malam," pungkasnya. Kendati demikian, fenomena fandom culture ini tidak bisa dihindari dan akan terus berkembang seiring populernya grup idol di berbagai belahan dunia.

Sebagai penggemar, kita harus bisa mengontrol diri kita dan memikirkan mana kebutuhan dan mana keinginan kita dalam membeli barang koleksi dari grup idol kesayangan kita. Apabila kita tidak mampu membeli barang tersebut, tidak ada salahnya kita tidak membeli karena masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mendukung grup idol kita. Jangan sampai moral kita hancur hanya sebatas ingin memiliki merchandise.

Daftar Pustaka:

https://www.insertlive.com/hot-gossip/20191128145058-7-69430/abg-habiskan-rp132-juta-untuk-k-pop-sang-ayah-menangis-di-tv-nasional

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20230309172820-33-420373/miris-remaja-curi-uang-rp559-juta-demi-merchandise-k-pop

https://geotimes.id/opini/fenomena-fan-culture-dikalangan-penggemar-idol-group/

0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By ItsYann

This statement referred from