Sisi Positif Fandom: Loyalitas, Cinta, Mental, dan Perjuangan
Fandom bisa diartikan sebagai sekumpulan penggemar yang biasanya bertukar informasi atau melakukan aktivitas bersama-sama, baik secara daring ataupun luring. Sekumpulan penggemar atau yang disebut fandom ini ada sebab mereka memiliki kesamaan pikiran atau menyukai sesuatu (artis, klub, film, dan sebagainya). Jika merujuk dari kamus Merriam Webster yang dirangkum dalam website sindonews.com, istilah fandom ini pertama kali digunakan pada tahun 1903 sebagai sebutan bagi penggemar sepak bola.
Baik dulu atau sekarang, istilah fandom ini masih tetap populer di dunia. Misalnya yang paling banyak ditemukan sekarang ini adalah penggemar K-Pop yang terbagi lagi pada masing-masing grup idola. Maraknya fandom di saat ini juga menimbulkan berbagai tanggapan dari masyarakat, tokoh-tokoh agama, dan juga kerap kali dikait-kaitkan dengan bidang politik. Sejumlah reaksi banyak dijumpai secara daring, misalnya saja ketika Tragedi Stadion Kanjuruhan pada tahun 2022 silam. Para penggemar sepak bola kalang kabut menuai banyak pendapat terkait tragedi itu. Hal ini juga mengundang masyarakat yang sebenarnya bukan penggemar dari sepak bola turut memberi komentar.
Biasanya fandom pada saat ini suka sekali membagikan informasi-informasi yang terkadang bersifat persuasif mengenai apa yang mereka gemari kepada khalayak. Mereka (para penggemar) juga sering muncul setiap kali apa yang mereka gemari itu diberitakan media publik, entah itu berita positif atau negatif. Seolah-olah mereka adalah tameng yang siap membantu, mendukung, meluruskan, atau bahkan mengelak ketika ada berita yang menurut mereka, mereka yang ‘lebih tahu’ kebenaran dari berita itu. Biasanya fandom bersifat maha tahu mengenai apa yang mereka gemari, sehingga tidak suka ada berita yang menimbulkan kesalahpahaman.
Terlepas dari itu semua, definisi fandom tidaklah segampang ‘sekumpulan orang yang menggemari sesuatu yang sama’. Ada beberapa hal yang membentuk kepribadian seseorang yang bergabung dalam sebuah fandom. Yaitu loyalitas, cinta, mental, dan juga perjuangan.
1. Loyalitas: Kesetiaan Terhadap Fandom, Berdampak dalam Kehidupan Sehari-hari
Seorang penggemar adalah orang yang setia terhadap klubnya, tidak gampang berpaling, dan menaruh kepercayaan lebih terhadap apa yang ia gemari. Loyalitas seorang penggemar diasah sejak dia memutuskan untuk menggemari sesuatu. Penggemar yang terbiasa dengan kesetiaan terhadap klubnya ini cenderung menerapkannya dalam kehidupan di luar fandom (berteman atau berpasangan). Namun, seorang penggemar ini tidak mudah percaya dan sekalinya percaya, loyalitasnya sangat-sangat tidak perlu diragukan. Ini bukan ramalan, tetapi faktanya menunjukkan hal yang demikian.
Loyalitas yang dimiliki seorang fan (penggemar) melalui fandom tentunya berdampak positif jika semua penggemar sungguh-sungguh setia dengan apa yang disukai mereka. Orang-orang yang loyal biasanya sangat dicari di mana saja, baik itu untuk urusan pekerjaan, pertemanan, atau percintaan.
2. Bukan Fanatik, tetapi Langkah Memperkuat Mindset tentang Cinta
Adanya fandom kerap kali dianggap fanatik oleh awam. Hal ini dikarenakan seorang penggemar kerap sekali menunjukkan kecintaan mereka terhadap idola mereka. Namun, menurut penulis hal tersebut tidak bisa dibilang fanatik. Selayaknya mencintai; memang sudah seharusnya penggemar mendukung idola mereka. Ini akan membentuk mindset yang baik soal cinta untuk seluruh penggemar.
3. Kesehatan Mental
Hadirnya idola yang dicintai oleh penggemarnya membuat mental penggemarnya sehat. Hal ini sejalan dengan yang dijelaskan oleh Abraham Maslow, seorang teoritikus asal New York. Jika ditilik dari pendapat Abraham, bisa dianalogikan penggemar yang mencintai idolanya itu dapat mengantarkan mereka pada berbagai tindakan kreatif dan produktif. Dengan rasa cinta itu pula, seorang penggemar mendapatkan kebahagiaan atau kesehatan mental.
4. Idola Mengajarkan Fan untuk Berjuang
Mungkin yang paling menguntungkan dalam menjadi seorang penggemar adalah perjuangan. Siapa sangka ternyata ada daya juang yang dilakukan seorang penggemar untuk idolanya, entah itu perjuangan untuk mencari materi untuk bertemu idolanya (membeli tiket meet and greet, tiket konser, barang-barang yang digunakan idola mereka, dan lainnya) atau mungkin bisa juga perjuangan untuk membela idola mereka.
Satu hal yang paling berkesan menurut penulis mengenai fenomena fandom ini adalah seorang fan selalu menjadikan idolanya sebagai role model. Dan biasanya tidak ada idola yang buruk, mereka (para idola) dicintai sebab memiliki daya tarik tersendiri. Entah itu dari segi fisik, materi, gaya hidup, prestasi, atau juga perjalanan hidupnya. Hal ini membuat seorang fan akan tergerak keinginannya untuk menjadi sama atau bisa menjadi seperti idola mereka.
Keempat sisi positif dalam fenomena fandom di atas mungkin jarang menjadi perhatian oleh seorang haters (kebalikan dari seorang fan), sehingga haters sangat gampang tidak menyukai apa yang digemari oleh seorang fan dari idolanya. Biasanya haters akan menganggap fan yang menyukai idolanya itu terlalu fanatik dan memiliki standar terlalu tinggi. Bagaimana menurut kalian?