Tuhan, Engkaukah Itu? Menilik Eksistensi Tuhan dalam kehidupan Manusia

profile picture aile_moon
Humaniora - Other

Tuhan, Engkaukah Itu? Menilik Eksistensi Tuhan dalam Kehidupan Manusia

=====

=====

Sebelum membahas pertanyaan-pertanyaan menarik di atas, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu, apa arti dari kata 'Tuhan' dan apa makna dari kata 'Tuhan' itu sendiri.

Tuhan berasal dari kata bahasa Sansekerta 'Tuh Hyang' yang artinya roh atau dewa yang memiliki posisi tertinggi dalam kahyangan atau surga, pengertian ini tentunya sejalan dengan kepercayaan dan keyakinan yang berkembang pada saat itu. Istilah Tuhan sendiri sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita, beberapa dari mereka menyebut Tuhan sebagai Allah, Yesus, Elohim, Yahweh, Lord, God, Theos; dan banyak istilah lain yang mungkin berbeda-beda di setiap daerah atau setiap keyakinan yang dipeluk oleh masing-masing orang.

Tuhan dikenal sebagai Sang Pencipta, Sang Pembuat, juga Sang Pengatur. Di Dalam Islam kita mengenal Asmaul Husna yaitu nama-nama baik Tuhan yang berjumlah 99, yang sekaligus menunjukkan kewenangan-kewenangan dan kemampuan-kemampuan Tuhan dalam mengayomi makhluk-makhluknya. Dalam ajaran Hindu, kita mengenal ada tiga dewa utama, yaitu Brahma sebagai Dewa Pencipta, Krishna sebagai Dewa Pemelihara, dan Siwa sebagai Dewa Penghancur/Pemusnah. Dalam ajaran Kristen, Buddha, Konghucu, maupun kepercayaan-kepercayaan lainnya, saya rasa tafsir mengenai esensi Tuhan tidak akan jauh berbeda pada hakikatnya dengan satu sama lain.

Kemudian, kembali pada tujuan utama penulisan artikel ini, ada tiga pertanyaan yang membuat saya tertarik dan tergerak untuk menjawabnya. Pertama adalah bagaimana membuktikan keberadaan Tuhan itu ada secara rasional dengan 5 indra manusia? Kedua, bagaimana mungkin roh Tuhan bisa berada di banyak tempat saat umatnya atau manusia-manusia beribadah? Dan yang ketiga, pertanyaan yang cukup menggelitik untuk saya, mengapa ada kejahatan di bumi ini jika memang Tuhan itu ada? Mengapa seluruh kejahatan tidak dilenyapkan? Sehingga manusia bisa hidup damai sejahtera? Saya akan berusaha untuk menjawab 3 pertanyaan ini menurut pandangan dan kepercayaan saya, juga mungkin sedikit mengutip pendapat ahli, secara singkat, jelas, dan sederhana.

Pertama adalah bagaimana membuktikan keberadaan Tuhan itu ada secara rasional dengan 5 indra manusia? Seperti yang sudah saya singgung sedikit di atas, Tuhan didefinisikan oleh sebagian besar ajaran atau kepercayaan sebagai sang pencipta. Tuhan menciptakan segala hal, alam semesta beserta isinya, bumi, bulan, matahari; hingga hal-hal terkecil dalam kehidupan kita, setiap ukiran pada batang kayu, setiap pori-pori daun, setiap buih yang terombang-ambing bebas di lautan. Tuhan menciptakan seluruh makhluk yang ada di muka bumi, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Manusia, hewan, tumbuhan, jin, malaikat, setan; Tuhan menciptakan semua itu. Melihat ciptaannya sama dengan melihat eksistensi Tuhan itu sendiri.

Kembali pada pertanyaan, saya rasa pembuktian akan keberadaan Tuhan secara rasional dengan kelima indra manusia sangatlah sederhana. Manusia adalah salah satu entitas yang diciptakan oleh Tuhan. Baik jiwa dan raganya adalah ciptaan daripada Tuhan, setiap bagian dari tubuhnya adalah ciptaan Tuhan. Setiap helai rambut, pori-pori kulit, dan panca indra, merupakan ciptaannya. Jadi, saya rasa, tanpa perlu pembuktian rumit dan panjang akan keberadaan Tuhan lewat 5 indra manusia, adanya kelima panca indra itu sendiri sudah membuktikan eksistensi Tuhan. Karena melihat ciptaan Tuhan sama dengan menyaksikan eksistensi Tuhan itu sendiri.

Yang kedua adalah bagaimana mungkin roh Tuhan bisa berada di banyak tempat saat manusia-manusia beribadah? Pada dasarnya Tuhan itu esa/satu/tunggal. Sekali lagi ini menurut kepercayaan saya sebagai monoteisme. Tetapi Tuhan dapat hadir di banyak tempat saat umatnya beribadah. Pada hakikatnya, beribadah adalah bentuk wujud kita mencintai dan menyayangi Tuhan, dengan cara agama masing-masing. Di saat kita beribadah, bukan Tuhan yang hadir, tetapi esensi daripada Tuhan itu sendiri. Apa esensi daripada Tuhan? Esensi daripada Tuhan adalah perasaan kasih sayang, perasaan mencintai, yang kemudian ada dalam hati kita, dalam batin kita, yang kemudian kita yakini sebagai wujud kehadiran Tuhan dalam setiap ibadah kita.

Yang terakhir adalah mengapa ada kejahatan di bumi ini? Jika memang Tuhan itu ada mengapa seluruh kejahatan tidak dilenyapkan? Sehingga manusia bisa hidup damai sejahtera? Kejahatan ada di bumi ini karena sifat atau naluri manusia, di mana manusia memiliki nafsu, memiliki keinginan, yang kemudian jika tidak dikelola dan dikendalikan dengan baik akan menimbulkan kejahatan yang merugikan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Lalu, jika Tuhan ada mengapa kejahatan itu tidak dilenyapkan? Pada dasarnya Tuhan memang sengaja menciptakan kejahatan lewat diri manusia, penciptaan kejahatan ini bertujuan untuk menyeimbangkan kehidupan yang ada di dunia, sehingga tidak hanya ada kebaikan saja, tetapi juga ada kejahatan. Seperti adanya siang dan malam, serta adanya terang dan gelap, kebaikan dan kejahatan merupakan antinomi atau sesuatu yang sebenarnya bertentangan, tetapi tidak dapat dipisahkan dan saling membutuhkan.



Referensi

https://www.kompasiana.com/amp/abangsihar/55006dc1a33311bb74510e85/definisi-tuhan

https://www.satuharapan.com/read-detail/read/tentang-nama-tuhan

5 Agree 2 opinions
2 Disagree 1 opinion
5
2
profile picture

Written By aile_moon

This statement referred from