Menguak Kebenaran | Berhasil Melewati Pandemi, Apakah Benar Covid-19 dan Vaksin adalah Konspirasi?
Pandemi Covid-19 di konteks Indonesia telah terjadi selama kurang lebih 2 tahun, terhitung sejak diumumkannya kasus yang pertama pada tanggal 2 Maret 2020 sampai akhirnya secara resmi Presiden menyatakan boleh melepas masker diluar ruangan pada 17 Mei 2022. Virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang dikenal dengan COVID-19 yang berasal dari China tersebut berhasil membuat sejarah dunia. Terakhir tercatat sebanyak 6.957.216 kasus meninggal dalam lingkup global, yang dinyatakan dalam laman kemenkes.go.id.
Apakah dari kasus kematian yang tercatat tersebut, itu pertanda elit global berhasil dalam mencapai tujuannya seperti yang ramai diperbincangkan? Dimana kabarnya mereka memiliki agenda rahasia untuk bisa memusnahkan populasi manusia di dunia, agar mereka bisa menguasai dunia. Apakah dari kasus kematian yang tercatat tersebut bisa dikatakan sebagai indikasi atau bukti bahwasannya Covid-19 adalah senjata biologi dari China yang sengaja dilepaskan dari sebuah laboratorium dengan tujuan untuk menyerang negara tertentu?
Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah representasi dari bagaimana teori konspirasi sempat menjadi perbincangan dan tidak sedikit yang percaya. Tidak berhenti sampai disitu. Nyatanya teori konspirasi masih berlanjut bukan lagi membahas soal virusnya, melainkan pada vaksin yang dibuat oleh para ahli. Yang paling ramai adalah terkait dengan adanya video yang beredar yang membahas konspirasi tentang angka 666 yang dimana dinyatakan bahwa vaksin Covid-19 yang dapat mengubah untaian DNA sehingga menciptakan heliks ketiga. Pernyataan tersebut dihubung-hubungkan dengan angka 666 yang merupakan angka identik dengan satanisme.
Lantas bagaimana kebenaran tentang virus Covid-19 dan vaksinnya tersebut?
Fakta berpihak pada hasil penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa virus Covid-19 adalah sebuah virus yang berasal dari proses alami yang ditularkan oleh hewan seperti kelelawar. Sejumlah fakta baru juga ditemukan, bahwasannya virus Covid-19 berasal dari hewan yang terdapat di pasar makanan laut Huanan di Wuhan, China. Berdasarkan studi terbaru yang dimuat di jurnal Zenodo, peneliti menganalisis berbagai data yang menunjukkan bahwa virusnya pertama kali berpusat di pasar tersebut. Ada pula peneliti yang melaporkan adanya sampel dari area yang positif Covid-19 berkaitan dengan penjualan hewan hidup.
"Dengan membandingkan data sekuens genom yang tersedia untuk strain virus Corona yang diketahui, kita dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses alami," kata Kristian Andersen, PhD, seorang profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research. (cnbcindonesia.com)
Mengutip juga dari laman kominfo, Kepala Terapi Gen dan Sel Induk di Centenary Institute Professor John Rasko menyatakan bahwa narasi terkait dengan vaksin dalam video yang beredar tidaklah benar. Berdasarkan hasil riset puluhan tahun, sebagian besar ilmuwan percaya bahwa DNA manusia terdiri dari 20.000-25.000 gen secara total. Jumlah gen pada pernyataan teori konspirasi yang beredar itu di lebih-lebihkan, selain itu juga terdapat kesalahan metode dalam menghitung untaian gen yang tidak bisa sesederhana itu.
Dari data-data yang ada tersebut semakin memperkuat bahwasannya memang tidak ada ruang kebenaran bagi teori konspirasi dalam menilai masalah pandemi. Teori konspirasi tidak dapat dijadikan sebagai pijakan atau alat analisis untuk dapat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Hanyalah teori atau ilmu yang berkaitan dengan data-data yang terkait lah yang dapat digunakan, yakni teori yang berkaitan dengan variabel ilmu kedokteran dan ilmu lain seperti yang dilakukan para ahli. Dan hanya dengan cara atau metode ilmiah lah suatu kebenaran dapat terungkap, bukan dengan subjektifitas dan khayalan pribadi.
Konspirasi Covid-19 dan vaksin telah berdampak pada perilaku dan cara berpikir masyarakat dalam menghadapi persoalan pandemi yang seharusnya menjadi persoalan serius dan prioritas saat itu. Karena terlalu percaya pada konspirasi, alhasil tidak terlalu memperhatikan betapa bahayanya dan mematikannya virus ini, dampaknya sampai pada nyawa yang melayang baik nyawanya sendiri ataupun orang lain. Perilaku lain adalah sampai tak mau divaksin, lagi-lagi karena percaya terhadap adanya konspirasi.
Padahal ketidaklogisan dapat dilihat dari klaim-klaim yang disampaikan dari teori konspirasi dimana klaimnya tanpa disertai dengan argumentasi dan mudah sekali dipatahkan. Jika memang virus ini adalah buatan laboratorium dari suatu negara guna untuk menyerang negara tertentu, lantas mengapa seluruh dunia merasakan dampaknya, bahkan China dan Amerika sendiri juga kelabakan ketika mengatasi masalah ini? Jika memang buatan elit global untuk bisa mengurangi populasi manusia yang ada di seluruh dunia (tahun 2022) sebanyak 8 miliar orang. Maka jika dibandingkan, jumlah kasus kematian Covid-19 secara global hanya sekitar 0.087% dari penduduk di seluruh dunia. Lantas bagaimana cara elit global menguasai dunia dan siapa elit global yang dimaksudkan dalam konspirasi? Bagaimana bisa untaian DNA manusia berubah dengan mudah hanya dengan suntikan vaksin corona? Sayangnya, hingga sampai saat ini pandemi Covid-19 telah berakhir dan vaksin juga sudah disuntikkan pada sebagian besar masyarakat, tidak ada satupun konspirasi mengenai pandemi dan vaksin yang terbukti kebenarannya.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tak ada konspirasi dibalik pandemi dan vaksin Covid-19. Konspirasi mengenai pandemi hanyalah sebuah spekulasi yang tidak didukung dengan adanya bukti dan pertanggung jawaban yang pasti. Pandemi telah berhasil dilewati. Semoga kedepan masyarakat lebih bijak dalam mengolah sebuah informasi. Harapannya masyarakat dapat berpikir lebih ilmiah, agar bisa menjadi masyarakat yang bijaksana dan tepat dalam berperilaku dan bertindak agar tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri.
Sumber Referensi :