Stop Fandom Toxic Merajalela, Fandom Bukan Tameng Idola

profile picture Rizqiyanabila
Humaniora - Seni dan Budaya

    Belum lama ini tanah air sedang booming berita mengenai konser Blackpink di stadion GBK (Gelora Bung Karno) Jakarta. Konser ini, mengundang antusias para fandom Blink untuk dapat melihat konser tersebut. Hal ini, dapat dilihat dari jumlah banyaknya penonton yang mencapai jutaaan memadati stadion GBK selama dua hari lamanya. Tak hanya itu, di luar stadion pun penuh dengan para fandom Blink yang tak kebagian tiket masuk.
    Berbicara mengenai fandom, kalian tau gak sih apa itu fandom? Fandom adalah komunitas atau kelompok penggemar yang antusias, dan biasanya mengidolakan orang, atau mempunyai hobi serta kegiatan yang sama. Fandom sendiri ada dua macam yakni, fandom pro dan kontra. Fandom yang bertolak belakang biasanya disebut dengan fandom toxic. Fandom toxic merupakan penggemar yang terobsesi dengan idolanya secara berlebihan. Salah satu contohnya, mereka sering “menyerang” orang-orang yang tidak sepedapat, entah itu dengan netizen bahkan sesama fans.
    Fandom toxic kini tengah merajalela dan tak asing lagi ditelinga. Beberapa tindakannya kadang meresahkan para warganet atau sesama fandom lainnya. Mereka tak segan jika salah seorang idolnya diserang, dihujat atau lain sebagainya. Mereka akan langsung bertindak sebagai tameng bagi idolnya, dan tak jarang tindakannya lebih sadis dan diluar dugaan yang dikira. Mereka lakukan hal demikian sebagai bentuk pembelaan seorang fans terhadap idolanya.
    Sebagai contoh, baru-baru ini para fandom menyerbu netizen dunia sepak bola tanah air yang gagal berlaga di GBK karena konser Blackpink. Sebelumnya para pecinta bola merasa kecewa karena hal tersebut, sehingga menyerang berbagai cuitan di sosial media. Hal itu membuat fandom Blink tak terima, hingga terjadilah saling serang di sosial media. Lain halnya dengan salah seorang publik figur yang beropini mengenai salah satu personil Blackpink, dan akhirnya diserbu juga oleh para fandom toxic dengan berbagai cuitan yang lebih nylekit.
    Sebenarnya tak ada masalah jika seseorang menyukai atau nge-fans terhadap seseorang. Namun, sikapnya tak boleh berlebihan hingga berujung pada fandom toxic yang meresahkan. Ikut fandom boleh-boleh saja asal masih tau batas aturan, sikap dan norma yang berlaku, jangan sampai membabi buta. Jangan sampai menjadikan "Raja" atau "Ratu" idolanya hingga meniru semua hal yang dilakukan sang idol, bahkan lupa jadi dirinya.
    Kenali fandom terlebih dahulu, sebelum join lebih dalam. Agar tak salah pergaulan atau terjerumus kasus tindak kriminal. Pahami fandom toxic sejak dini, supaya tak menyesal nanti. Berikut beberapa ciri fandom toxic yang perlu dipahami.
1. Fandom yang Suka Keributan, Tuai Fanwar.
    Fandom seharusnya untuk bersenang-senang dalam kegiatan positif, bukan sebaliknya menuai fanwar. Fanwar atau perang antara penggemar yang terjadi antara penggemar dalam sesama fandom atau fandom yang berbeda.
2. Fandom Toxic Suka Komentar Seksis dan Misoginis
    Komentar seksis dan misoginis kerap kali dilontarkan kepada idola yang tidak disukai penggemar atau fandom toxic. Komentar tersebut juga sering bersentuhan dengan unsur body shaming, slut shaming, dan cyberbullying
3. Fandom Toxic Atur Perilaku Orang Lain
     Ciri fandom toxic lainnya yakni, mengatur dan mengharuskan seorang fans meniru cara orang lain (idola) berperilaku agar pantas disebut sebagai penggemar sejati. Misalnya, mengikuti semua yang ada dalam isu streaming party atau ikut fanwar.
4. Fandom Toxic Obsesi dan Anti Kritik Atas Kesalahan
     Ada sekelompok penggemar yang menolak dan bersikap defensif ketika idola mereka ditegur karena berbuat kesalahan. Warganet menyebut tipe penggemar seperti ini sebaga fandom toxic, karena menganggap “Oppa selalu benar” dan menolak realitas idola kesukaan mereka adalah manusia yang bisa berbuat salah. Fandom toxic menganggap dirinya tidak bisa hidup tanpa sang idola.
     Berdasarkan hal tersebut, seharusnya seorang fandom dapat menjadikan idolanya sebagai sumber inspirasi, tidak melupakan lingkungan dan jati diri, saling menghargai dan tidak terlalu obsesi. Fandom yang sejati dapat memberikan hal positif bukan negatif. Bijak memilah fandom, jangan terjerumus toxic yang merugikan orang lain. Idola bukan ratu atau raja yang patut diberi tameng berlebihan, kita cukup sebagai fans atau pengagum bukan budak.

1 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
1
0
profile picture

Written By Rizqiyanabila

This statement referred from