EKSISTENSI TUHAN : KEMBALI KEPADA FITRAH
Hai, aku sampaikan salam hangat untuk kalian semua! Kali ini kita akan membahas hal yang menarik, loh. Kita akan mengenal lebih dalam tentang Sang Pencipta. Yuk, buka pola pikir seluas-luasnya!
Pernahkah kamu berpikir, siapa yang menciptakan alam semesta dan manusia itu sendiri? Bagaimana alam semesta ini tersusun sangat rapi dan planet-planet tidak bertabrakan? Dan, untuk apa manusia diciptakan?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kita harus memaksimalkan tiga modal dasar yang ada pada diri kita. Apa tiga modal dasar itu? Yaitu, pendengaran, pengelihatan, dan akal.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenal Sang Pencipta. Kita tidak akan mengerti maksud perintah dan larangan-Nya tanpa memahami Sang Pencipta itu sendiri. Seperti contoh; anda mendapatkan sebuah surat dari orang penting yang isinya sebuah perintah. Anda hanya membaca surat itu, membacanya berulang-kali, bacaan anda sangat baik dan merdu. Namun anda hanya diam di tempat itu sambil membaca tanpa paham dan tidak melaksanakan isi surat itu. Tidakkah akan marah si pengirim surat itu?
Sama halnya dengan Sang Pencipta. Ia memiliki sistem, hukum, aturan yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh ciptaannya, termasuk manusia itu sendiri. Namun, bagaimana kita akan mengerti peraturan Sang Pencipta? Di mana kita akan mendapat petunjuk itu? Sedangkan Sang Pencipta itu ghaib (tidak terlihat), kita tidak pernah bertemu secara langsung dengan Sang Pencipta dan berdialog dengan-Nya. Sangat mustahil, bukan?
Agar kita mendapatkan kebenaran atau petunjuk, tentu saja kita harus mengenal Sang Pencipta terlebih dahulu. Namun pertanyaannya, bagaimana cara yang benar untuk mengenal-Nya? Untuk itu, tiga modal dasar tadi, pendengaran, penglihatan, dan akal harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Di sini kita harus berpikir secara Rasional dan Universal, apapun jawabannya bisa diterima oleh semua orang dan masuk akal.
Ada dua cara untuk mengenal Sang Pencipta. Yaitu, melalui Alam dan juga Firman-Nya.
Coba anda lihat, bagaimana tatanan alam semesta baik di langit maupun di bumi. Setelah benda-benda langit dan bumi diciptakan, tidak mungkin mereka diciptakan tanpa tujuan dan juga aturan. Tentu saja, sudah ada sistem-aturannya, seperti; planet bergerak tidak saling bertabrakan karena memiliki orbit masing-masing yang diatur oleh gaya gravitasi, tumbuhan dan hewan yang fitrahnya sudah seperti itu; hewan memang memiliki akal, namun akal itu hanya untuk naluri dan nafsunya saja; hidupnya hanya sebatas mencari makan dan bertahan untuk hidup di habitatnya. Pernahkah anda melihat ada yang salah? Alam semesta dan makhluk hidup sudah tunduk patuh terhadap sistem-aturan yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta, kecuali manusia. Manusia adalah makhluk yang lebih tinggi derajatnya dari ciptaan-Nya yang lain, karena kecerdasannya. Namun, karena telah diberi akal itu, manusia menduakan Sang Pencipta.
Sang Pencipta sudah memiliki hukum-aturan sendiri, itu disebut sistem ketunduk-patuhan. Kalau melihat alam semesta, tumbuhan dan hewan, mereka sudah tunduk patuh, 'kan? Mereka hidup ya sudah begitu saja sesuai dengan fitrahnya. Apakah anda tahu fitrahnya manusia? Tidak berbeda kok dengan alam semesta, tumbuhan, dan hewan. Yaitu, tunduk patuh atau lebih padatnya adalah mengabdi. Iya, itulah tujuan manusia diciptakan, mengabdi kepada Sang Pencipta dan hukum-Nya.
Kita juga harus bisa membaca. Yaitu, membaca kondisi dan zaman. Apakah kehidupan manusia sudah berada di-fitrahnya? Bagaimana aturan atau hukum yang berdiri di negara ini? Apakah membawa kesejahteraan dan kedamaian? Karena realitanya, hukum-hukum buatan manusia seolah-olah membawa kedamaian namun tidak sesuai dengan tujuan dibuatnya hukum itu. Mengapa ini bisa terjadi? Tentu saja, karena manusia belum memahami esensi dan eksistensi Tuhan, Sang Pencipta.
Manusia juga hasil dari ciptaan-Nya, maka dari itu yang berhak untuk ditaati hanyalah Sang Pencipta, termasuk sistem ketunduk-patuhan itu sendiri. Jika kita ingin mengenal Sang Pencipta, maka hidupkan Tuhan di dalam kehidupan anda. Yang harus dipatuhi hanyalah Dia, bukan manusia. Yang harus ditaati pula sistem ketunduk-patuhan-Nya, bukan hukum-hukum buatan manusia.
Kembali lagi, kita harus berpikir secara Rasional dan Universal. Manusia cenderung memiliki sifat serakah, orang yang lebih kaya dan pintar, akan menindas yang miskin dan bodoh. Manusia juga bisa menjadi binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Kenapa begitu? Karena binatang; harimau betina mampu berempati dan memberikan kasih sayang kepada anak harimau, meskipun ia binatang liar yang akalnya tidak secerdas manusia. Namun, manusia yang tidak mampu berempati dan berkasih sayang terhadap sesama manusia, perumpamaannya seperti hewan ternak bahkan lebih sesat lagi.
Manusia diberi kelebihan, tapi keserakahannya yang membuat derajat manusia lebih rendah daripada binatang. Jadi, manusia yang lebih pintar akan membuat sistem-aturan sendiri dan tidak menggunakan sistem-aturan Tuhan. Mengapa begitu? Karena hukum Sang Pencipta sangat tegas, manusia tidak bisa berbuat jahat karena itu. Manusia yang serakah akan takut dengan sistem ketunduk-patuhan Sang Pencipta, sehingga manusia membuat hukum berdasarkan hawa nafsunya, tidak heran jika para manusia tidak merasakan yang namanya damai sejahtera.
Sang Pencipta tidak hanya berperan sebagai pengatur di alam dan langit saja, bahkan ke-kehidupan sosial manusia juga. Lihat di Kitab Suci, itu adalah sekumpulan sejarah para Nabi dan Rasul terdahulu, banyak yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah sebuah dongeng, karena banyak kata kiasan di sana. Sebenarnya itu adalah bahasa perumpamaan, bukan dongeng. Hanya orang berakal-lah yang dapat memahaminya.
Para Nabi dan Rasul terdahulu juga membaca ayat-ayat alam dan Kitab sebelumnya. Membaca ayat-ayat alam di sini maksudnya adalah memperhatikan perilaku alam semesta dengan memaksimalkan akal, dan memahami kitab suci yang sebelumnya, karena Sang Pencipta adalah satu, maka hukumnya juga sama.
Di Kitab Suci kita bisa belajar tentang kehidupan, karena aturan ada sebenarnya agar tidak kacau. Dengan Kitab Suci, kita memiliki pegangan untuk hidup, jika manusia sudah bersatu pemahamannya, dan hanya mengabdi kepada Sang Pencipta, maka hidup akan Damai Sejahtera.
Jadi, bagaimana? Apakah anda sudah mengerti siapakah Tuhan, Sang Pencipta, itu? Apakah anda sudah mengerti esensi dan eksistensi Tuhan? Hidupkanlah Dia dalam dirimu! Mari selalu menjadi pribadi yang berpikir secara Rasional. Dan, sampai jumpa!