Fandom Kpop : Kekuatan dan Faktor Dibelakangnya
Masih ingatkah dengan kejadian fans kpop yang menyerbu kanal Twitter untuk mengangkat kasus George Floyd? Atau aksi fans kpop yang memborong tiket kampanye pemilihan presiden Donald Trump? Atau yang ada di Indonesia, aksi beberapa perkumpulan fans kpop yang membuka penggalangan dana untuk tragedi Stadion Kanjuruhan? Jika kita tilik kembali, peran fans kpop sering kita jumpai di beberapa kasus kasus besar. Jumlah anggota komunitas mereka yang besar selalu bisa merebut atensi masyarakat umum. Namun disamping itu, selalu muncul pertanyaan. Bagaimana bisa sekelompok yang tidak sering bertemu, tidak saling kenal, juga dengan latar belakang sosial yang berbeda-beda bisa melebur bersama dan melakukan suatu kegiatan dengan skala yang tidak kecil?
Kelompok fans idol atau biasa disebut fandom, merupakan perkumpulan penggemar yang mengidolakan artis atau penyanyi tertentu yang beberapa tahun kebelakang mayoritas berasal dari Korea Selatan. Setiap fandom memiliki nama juga atribut berbeda-beda juga unik yang sering kali masih ada hubungannya dengan identitas dari idolanya tersebut. Fans kpop dikenal sangat loyal dengan idolanya. Mulai dari rela menghabiskan uang mereka untuk memborong pernak-pernik yang berhubungan dengan idolanya, baik yang dijual oleh official agency atau yang dijual bebas di pasaran. Sampai rela meluangkan banyak waktu dan tenaga demi berjumpa secara langsung dengan idola mereka. Bahkan sebagian dari mereka tergolong sudah terobsesi dengan idola mereka. Tak heran bahwa fans kpop tersebut dicap negatif oleh masyarakat non kpopers. Namun di beberapa kesempatan, anggota fandom tersebut membuat kita semua kaget dengan aksinya. Di beberapa kesempatan mereka dengan kompak saling terkoneksi satu sama lain, dengan perbedaan latar belakang yang beragam, untuk membantu masyarakat lain diluar dari lingkup komunitas mereka.
Berikut beberapa faktor mengapa fans kpop bisa sangat kompak di beberapa kesempatan.
Memiliki suatu kesamaan
Pada umumnya, seorang manusia akan merasa dekat dan terkoneksi dengan manusia lainnya disaat diantara keduanya memiliki suatu kesamaan. Kesamaan tersebut berupa hal yang sama-sama disukai oleh kedua pihak. Begitu pula dengan anggota fandom idol korea. Mereka saling terhubung melalui kecintaan dengan idola yang sama. Mereka pada umumnya bertemu melalui klub-klub fans via sosial media dan kanal daring lainnya. Tak jarang terdapat perkumpulan yang dilakukan secara langsung, biasanya berupa berlatih koreografi dari lagu idolanya tersebut. Dengan pertemuan yang cukup intens, baik secara daring dan langsung, timbullah rasa kekeluargaan antar anggota yang semakin erat setiap waktunya.
Terorganisir dengan baik
Pada umumnya, keanggotaan fandom setiap negara, bahkan ke daerah-daerah di negara tersebut, terdapat koordinator yang mengatur kegiatan fandom di negara tersebut. akan terdapat kepengurusan tersendiri. Mereka akan membuat grup obrolan, umumnya melalui sosial media, dan membahas apa yang sedang terjadi kepada idola mereka. Info yang dibagi di grup obrolan pun beragam. Dari info comeback atau perilisan lagu, aktivitas grup atau solo artis, konser, projek fans, hingga kegiatan amal. Dengan sudah terbentuknya wadah bagi para fans, maka pengorganisiran kegiatan pun semakin mudah. Dalam perkumpulan fans pun jumlah mereka tidak sedikit. Contohnya saja ARMY, fans dari grup BTS. Pada 2021 saja banyaknya ARMY hampir 4 juta orang di Indonesia saja. Maka tak heran bukan kalau dalam pengumpulan masa, akan terasa mudah bagi fans kpop ini.
Terinspirasi oleh idolanya
Sering kali jika suatu kelompok fans ditanya alasan mereka melakukan penggalangan dana misal, mereka akan menjawab bahwa idola mereka telah menginspirasi mereka. Idola mereka selain berperan sebagai sumber kebahagiaan dan hiburan, nyatanya juga menjadi role model bagi penggemarnya. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa apapun yang idolanya lakukan akan ditiru juga oleh penggemarnya. Perilaku idolanya yang ditampilkan di media bisa dijadikan salah satu indikasi perilaku penggemarnya. Jika idola tersebut dicap sebagai selebriti yang berperilakuan baik, maka biasanya penggemarnya pun banyak melakukan kegiatan positif yang seringkali mengatasnamakan idolaya tersebut.
Adanya rasa ikut berpengaruh untuk sang idola
Seperti yang dijelaskan di poin sebelumnya, dimana penggemar akan mengikuti perilaku idolanya. Sehingga apa yang dilakukan oleh para fans, secara tidak langsung juga akan berpengaruh ke nama sang idola. Karena hal itu, para anggota fandom akan saling mengingat satu sama lain dan juga saling bekerja sama untuk melakukan hal-hal positif.
Anggota yang kebanyakan generasi z
Fans kpop umumnya berusia belasan sampai dua puluhan. Di usia ini, mereka tergolong sangat mudah untuk bergaul dan fleksibel dengan lingkungan disekitarnya. Generasi ini juga sangat tanggap dengan apa yang terjadi di dunia. Mereka memanfaatkan sosial media, media yang sangat mereka kuasai, untuk mengakses berita-berita yang sedang terjadi. Aliran berita yang cepat di media sosial ditambah kemampuan yang mumpuni di media sosial, membuat fans kpop sangat mungkin untuk dapat mengikuti berita-berita yang sedang panas. Selain itu, sosial media juga digunakan sebagai wadah berkomunikasi antar anggotanya.
Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor, baik internal maupun eksternal, sangat membantu perkembangan dan juga pergerakan mereka. Dengan faktor-faktor tersebut pun, mereka dapat memanfaatkannya dengan baik dan tepat. Jadi apakah kalian juga tertarik untuk bergabung ke dalam komunitas kpop?