Eksistensi Tuhan dan Relevansinya
Eksistensi Tuhan dan Relevansinya
Pengantar
Perkembangan teknologi kini telah meningkat sangat pesat. Beragam media menjadi sumber pengetahuan yang dengan hal tersebut manusia dapat menciptakan hal yang sangat hebat. Tidak dipungkiri saat ini manusia sudah bisa melakukan segala hal yang mengimbangi fungsi kinerja alam atau Tuhan. Mulai dari rekayasa genetika atau kloning, menurunkan hujan, bahkan mulai memikirkan membuat matahari buatan dan cara untuk bermukim di luar bumi. Adanya perkembangan ini yang kemudian melahirkan anggapan jika Tuhan bukanlah entitas yang berkuasa atau bahkan diragukan keberadaanya.
Sejalan dengan itu, dewasa ini kita juga menemukan fakta bahwa adanya tren generasi milenial yang semakin menjauhi agama. Maraknya perilaku menjauhi agama ini semakin masif di media sosial. Diantara mereka ada yang membentuk komunitas-komunitas di medsos, salah satunya komunitas ‘freethinker’ yang mengambil istilah dari filsuf agnostik (ateisme tertutup, yang menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat dipahami) pada abad ke-18 di Eropa. Istilah ‘freethinker’ merupakan sebuah identitas diri sebagai seorang yang bebas dalam berpikir, bebas dalam bertanya, dan bebas dalam meragukan, khususnya kebenaran harus dibentuk dari logika, alasan, dan empirisme. Bukan malah kekuasaan, agama, dan budaya (wikipedia).
Fenomena generasi milenial yang menjauhi agama, pada gilirannya akan memberikan pengaruh. Terlebih merekalah yang menjadi ujung tombak kemajuan di masyarakat. Sehingga hal ini tidak hanya menjadi tantangan bagi kehidupan beragama, tapi juga berkaitan dengan eksistensi peradaban manusia itu sendiri.
Dengan begitu, keberadaan Tuhan seolah-olah sudah tidak lagi dibutuhkan di masyarakat modern saat ini. Mereka menganggap tidak penting menanyakan Tuhan ada atau tidak, Pengaruhnya terhadap kehidupan dan kebahagiaan manusia apa? Ia juga tidak bisa dibuktikan keberadaanya secara indrawi. Sehingga dalam tulisan ini, penulis hendak memaparkan bahwa keberadaan Tuhan berpengaruh terhadap cara manusia berperilaku, dan membuktikan bahwa Tuhan tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Pembahasan
Dalam psikologi, manusia berperilaku didasarkan atas pengetahuan yang dimilikinya. Maka, seseorang dapat memutuskan bahwa perilaku yang ia lakukan bernilai baik atau buruk, benar atau salah didasarkan atas pengetahuan yang ada pada dirinya. Manusia tidak akan dapat memahami tujuan ia diciptakan dan seperti apa makna kebahagiaan sejati dari manusia tanpa adanya informasi dari Sang Maha Tahu. Sederhananya, jika kita ingin bertanya siapa yang memiliki pengetahuan di atas segalanya baik tentang hakekat manusia, apa yang membedakannya dengan makhluk yang lainnya, apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia mencapai kebahagiaan tentu adalah Allah selaku Sang Pencipta manusia.
Manusia memiliki nalar yang terbatas, ia tidak dapat menghasilkan kesimpulan jika tidak ada data. Maka, tanpa pengetahuan dari Tuhan yang didapatkan dari yang namanya agama, manusia akan tersesat dalam memahami filosofis kebahagiaan dirinya. Pengetahuan yang benar tentang manusia akan mengantarkan manusia itu sendiri kepada prilaku yang seharusnya, yang dengan itu akan menuju kepada kebahagiaan. Sebaliknya, pengetahuan yang salah akan membawa kepada kehancuran ataupun penderitaan kepada manusia itu sendiri.
Untuk melacak keberadaan Tuhan, sangat tidak tepat menggunakan pendekatan empiris. Kesalahan orang-orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan karena telah menggunakan pendekatan kepada obyek yang berbeda. Realitas Tuhan merupakan realitas Imateriel, maka Ia tidak dapat diindera atau dibuktikan secara langsung. Hal ini sejalan dalam memahami bagaimana realitas keadilan, cinta, dan kesejahteraan itu? Maka, untuk dapat membuktikannya pahamilah secara ilmiah lewat kitab sucinya, bukan dengan hawa nafsu atau kepentingan tertentu.
Penutup
Tidaklah pantas kekecewaan terhadap oknum penganut agama, menjadikannya sebuah kesimpulan bahwa ajaran Tuhan merupakan ajaran yang semu, ajaran yang tidak membawa kemajuan dan kebahagiaan pada manusia. Dengan kekecewaan itu menjadikan kita ragu atau tidak percaya akan adanya keberadaan Tuhan. Di tengah dunia yang semakin modern ini sudah seharusnya cara berfikir kita juga lebih ilmiah dalam memahami dan menilai sebuah realitas. Pengakuan atas adanya Tuhan menjadi standart manusia dalam berperilaku yang menentukan arah dan bentuk sebuah peradaban. Fenomena ini juga menjadi tantangan bagi kita bersama untuk senantiasa menegakkan atau menyebarkan ajaran agama yang rasional. Agama yang sejalan dengan nilai-nilai universalitas dan kompatible dengan kemajuan peradaban.