Cerita Soal Tuhan : Mengulik Lebih Dalam Eksistensi Tuhan Melalui Perspektif Para Filsuf

profile picture Anastiara19
Humaniora - Other

Berbicara mengenai konsep ketuhanan atau eksistensi Tuhan adalah problematika  dasar dan kompleks dalam sejarah pemikiran manusia. Eksistensi Tuhan seringkali masih dipertanyakan oleh kaum yang tak mempercayai adanya Tuhan atau bahkan kaum beragama namun masih belum benar-benar meyakini keberadaan Tuhannya.

Eksistensi Tuhan hingga kini selalu menjadi bahan perbincangan banyak kaum. Bahkan, seringkali menimbulkan perdebatan yang berkepanjangan. Sebab persoalan Tuhan menjadi hal yang sangat penting karena menyangkut keyakinan umat manusia dalam menjalani kehidupan.

Berbagai peristiwa alam yang terjadi di dunia ini seharusnya bisa menjadi acuan bagi umat manusia untuk menjalankan akal pikirnya bahwa peristiwa-peristiwa alam tersebut tidak serta merta terjadi begitu saja. Melainkan, ada sebuah kekuatan atas alam semesta yang mengendalikan segala hal yang terjadi di muka bumi ini. Di dalam islam, Dia-lah yang disebut sebagai Allah SWT, Sang Khalik atau Pencipta Alam Semesta.

Mulai dari susunan tata surya yang terbentuk begitu teratur, adanya peristiwa gerhana, hujan dan peristiwa alam lainnya merupakan fakta empiris bahwa terdapat kekuatan yang maha dahsyat di baliknya. Manusia biasa tentu tak dapat menciptakan itu semua.

Dikemukakan oleh Hopper bahwa persoalan mengenai ketuhanan dan keagamaan pada masyarakat modern dan kontemporer dewasa ini  semakin menukik ketika manusia berusaha untuk mempersonalisasikan agama dan Tuhan ke dalam kerangka konkret material yaitu peng-akumulasian institusi formal yang biasa disebut agama. Pandangan Hopper tersebut menegaskan bahwa ketika konsep keagamaan dan ketuhanan dipaksa untuk dimaterialisasikan (dengan menepikan spiritualitas metafisik) maka akan terjadi perdebatan dengan berbagai gejolak dan kontroversi mengenai Tuhan dan agama. Di dalam artikel ini,akan dijelaskan mengenai berbagai argumen para filsuf terhadap eksistensi Tuhan yang semoga dapat menambah wawasan baru bagi kita.

Ibn Rusyd

Ibn Rusyd merupakan salah seorang filsuf yang ikut menjabarkan pandangannya mengenai eksistensi Tuhan. Menurutnya, terdapat dua premis yang menunjukkan adanya kehadiran Tuhan.

Premis I : Alam semesta ini terwujud sesuai dengan kebutuhan manusia (A=B)

Premis II : Kesesuaian antara terwujud-nya alam semesta ini dengan kebutuhan manusia tersebut pasti diciptakan (B=C)

Konklusi : Jadi, alam semesta ini pasti diciptakan (ada Penciptanya) (A=C)

Premis yang dikemukakan Ibn Rusyd menunjukkan bahwa alam semesta ini ada dengan isi di dalamnya yang sesuai kebutuhan manusia. Oleh karena itu, berarti alam semesta telah didesain sedemikian rupa oleh penciptanya yaitu Tuhan.

Aristoteles

Aristoteles mengemukakan bahwa Tuhan merupakan “Penggerak Pertama”. Tuhan adalah penggerak yang tak bergerak. Dengan argumen teleologis, Aristoteles menjelaskan bahwa Tuhan adalah tujuan akhir dari kosmos ini. Ia satu-satunya bentuk yang berada dalam Dirinya sendiri dan terpisah dari bahan. Ia yang menjaga keteraturan gerak planet-planet dan bintang-bintang agar tetap pada jalurnya dan yang mempertahankan kelangsungan hidup makhluk-Nya di alam semesta. Tuhan itu abadi dan lengkap dalam Diri-Nya sendiri. Dia seluruhnya adalah aktualitas, tujuan akhir, cita-cita dan tujuan dari semua benda yang bergerak dan mencoba mewujudkan potensinya.

Anselmus

Ia mengemukakan bahwa Tuhan “ada” yang merupakan hal tertinggi yang dipikirkan oleh manusia. Tuhan adalah yang paling tinggi, paling dalam, paling jauh dari apa yang dipikirkan manusia. Seandainya manusia memikirkan sesuatu yang lebih besar daripada Tuhan, maka Tuhan yang dianggap sebagai sesuatu yang lebih besar itu seharusnya tidak ada dipikiran manusia. Hal tersebut menunjukkan bahwa Tuhan itu ada, sebab manusia memikirkannya.

Oleh sebab dari pemikiran Anselmus itu, muncul pertanyaan apakah Tuhan yang dimengerti manusia seperti itu adanya? jika iya, apakah itu nyata atau hanya akal budi (pemikiran) atau serupa dengan ilusi saja? Kemudian atas pertanyaan pertama, Anselmus menjawab yang intinya menyatakan bahwa kenyataan bahwa Tuhan bisa dipikirkan, dimengerti bahkan disanggah menunjukkan bahwa Tuhan itu ada, setidaknya ada dalam pemikiran.

Kemudian dari pertanyaan yang kedua, Anselmus berkata bahwa sebenarnya jika sesuatu tersebut tidak terdapat selain dalam akal budi atau pikiran, orang dapat memikirkan bahwa sesuatu tersebut terdapat juga dalam realitas, ini tingkatan yang lebih tinggi. Maksudnya, jika seseorang berpikir tentang sesuatu, maka sesuatu itu tentunya ada juga di luar akal budi atau pemikirannya itu, yakni di dalam realitas. Sebab jika tidak demikian, pemikiran tidak mempunyai objeknya, dan suatu pemikiran tanpa objek (apapun bentuk objeknya itu) adalah sangat mustahil. 

Thomas Aquinas

Filsafat Thomas Aquinas dikenal dengan sebutan Thomisme. Aquinas membuat karya-karya Aristoteles dikenal oleh para ahli di zamannya. Akan tetapi ia menolak bukti ontologis dari Anselmus dan tidak menyukai Plato. Terdapat lima jalan yang dikemukakan oleh Aquinas untuk menuju pemikiran adanya keberadaan Tuhan.

Jalan Pertama, Aquinas memusatkan pada kenyataan perubahan yang terjadi di dunia. Menurutnya bahwa saat ini segala sesuatu dalam proses perubahan diubah oleh sesuatu yang lain. Kembali ke Penggerak Pertama Aristoteles, Aquinas menyimpulkan: “Bila tangan tidak menggerakkan tongkat, tongkat tidak akan menggerakkan apapun. Jadi, seseorang harus sampai pada sebab atau perubahan pertama yang dia sendiri tidak diubah oleh sesuatu yang lain, dan inilah apa yang dimengerti oleh setiap orang dengan Tuhan.”

Jalan Kedua, Aquinas memusatkan pada kenyataan bahwa sebab dan akibat ada di dunia. “Sekarang bila anda menghapus suatu sebab, tulis Aquinas, anda juga menghapus akibat-akibatnya, sehingga anda tidak dapat mencapai suatu sebab terakhir, dan juga tidak sampai pada sebab pengantara, kecuali anda mempunyai sebab pertama”. Aquinas tidak dapat percaya akan suatu rantai tanpa batas dari sebab-sebab dan akibat-akibat yang merentang kembali ke keabadian, maka seseorang dipaksa untuk memperkirakan sebab pertama tertentu yang oleh setiap orang disebut “Tuhan”.

Jalan Ketiga, Aquinas menemukan ide ada dan tiada di dunia.  Aquinas mengklaim bahwa jika segala sesuatu di dunia dapat ada dan dapat tidak ada, maka harus ada suatu momen di mana tidak ada sesuatupun yang ada. Tidak mungkin sesuatu muncul dari ketiadaan. Maka seseorang dipaksa untuk menduga adanya sesuatu yang harus ada, dan keberadaan-Nya itu bukan diberikan oleh yang lain kecuali diri-Nya sendiri, bahkan Dia sendirilah yang menjadi sebab adanya hal-hal lain. Bagi Aquinas, seperti juga Anselmus, benda-benda di dunia mempunyai eksistensi kontingen (dapat ada atau dapat tidak), tetapi hanya Tuhan yang mempunyai eksistensi niscaya (Tuhan harus ada). Seandainya Tuhan tidak ada maka tidak ada sesuatupun yang dapat ada, sebab ciptaan tergantung pada eksistensi niscaya Tuhan agar mereka dapat ada atau hadir di dunia.

Jalan Keempat, mengacu kepada tingkatan kebaikan dan kesempurnaan di dunia. Misalnya, benda-benda semakin panas karena mereka mendekati yang paling panas. Maka dari itu, ada sesuatu yang paling benar atau paling baik dan paling mulia di antara benda-benda tersebut. Aquinas kemudian berkata “Maka, ada sesuatu yang menyebabkan keberadaan, kebaikan, dan kesempurnaan apapun yang ada dalam benda-benda. Inilah yang disebut “Tuhan”.

Jalan Kelima, menunjuk pada tatanan dan tujuan di dalam alam. Sebab tingkah laku mereka hampir tidak berubah, dan praktis selalu menjadi baik; yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar mengarah kepada satu tujuan, dan tidak hanya terjadi demikian karena kebetulan. Tidak ada sesuatupun yang tidak memiliki kesadaran mengarah pada suatu tujuan, kecuali diarahkan oleh seseorang dengan kesadaran dan pengertian; anak panah misalnya, mensyaratkan adanya seorang pemanah. Oleh karena itu, seseorang mengarahkan segala sesuatu di alam semesta pada tujuannya dengan pemahaman, dan inilah yang disebut “Tuhan”.

Rene Descartes

Rene Descartes merupakan filsuf rasionalis besar pertama, yang mengawali filsafatnya dengan suatu pertanyaan: Apakah ada metode yang pasti sebagai basis untuk melakukan refleksi filosofis? Untuk menjawab pertanyaan ini, Descartes menjalankan apa yang kemudian dinamakan sikap keragu-raguan radikal. Dengan ini Descartes menunjukkan sikapnya yang menganggap bahwa segala sesuatu hanya tipuan belaka, tidak menerima apapun yang benar jika ia tidak memahaminya dengan jelas dan terpilah-pilah. Jika seseorang meragukan segala sesuatu, ada satu hal yang tidak dapat diragukan lagi keberadaannya yaitu dirinya sendiri. Oleh karena itu, filsafat dari Descartes dikenal dengan ‘Aku berpikir, maka aku ada”. Dari pemikirannya tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dengan hanya memikirkan tentang Tuhan saja menunjukkan bahwa Tuhan itu ada.

Benedict Spinoza

Benedict Spinoza mengemukakan filsafatnya melalui definisi dari substansi. Menurutnya, substansi adalah apa yang berdiri sendiri, ada karena dirinya sendiri dan satu-satunya yang ada karena dirinya sendiri adalah sesuatu yang disebut sebagai Tuhan.

Immanuel Kant

Immanuel Kant adalah seorang filsuf yang berpengaruh dalam sejarah filsafat modern. Kant menjadi terkenal dan berpengaruh dikarenakan ajaran filsafat moral dan hubungan antara filsafat moral dengan keberadaan atau eksistensi Tuhan.

Hukum moral adalah hukum yang mengatur bahwa manusia bertindak sesuai dengan prinsip yang diyakininya sendiri dan justru karena kebebasan kehendaklah manusia bisa bertindak. Prinsip yang dianut oleh setiap manusia tersebut berasal dari keyakinannya akan ajaran Tuhan. Ketika meyakini prinsip ajaran Tuhannya tersebut, maka Tuhan menjaminnya dengan kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan tersebut disediakan oleh Tuhan bagi mereka yang berperilaku baik dalam aspek moralitas. Dengan demikian, tanpa keberadaan Tuhan maka moralitas manusia pun bisa hancur. 

Alfred North Whitehead

Whitehead adalah salah seorang filsuf yang mencetuskan konsep tentang Tuhan dan dihubungkan dengan alam. Konsep Whitehead tentang hubungan Tuhan dan alam, antara lain: 

  1. Memperlihatkan bahwa antara Tuhan dan alam mempunyai keterkaitan, hubungan korelatif dalam proses harmonisasi 
  2. Memperlihatkan hubungan Tuhan dan alam dalam dua proposisi sekaligus, Tuhan sama dengan alam dan Tuhan tidak sama dengan alam 
  3. Hubungan Tuhan dengan alam tidak bisa digambarkan secara linear, melainkan dalam kategori proses
  4. Hubungan Tuhan dan alam terbentuk dengan keserasian dan keseimbangan, sehingga secara spiritual menghidupkan kesadaran spiritual yang inheren dalam diri manusia dalam membangun hubungan timbal balik dengan sesama dan alam sekitar, atau dapat disebutkan sebagai usaha untuk mengedepankan etika lingkungan dalam melihat alam semesta.

Nah, itulah beberapa pandangan para filsuf mengenai eksistensi Tuhan. Eksistensi Tuhan memang tidak dapat kita rasakan secara kasat mata, karena Tuhan bersifat immaterial sehingga tidak dapat dilihat, dihirup, didengar, dirasakan ataupun disentuh dengan panca indera kita. Akan tetapi, kehadiran-Nya dapat dirasakan ketika kita menggunakan segenap akal pikiran kita untuk merenungi berbagai ciptaan yang ada di alam semesta serta berbagai pengaturan di dalamnya. Susunan tata surya, peristiwa alam gerhana, hujan, pelangi dan yang lainnya adalah beberapa bukti yang menunjukkan adanya kekuatan maha dahsyat di balik penciptaannya. Kekuatan maha dahsyat tersebut tentunya hanya dapat dimiliki oleh sosok yang tak diciptakan oleh sesuatu yang lain, dapat berdiri sendiri, dan ada sebelum alam semesta ada, yaitu Tuhan.

#eksistensiTuhan

Referensi :

Wardani, 2015. Argumen Eksistensi Tuhan Dalam Metafisika Ibn Rusyd Dan St. Thomas Aquinas. Jurnal Kanz Philosophia. 5 (31-58).

Supian, 2016. Argumen Eksistensi Tuhan Dalam Filsafat Barat. Jurnal Tajdid. 15 (227-246)

0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By Anastiara19

This statement referred from