Diskusi ala Sokrates: Menumbuhkan dan Mengembangkan Pemikiran Kritis
Di kelas sedang berlangsung pelajaran fisika. Guru menjelaskan materi seperti biasa. Lalu, seorang teman bertanya mengenai bilangan koefisien dari perhitungan suatu rumus (saya lupa tepatnya apa). Kira-kira seperti ini... “Pak, itu kenapa angkanya segitu?” Guru pun menjawab, “Ya emang udah dari sananya.” Teman saya kelihatannya tidak puas dengan jawaban tersebut dan ingin bertanya lagi tapi urung. Paling-paling jawabannya diulang. Guru melanjutkan pelajaran dan teman saya lanjut menyimak tanpa memahami apa yang disampaikan.
Hal ini berbalikan dengan pelajaran biologi. Saat guru biologi menyampaikan materi, di pertengahan materi, beliau sering melempar pertanyaan pada kami. Pertanyaannya menguji pemahaman materi yang sudah kami pelajari selama ini. Saya sendiri jadi menyadari kalau pengetahuan yang ada di kepala saya hanya copy paste dari omongan guru biologi sebelumnya (yang sebatas mengikuti kurikulum) tapi saya tidak pernah benar-benar paham dan terbayangkan tentang hal yang diajarkan itu.
Beliau mengingatkan saya pada Sokrates, filsuf Yunani abad ke-5 SM yang mendidik dengan memberikan serangkaian pertanyaan pada muridnya untuk menguji keyakinan dasar yang membentuk cara pandang dan opini mereka—yang disebut metode Sokrates. Sokrates juga sering bertanya pada orang-orang random yang ia temui. Dari pendekatan Sokrates ini, saya menyadari bahwa manusia tidak otomatis berpikir kritis.
Padahal, pemikiran kritislah yang mengarahkan kita untuk mengembangkan pemahaman. Pemikiran kritis menumbuhkan kesadaran. Karena itu, untuk menjadi manusia yang sadar, kita memerlukan kemampuan untuk berpikir kritis.
Mengapa Tidak Semua Manusia Berpikir Kritis?
Tidak semua manusia berpikir kritis karena berbagai faktor. Salah satunya adalah lingkungan sosial dan budaya. Lingkungan yang tidak mendorong diskusi dan pertanyaan kritis cenderung membuat seseorang merasa nyaman dengan pengetahuan yang sudah ada tanpa mempertanyakannya. Lalu, di beberapa budaya, mempertanyakan sesuatu yang diberikan oleh orang yang lebih tinggi (kehormatannya) dianggap tidak sopan dan tidak hormat. Kebiasaan ini bisa membentuk pola pikir yang pasif dan mau gak mau harus menerima.
Selain itu, pendidikan juga berperan. Sistem pendidikan yang lebih mengutamakan hafalan daripada pemahaman mendalam dapat menghambat perkembangan pemikiran kritis.
Bagaimana Menumbuhkan dan Mengembangkan Pemikiran Kritis?
Manusia tidak dilahirkan langsung dengan pemikiran kritis tetapi terbentuk melalui latihan dan penerapan yang konsisten. Berikut hal-hal yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan dan mengembangkan pemikiran kritis.
1. Bertanya
2. Berpikirlah secara terbuka
3. Menganalisis informasi
4. Berdiskusi
5. Kembangkan kebiasaan membaca
6. Berlatih menulis
7. Beropini
Pemikiran kritis bukanlah keterampilan yang muncul begitu saja, tetapi perlu dikembangkan melalui usaha dan kebiasaan yang konsisten. Menerapkan pemikiran kritis tidak berarti menolak informasi atau berfokus pada kesalahan. Berpikir kritis berarti mampu mengklasifikasi pemikiran sehingga dapat menguraikan masalah atau informasi, memahami dengan tepat, dan menggunakan pemahaman itu secara efektif dan bijaksana dalam berbagai situasi.
References:
Monash University. “What Is Critical Thinking.” November 3, 2022. https://www.monash.edu/student-academic-success/enhance-yourthinking/criticalthinking/whatiscriticalthinking#:~:text=People%20who%20apply%20critical%20thinking,improved%20through%20practice%20and%20application.
Conor, Peter. “The Socratic Method: Fostering Critical Thinking.” Colorado State University. April 13, 2022. https://tilt.colostate.edu/the-socratic-method/