Menanyakan Eksistensi Tuhan Beserta Agama Saat Muda Pada Kehidupan
Didalam menjalani kehidupan saat masih muda ini ada banyak sekali pertanyaan yang selalu saja terlintas dalam pikiran. Seiring berjalannya waktu pertanyaan tersebut kian bertanya-tanya kepada diri sendiri. Salah satu pertanyaan yang selalu terpikirkan “Hidup ini ngapai dan untuk apa?” sampai “kenapa sih harus saya yang dipilih untuk hidup?” semua pertanyaan tersebut selalu saja berputar-putar dalam pemikiran penulis tanpa berhenti. Apabila dianalisis lebih dalam tentunya pertanyaan-pertanyaan yang ada tersebut dilihat oleh kacamata orang lain seperti terlihat merujuk kepada seseorang eksitensialis. Selain itu ada juga beberapa pertanyaan yang ada didalam diri penulis tentang eksistensi Tuhan beserta agama yang selalu menjadi pertanyaan yang ingin mengetahui jawabanya tetapi belum ketemu sampai saat ini.
Berdasarkan orang-orang yang ahli dalam bidang agama memaparkan bahwa pertanyaan semua hal pada diri penulis tersebut khususnya pada pertanyaan tentang eksistensi Tuhan sudah dipaparkan secara dalam dan detail dalam kitab yang diyakini oleh masyarakat. Bahkan orang-orang ahli tersebut selalu saja mempengaruhi agar menyakini bahwa dari mulai pertanyaan yang remeh seremeh remahan kue kering sampai pertanyaan yang dibutuhkan analisis dalam sampai rambut di kepala menjadi botak semua ada didalam kibat suci tersebut. Dengan pemikiran tersebut tidak usah heran jika dari mulai kecil penulis selalu dipaparkan akan kitab suci didalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat penulis mau tidak mau dalam setiap menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan selalu berpegang pada kitab suci tersebut. Namun nyatanya kehidupan tersebut hanya terjadi sampai penulis berada di usia yang setara dengan lulus dari jenjang pendidikan SMA. Ketika itu seperti pada umumnya di Indonesia maka seseorang akan melanjutkan ke bangku kuliah. Di tempat tersebutlah penulis mulai berkumpul dengan berbagai macam orang dengan latarbelakang yang beragam. Kaum-kaum intelektual, tokoh organisasi, tokoh keagamaan, dan masih banyak lagi bercampur menjadi satu dalam kehidupan penulis. Sehingga mau tidak mau hasil dari berkumpulan dengan banyak orang berlatarbelakang berbeda tersebut membuat hasil tenun dimasa kecil atas pemikiran terdahulu menjadi perlahan-lahan terurai kembali.
Bahkan kini benang-benang tersebut menjadi kusut dan tidak beraturan satu sama lain. Walaupun atas kondisi demikian tetapi ada sebuah hasilnya. Dimana penulis mulai secara berani untuk pertama kalinya mempertanyakan segala macam hal yang bahkan dibeberapa waktu dibelakang belum berani akan menanyakan hal tersebut. Pertanyaan pertama kali yang terpikiran oleh penulis tentang agama dan eksistensi Tuhan pada kehidupan sehari-hari. Apalagi dengan banyak orang-orang yang disekeliling penulis memiliki pemahaman akan filsafat yang selalu mempertanyakan berbagai macam hal yang ada didalam kehidupan ini pertanyaan tersebut menjadi lebih kuat lagi.
Memiliki pemahaman akan meragukan dari eksistensi Tuhan dan agama merupakan ciri-ciri dari orang-orang modern yang dikenal oleh masyarakat dengan istilah baru bernama open-minded. Tetapi jika pemahaman tersebut diberikan kepada orang-orang yang latarbelakangnya sangat dekat dengan agama maka hal pertanya yang dilontarkan kepada seseorang yang meragukan tersebut adalah aneh karena diluar batas kemampuan manusia.
Melihat kehidupan bermasyarakat jika seseorang hidup dengan terlalu fanatik akan agama yang dianutnya maka seseorang tersebut memiliki peluang yang lebih besar akan menjadi seseorang intoleran yang menyebabkan peluang lainnya berupa kekerasan terjadi kepada orang lain yang berbeda agama yang diyakininya. Disatu sisi lainnya seseorang yang fanatik terhadap duniawi akan dilabeli dengan nama kafir kepada seseorang tersebut. Sedangkan posisi penulis berada di abu-abu antara kedua sisi tersebut sehingga tidak terlalu religius ataupun terlalu cinta akan duniawi.
Berada diantara antara satu sisi nyatanya tidak terlalu menyenangkan karena menganggap satu sisinya lain adalah salah. Tetapi berada di tengah-tengah nyatanya tidak menyenangkan pula karena dianggap sebagai seseorang yang labil atau tidak memiliki pendirian karena tidak bisa memilih satu sisi atau dianggap egois karena menginginkan keduanya pada sisi positif atas kedua sisi. Tentunya pemilihan tersebut dapat diibaratkan seperti seseorang pada dua sisi yang mana pilihannya adalah berTuhan atau ngga berTuhan. Tentunya pilihan tersebut sangatlah tegang dibandingkan pemilihan presiden beberapa waktu lalu yang terjadi didalam masyarakat. Tetapi jika melihat dengan kacamata telanjang kedalam setiap individu yang ada pada masyarakat, apakah penting keberadaan Tuhan didalam kehidupannya?. Individu-individu didalam masyarakat banyak sekali yang mengaku memiliki Tuhan dan menganut agama yang diyakininya tetapi perilakunya eehhmmmmm (Bisa dilanjut secara mandiri oleh pembaca).
Didalam berbagai macam media saja ada sekali seseorang yang sudah memiliki ilmu agama yang sangat tinggi tetapi ucapan maupun tindakan contoh nyata kepada perempuan saja cukup mengejutkan. Selain itu juga pada kasus lain yang terjadi ada seseorang yang dikenal kumpulan masyarakat dekat dengan agama nyatanya malah melakukan pengambilan hak kepada orang lain dengan angka yang cukup fantastis. Tetapi disatu sisi seseorang yang dianggap tidak beragama oleh masyarakat dalam kehidupannya seperti mengaplikasikan nilai agama. Penulis juga merupakan seseorang yang tidak terlalu religius banget sehingga tidak bisa menilai akan perilaku yang berada didalam kehidupan masyarakat. Tetapi berdasarkan berbagai macam cerita zaman dahulu saat masih kecil mengenyam pendidikan agama tidak pernah mendengar kisah-kisah agama yang mengucapkan atau bertindak kurang baik kepada orang lain. Dibeberapa cerita yang diberikan kepada penulis secara garis besar ketika mendapatkan perilakuan kurang baik baginya maka tidak pernah melakukan pembalasan yang diberikan kepada orang lain tersebut sama dengan yang dilakukannya. Tetapi cerita yang diberikan kepada penulis saat masih kecil yaitu ketika perlakukan kurang baik datang balasan yang diberikannya adalah hal-hal baik. Aduh.....sepertinya jika saya berbicara dengan seseorang yang sangat religius tersebut dilabeli kafir.
Hidup di zaman yang katanya modern tetapi nyatanya bayangan hitamnya selalu mengikuti pada zaman tersebut sehingga untuk membedakan secara baik antara seseorang kafir dan engga sangatlah sulit. Terkadang seseorang terlihat akan memiliki agama yang dianut tetapi pada perilaku kehidupan sehari-harinya tidak melakukan hal-hal yang dianjurkan oleh agama. Disisi satu lainnya ada seseorang yang tidak pernah memperlihatkan memiliki agama yang dianut tetapi pada kehidupan sehari-harinya memperlihatkan esensi dari nilai-nilai agama. Itulah kenyataan yang terkadang terlihat dengan mata telanjang pada kehidupan bermasyarakat oleh penulis.
Ahhh jadi malah ngalor ngidul kemana-mana tanpa arah yang jelas seperti orang tersesat. Padahal di negara-negara lain sedang gencar-gencarnya melakukan inovasi untuk menyelesaikan berbagai macam masalah yang ada untuk kehidupan yang lebih baik. Tetapi disisi lain pada penulis masih saja dari kecil sampai saat ini terjebak oleh pertanyaan akan eksistensi Tuhan dan agama. Ahhhh tau ah pusing jika dipikir secara lama-lama dicampur analisis bersumber berbagai macam sumber literasi yang ada tidak akan pernah ada ujungnya bahkan sampai rambut dikepala menjadi tidak ada pun masih pusing. Dari pada pusing-pusing akibat ngelantur kemana-mana akibat mempertanyakan eksistensi Tuhan dan agama dalam kehidupan mending makan siang dulu apalagi tulisan ini dibuat saat siang hari. Maka dari itu mending saya makan siang dahulu, terima kasih sudah membaca tulisan ini semoga bermanfaat bagi para pembaca dari oret-oretan penulis akan eksistensi Tuhan dan agama berdasarkan sudut pandang penulis. Terima kasih.