Benarkah Depresi Menjadi Sebuah Tanda Bahwa Kita Sedang Jauh dari Tuhan?
Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita bunuh diri karena depresi. Bahkan yang lebih menyayat hati para korban masih berusia sangat muda. Dimana perjalanan hidup mereka masih sangat panjang.
Dilansir dari BBC News Indonesia, merujuk pada data SRS pada tahun 2018 yang sudah disesuaikan dengan estimasi kelengkapan survei 55%, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sebesar 1,12 per 100.000 penduduk. Menurut Bank Dunia, jumlah penduduk Indonesia pada 2018 adalah 267,1 juta jiwa. Dengan demikian, berarti ada 2.992 kematian akibat bunuh diri di tahun tersebut.
Lalu bagaimana dengan negara-negara maju di luar negeri sana? Tentunya akan lebih banyak lagi angka kematian akibat kasus bunuh diri. Negara yang sering kita lihat sangat maju dan modern, justru lebih banyak kasus bunuh diri karena pemikiran mereka yang menganggap bila kematian solusi untuk segala masalah.
".....Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya dialah yang Maha pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-nya sebelum azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)." (Qs. Az-zumar/39:53-54)
Jelas sekali pada potongan ayat Al Qur'an dijelaskan bahwa sesungguhnya tuhan selalu berada di dekat hamba-hamba-Nya dan selalu menolong hambanya di saat terburuk sekalipun. Yah, mungkin karena beberapa faktor akhirnya banyak orang yang lebih memilih mati daripada hidup. Besarnya tuntutan hidup, ajaran yang tidak sesuai, bisa membuat mereka bingung dan frustasi untuk mengobati diri mereka sendiri. Hingga mereka memilih mengakhiri hidupnya agar segala masalah selesai. Namun apa artinya semua itu bila pada akhirnya segala perbuatan itu akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.
Tahukah kalian bahwa orang yang paling sengsara di muka bumi, bukanlah dia yang tak punya apa-apa atau miskin, bukan juga mereka yang yatim piatu. Akan tetapi mereka lah yang miskin iman dan krisis keyakinan, meski hidupnya selalu bergelimang harta namun mereka fakir iman dan tak mengenal Tuhannya. Semua itu akan menjadi cuma-cuma, sebab hidupnya akan selalu diliputi rasa kegelisahan demi kegelisahan.
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatanku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." (Qs. Thaahaa:124).
Tak ada yang dapat menghadirkan ketenangan di hati selain Ilahi. Ketenangan dan kebahagiaan tak bisa di dapat dari kenikmatan dunia. Sebab yang kaya raya namun jauh dari tuhan banyak pula yang gila, bukan juga dari mewahnya pakaian dan lezatnya makanan sebab banyak pula yang diberikan seperti itu namun terus mencari kebahagiaan yang lain. Karena sejatinya kebahagiaan itu datangnya dari Ilahi, sebagaimana rasulullah yang meski diberikan begitu banyak cobaan, tak pernah merasakan depresi dalam menjalani hari-hari semasa hidupnya dahulu.
Dahulu saya tidak pernah mengerti tentang arti kata “Segala kebahagiaan dan ketenangan datangnya dari Allah.” Benar saja saya selalu mencari kebahagiaan dari dunia, dan selalu menyalahkan Tuhan bila ujian itu datang. Bertahun-tahun saya mengalami keterpurukan, hingga bisikan bunuh diri itu datang kepada saya. Sampai suatu hari saya diberi sakit dan mulai berpikir, bagaimana bisa saya begitu jauh dari tuhan padahal menginginkan kebahagiaan dan ketenangan hati. Mulailah saya melewati fase pemulihan, disitu saya mencoba mendekatkan diri secara spiritual kepada tuhan. Awalnya memang susah, karena sejatinya musuh terbesar dalam hidup adalah diri sendiri. Tahun-tahun silih berganti, hingga saya mulai menemukan sumber kebahagiaan dan ketenangan diri saya. Mata hati saya akhirnya terbuka, bahwa selama ini yang saya lakukan salah.
Saya mulai sadar bahwa eksistensi tuhan bagi umat manusia itu nyata adanya. Di saat saya benar-benar terpuruk di saat itu saya benar-benar jauh dari tuhan. Namun ketika saya mulai mendekatkan diri dan memperbaiki diri kepada-nya, kebahagiaan dan ketenangan itu datang dengan sendirinya. Pengalaman hidup yang saya alami ternyata memberikan suatu hikmah pada saya. Andai jika dahulu saya tidak diberikan ujian dan cobaan dari tuhan, maka saya tidak akan sekuat ini. Saya yakin bahwa segala hal yang terjadi dalam hidup sudah direncanakan dengan sempurna oleh tuhan, ada sesuatu yang indah di balik sebuah kesedihan. Masyaallah..
"Besar-kuat atau lemah, hangat atau dingin - iman anda, maka sebatas itu pula kebahagiaan, ketentraman, kedamaian dan, ketenangan anda."
('Aidh Al-Qarny)
*Sumber: Buku self healing with Al-Qur'an.