Menghalalkan segala cara demi membeli apapun yang berkaitan dengan idola, apakah wajar?
Fans atau penggemar bukanlah kata yang asing untuk didengar di masa sekarang ini. Semakin pesatnya perkembangan teknologi mengakibatkan penyebaran informasi semakin meluas secara global dan dapat diterima oleh kalangan manapun. Salah satunya adalah masuknya berbagai macam hiburan yang dapat diakses dalam berbagai bentuk secara mudah di internet. Produk-produk hiburan selayaknya musik pop, drama, dan bentuk variety show menjadi hal yang sangat digandrungi terutama oleh remaja kaum milenial saat ini. Hal tersebut juga lah kemudian mengakibatkan semakin pesatnya jumlah penggemar.
Pada dasarnya, mengidolakan seseorang merupakan fase yang tentu dilewati oleh siapapun di dunia ini, namun bentuk menggemari idol semakin tentu semakin berkembang sesuai dengan perkembangan zaman pula, hingga muncul keberadaan penggemar yang berlebihan atau dikenal dengan fanatik.
Perilaku fanatic dan obsesif yang kerap kali ditunjukkan oleh penggemar dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Beberapa kasus yang terjadi dimana para penggemar menunjukkan fanatisme dengan perilaku konsumtif yang berlebihan. Seperti yang dilansir dalam pramborsfm.com menyebutkan bahwa seorang gadis yang menggemari K-pop bahkan rela mencuri uang dari bisnis keluarganya hingga mencapai 2 juta peso atau sehinal Rp557 juta hanya untuk membeli merchandise dari idola yang digemarinya. Kasus lain dilansir dalam Liputan6.com disebutkan bahwa dampak yang muncul dari semakin banyaknya idola K-pop yang menjadi duta merek adalah meluasnya pasar konsumen pada usia yang lebih muda. Hal ini mengakibatkan seorang ibu dari Korea Selatan yang mengkhawatirkan anaknya yang semakin meminta barang yang lebih mahal setelah sebelumnya bahkan putrinya yang berusia 16 tahun meminta sebuah tas tangan dengan merek Prada yang tentunya memiliki harga yang tinggi.
Kedua kasus tersebut hanyalah Sebagian kecil dari contoh yang kerap kali terjadi dimasyarakat terutama pada kalangan penggemar. Hal ini kemudian menimbulkan perhatian yang sangat luas terkait dengan berubahnya gaya hidup para penggemar terutama dalam loyalitasnya terhadap sang idola. Dalam sebuah artikel yang dikeluarkan oleh kompasiana.com memetakan terkait dengan loyalitas para fans K-pop terhadap idola mereka.
Perilaku konsumtif yang semakin meningkat berakibat dari menggemari idola secara berlebihan tersebut kemudian menjadi perhatian para peneliti hingga muncul sebuah fenomena yang disebut dengan celebrity worship. Dalam sebuah teori yang dikemukakan oleh Maltby (2005) menjelaskan bahwa celebrity worship merupakan kondisi dimana individu berupaya untuk selalu terlibat dalam kehidupan sehari-hari idola yang mereka gemari. Perilaku konsumtif yang berlebihan tersebutpun dijelaskan merupakan salah satu tingkatan dalam celebrity worship yaitu entertainment social, dimana individu memperlihatkan ketertarikan yang kuat terhadap figure idola dan kegiatan mereka yang kemudian memunculkan perilaku konsumtif.
Menggemari idola bukanlah sebuah kesalahan, terkadang ketika menggemari idola dapat menjadi motivasi untuk seseorang bahkan dalam artikel berita Kompas.com disebutkan bahwa seorang penggemar boyband BTS berhasil bangkit dari keterpurukan setelah mendengarkan lagu-lagu dari boyband asal Korea tersebut. Oleh karenanya, menjadi penggemar dan membeli barang-barang yang berkaitan dengan idola yang dimaksudkan untuk mendukung tidaklah salah, yang menjadi kesalahan adalah ketika membeli barang-barang tersebut dengan berlebihan hingga menyebabkan kerugian bagi penggemar itu sendiri. Dalam sebuah pertanyaan yang dibuka di situs id.quora.com mengenai kepuasan dalam membeli K-Pop muncul berbagai statement bahwa membeli barang terkait dengan idola mereka merupakan bentuk apresiasi terhadap sang idola dan memberikan rasa kepuasan tersendiri, namun beberapa akun menyebutkan bahwa itu hanya kesenangan sesaat saja dan bahkan satu akun menyebutkan bahwa membeli album dengan harga jutaan menjadi lumrah untuk kesenangan selama mampu secara ekonomi dalam artian tidak memaksakan keuangan.
Selaras dengan statement yang telah disampaikan, menurut saya, membeli barang-barang yang berkaitan dengan idola untuk merasa serta turut terlibat dalam kehidupan mereka bukanlah hal yang salah. Kembali lagi selama hal tersebut masih berada pada batas wajar dan sesuai dengan kemampuan, sehingga membeli barang yang dipromosikan oleh idola, album, tiket konser, dan lainnya dengan memaksakan dan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya dalam konteks yang tidak baik merupakan hal yang salah dan tidak seharusnya dilakukan.
Sumber:
https://id.quora.com/Apakah-membeli-album-K-Pop-memberi-rasa-kepuasan-Mengapa
Maltby, J., Giles, D. C., Barber, L., & McCutcheon, L. E. (2005). Intense-personal celebrity worship and body image: Evidence of a link among female adolescents. British Journal of Health Psychology, 10(1), 17–32. https://doi.org/10.1348/135910704X15257