FENOMENA FANDOM DALAM PERSPEKTIF FILOSOFI : HILANG DALAM GEMERLAP LIGHTSTICK

profile picture fadhil_s
Humaniora - Sosial

REALITAS SIMULAKRA

Simulakra adalah dunia semu di mana kenyataan diimitasi, didistorsi, direproduksi, hingga dihilangkan sama sekali. Simulakra hadir sebagai akibat dari ketamakan dan kerakusan manusia itu sendiri. Ia terjadi karena kegiatan mengonsumsi yang pada awalnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia malah beralih fungsi menjadi syarat pemenuhan eksistensi.

Syarat eksistensial yang ditawarkan oleh Simulakra kepada manusia adalah pemenuhan terhadap konsumsi simbol dan tanda-tanda tertentu. Melalui simbol dan tanda-tanda inilah manusia dapat eksis dalam struktur sosial-masyarakat yang fana, yang sudah didistorsi sedemikian rupa untuk mengaburkan pandangan manusia terhadap realitas yang sebenarnya.

Misalnya, ketika seseorang membeli barang tertentu yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu apa fungsinya. Akan tetapi, karena barang tersebut dipromosikan oleh tokoh idolanya maka ia rela membeli sebagai simbol bahwa ia adalah seorang penggemar. Dari contoh tersebut kita dapat memahami makna dari masyarakat konsumsi simbol, di mana eksistensi seseorang sejalan dengan simbol yang telah ia konsumsi.

INSTRUMEN SIMULAKRA

Simulakra berkembang dan memperkuat dirinya melalui media-media massa, internet, dan juga smartphone. Utamanya internet dan smartphone, keduanya adalah instrumen terkuat yang telah menyeret jutaan manusia ke dalam lingkaran realitas fana.

Internet dan smartphone menawarkan berbagai kemewahan dan kemegahan yang membuat manusia lupa dengan dunia asalnya. Kekayaan informasi, kemegahan inovasi, dan kemudahan komunikasi yang ditawarkan oleh sosial media kadang membuat manusia lupa, bahwa tidak semua yang nampak di sana adalah nyata, dan tidak semua yang nyata hadir sebagaimana adanya. Itulah mengapa dunia tersebut dinamakan dunia maya (maya=tidak nyata=fana).

FENOMENA FANDOM SEBAGAI DAMPAK DARI SIMULAKRA

Fenomena fandom yang beritanya sering berseliweran akhir-akhir ini adalah salah satu bentuk nyata dari adanya Simulakra. Kelompok-kelompok fandom ini hidup dalam realitas fana yang mereka percayai sebagai kenyataan.

Orang-orang yang tergabung dalam fandom tertentu biasanya tidak segan untuk mengabdikan dirinya demi sekedar kepuasan simbolik. Misalnya, menghambur-hamburkan uang untuk barang-barang tidak berguna, melakukan hal-hal bodoh demi mendapatkan perhatian tokoh idolanya, dan seterusnya. Semua ini dilakukan demi kebutuhan eksistensial, di mana mereka baru merasa eksis ketika orang-orang mengakui dan menyimbolkan mereka sebagai Fans.

Di sisi lain, sosial media juga mendistingsi masyarakat menjadi beberapa kelompok yang senantiasa berseteru. Hal ini disebabkan oleh Algoritma yang memetakan manusia berdasarkan riwayat tonton dan pencariannya semata. Hasilnya, yang sering diperlihatkan oleh sosial media kepada manusia adalah hal-hal yang mereka senangi. Sebaliknya, hal-hal yang tidak mereka senangi akan selalu ditampakkan secara negatif. Lalu apa yang kemudian timbul? Tentu, perang antar fandom.

Perang antar fandom hanya bisa terjadi ketika masing-masing pihak percaya bahwa mereka sedang memperjuangkan kebenaran dari tokoh idola masing-masing. Yang menyedihkan adalah, seringkali mereka tidak sadar bahwa kebenaran yang mereka perjuangkan adalah kebenaran hasil manipulasi Algoritma.

Sosial media juga kian menjadi tempat sampah visual berkat merebaknya Simulakra. Kerap kali kita temui di kolom-kolom reply Twitter, video-video musik yang sama sekali menyimpang dari konteks yang sedang dibahas. Mengapa demikian? Mereka yang sudah terjebak Simulakra mencoba menyebarkan dan menyeret lebih banyak orang lagi untuk mengonsumsi simbol-simbol yang sama dengan mereka. Dalam fenomena fandom, proses ini dilakukan dengan membanjiri linimasa dengan video-video dan narasi-narasi indah tentang tokoh idola mereka. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mendistorsi pikiran pengguna internet lain, agar ikut hanyut dan larut dalam realitas semu.

KEKACAUAN DI RUANG PUBLIK DAN MATINYA DUNIA SOSIAL

Atas berkat informasi yang kian mengalir, manusia menjadi mabuk dan candu. Kemabukan ini disebut dengan ekstase komunikasi. Manusia tidak bisa lagi membedakan antara informasi yang bersifat privat dan yang bersifat publik. Hal ini tentu marak terjadi dalam fenomena fandom. Orang-orang yang melabeli diri mereka sebagai fandom kadang terlalu antusias untuk mencari informasi tentang tokoh idola mereka, hingga tanpa sadar mereka menyelam terlalu jauh ke dalam kehidupan pribadi tokoh idola tersebut. Akibatnya, tidak ada lagi ruang privasi bagi tokoh idola tersebut.

Sebaliknya, hal-hal yang seharusnya menjadi tontonan publik malah diabaikan karena dianggap sudah tidak ternilai. Misalnya, ketika seseorang lebih memilih untuk menonton cuplikan-cuplikan video privat tokoh idola mereka yang bocor ke internet ketimbang membeli tiket untuk menonton konsernya.

Kerancuan dalam membedakan antara zona privat dengan zona publik inilah yang kemudian dapat mengakibatkan matinya dunia sosial. Orang-orang yang terjebak dalam Simulakra dapat dipastikan sudah terenggut dunia sosialnya.

KESIMPULAN

Untuk menghindari terjerat dalam Simulakra, seseorang harus bijak dalam menjadi penggemar. Menggemari tokoh tertentu boleh-boleh saja, akan tetapi jangan sampai kita terlalu mengagung-agungkan tokoh tersebut sampai merasa bahwa tokoh tersebut adalah satu-satunya kenyataan.

Lebih jauh lagi, kita harus sering-sering bertanya secara reflektif kepada diri sendiri : “Apakah kehidupanku yang sekarang nyata, atau hasil Simulakra?”

5 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
5
0
profile picture

Written By fadhil_s

This statement referred from