Eksistensi Tuhan: Mencari Makna Terindah atas Keberadaan-Nya
Keadaan, banyak kondisi sekarang manusia merasa berada dalam titik terendah hidupnya. Di saat semua tidak seperti ekpektasi yang dibayangkan, hancurnya harapan, dan beratnya beban yang ditanggung dan yang paling penting adanya istilah “ people come and go” yaitu istilah dimana orang-orang yang biasa bersama mereka tiba- tiba meninggalkan mereka atau bisa jadi mengkhianati mereka. Dari sini timbul efek serius dalam pikiran manusia untuk mengakhiri hidupnya.
Dari keadaan ini manusia mulai mencari hal yang dapat membuat mereka hidup. Pencarian ini tentu terasa sulit dikarenakan hal yang dicari tersebut terkadang nampak kabur dalam pandangan manusia. Ditambah sekarang adanya sebuat kutipan yang sangat popular yang kurang lebih artinya “yang bisa kita andalkan adalah diri kita sendiri”. Penulis pun juga tidak memungkiri bahwa kutipan itu benar adanya. Tapi jika dipikirkan lebih dalam lagi bawa kutipan itu adalah sebuah pengharapan palsu yan bisa juga menghancurkan kehidupan manusia. Karena manusia adalah sosok terbatas. Ini terbukti dari manusia lahir mereka membutuhkan orang lain dalam proses itu. Manusia tidak bisa menjangkau semuanya. Manusia hidup dalam ketidakberdayaan. Dari hal ini timbul perasaan, bahwa manusia adalah sosok yang tidak hidup sendiri. Sosok yang memerlukan bantuan dari pihak lain untuk menjalani kehidupan ini. Jika dipikirkan lagi, jika manusia meminta bantuan dari manusia lain maka sama saja adalah suatu kekosongan karena sama- sama tidak berdayanya. Sama-sama memiliki kekurangan dan keterbatasan. Timbul pertanyaan siapa lagi yang bisa membantunya.
Jawaban yang tidak mudah dijawab, yang pasti dari jawaban ini adalah Dia harus berbeda dari makhluk, tidak memiliki sifat seperti makhluk dan pastinya Dia mampu segala hal yang tidak mampu dilakukan oleh makhluk. Jika ditelisik lagi hanya ini satu- satunya yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. TUHAN. Jika ditanya kenapa Tuhan, karena tidak ada yang seperti diri-Nya. Tuhan memiliki sifat yang tidak dimilki oleh satupun makhluk yang ada di dunia ini. Sifat yang melekat pada diri-Nya yang membuat kita percaya kepada-Nya. Tuhan kuasa atas segala-Nya.
Namun sekarang pertanyaannya dimana keberadaan Tuhan? Tentu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Karena sesuatu yang dijawab tidak pernah menampakkan diri-Nya. Tetapi hal ini tidak mungkin untuk tidak dibuktikan. Secara sederhana, sesuatu yang ada di dunia ini walaupun tidak pernah nampak ada dalam pandangan kita bukan berarti sesuatu tersebut tidak pernah berada dalam bumi atau tidak pernah ada (sebenarnya ada). Begitu juga dengan Tuhan pun berlaku hal yang sama. Sesuatu tidak perlu dibuktkan kebeadaanya cukup kita menyakininya maka kita akan menemukan keberadaan-Nya. Seperti halnya yang terus dibicarakan umat manusia. CINTA. Bukankah cinta selalu menjadi hal yang sangat ingin terus dibicarakan karena dampak yang ditimbulkan. Berapa banyak yang membicarakannya tapi apakah kita pernah melihat wujudnya. Apakah cinta bisa kita lihat wujud, rupa, atau bentuk. Hal ini tentu tidak akan bisa dijawab oleh umat manusia karena cinta tidak pernah menampakkan dirinya. Sesuatu yang tidak tampak tetapi manusia sangat memerlukannya. Cinta yang selalu dibahas adalah perbuatan atau sesuatu yang akan didapatkan dari cinta tersebut yaitu berupa kasih sayang, perhatian, kepedulian dan terpenting adalah ketenangan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa yang terpenting adalah hasil atau dampak yang ditimbulkan bukan wujud atau rupa dari cinta itu sendiri. Oleh sebab itu terkadang tidak semua hal perlu menampakkan wujudnya tetapi yang terpenting apa yang didapatkan. Berlaku juga pada sifat Tuhan yaitu diri-Nya tidak pernah menampakkan wujud-Nya tapi kasih sayang, perhatian, kepedulian, dan ketenangan selalu diberikan kepada kita sebagai salah satu makhluknya, bukankah ini adalah salah satu sifat-Nya yaitu Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Kita hanya perlu menyakini dan menyadari bentuk perhatian, kasih sayang yang diberikan atau dengan kata lain yaitu peka. Dari kepekaan itu kita bisa memastikan bahwa keberadaan-nya adalah nyata adanya. Jika hal tersebut sudah kita yakini maka kita akan selalu ingin berada di dekat-Nya, ingin berbicara lama dengan-Nya dan yang paling penting adalah titik tidak ingin kehilangan-Nya. Maka kita akan terus berusaha untuk menjaga agar tidak kehilangan-Nya. Maka semua hal akan dilakukan demi menjaga agar kita tidak kehilangan-Nya. Karena kehilangan-Nya sama seperti menghilangkan yang menjadi penopang dalam hidup manusia, tentu akan berefek buruk pada kehidupan manusia seperti yang dijelaskan di awal paragraph. Sifat Tuhan yang berbeda dengan manusia inilah yang dibutuhkan manusia, Tuhan tidak akan meghakimi , Dia yang paling mengerti, dan Dia yang paling tahu justru itu yang menjadi semacam pertahanan diri berupa keyakinan akan kuasa-Nya bahwa semua akan diselesaikan oleh-Nya. Hal itu yang akan memberikan ketenangan jadi kita sebagai manusia tinggal menunggu sambil berikhtiar (usaha). Masa penungguan itu dijalani dengan iklas dan kesabaran dimana manusia hanya akan menjalani penantian yang tidak lama dan akan berakhir dengan kebahagiaan selama tidak melalukan sesuatu yang buruk.