APAKAH TUHAN ITU ADA ATAUKAH HANYA ANGAN-ANGAN MANUSIA BELAKA?

profile picture meikel_prang
Humaniora - Other

Pada umumnya setiap manusia menyadari kehidupan di dunia ini tak lepas dari adanya campur tangan Tuhan yang Maha Kuasa pencipta alam semesta. Di seiring berjalannya kehidupan tak kala kehadiran Tuhan tidak dirasakan, yang mana itu adalah saat dimana kita manusia mengandalkan diri sendiri dalam melakukan suatu hal.

Sehingga Dalam situasi dimana kita mengalami kegagalan, kita merasa sendirian atau ditinggalkan, kita merasa pencobaan yang dihadapi tak mampu kita lalu, timbullah pikiran ‘Apakah Tuhan itu ada?’ Kita bertanya-tanya akan Eksistensi Tuhan yang kita yakini sebagai pelindung, penolong, sahabat yang setia, dan lain sebagainya.

Berdasarkan permasalahan hidup manusia, bahkan orang beriman sekalipun sering timbul pertanyaan yang bahkan lebih kritis lagi mengenai eksistensi Tuhan, di antaranya Mengapa orang beriman sering mengalami kejahatan? Mengapa orang yang berbuat baik berbuat kebenaran dan saleh mengalami hidup yang susah? Contohnya mengapa Tuhan tidak menyelamatkan semua penumpang yang ada di dalam pesawat diwaktu kecelakan pesawat. Atau Ketika terjadi bencana seperti banjir bandang, tanah longsor yang memakan begitu banyak korban.

Ditinjau dari Mengapa ada kejahatan di bumi ini? Jika memang Tuhan/Dewa itu ada, mengapa seluruh kejahatan tidak dilenyapkan sehingga manusia bisa hidup dengan damai?

Musibah yang terjadi di kehidupan ini tidak memandang latar belakang sosial, budaya, ataupun ekonomi seseorang. Begitu banyak tindak kejahatan yang pernah dan bahkan sering terjadi dalam kehidupan di dunia ini diantaranya perampokan, pembunuhan, pembulian, pemerkosaan, dan lain sebagainya, yang dialami oleh orang yang bukan penjahat saja, dan memang faktanya orang-orang yang hidup berpegang pada Tuhan mengalami yang namanya musibah, yang paling dikenal contohnya murid-murid Yesus sendiri mereka mengalami akhir hidup yang sangatlah hina ada yang dibunuh, disalib, dibakar, dipenjara, dan lainnya.

Seorang Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Budhi Munawar Rachman berpendapat bahwa, Tuhan sama sekali tidak terlibat dalam segala kejadian buruk yang menimpa manusia. Terinspirasi dari berbagai materi perkuliahan yang didapatnya dari profesor filsafat dan ahli teologi Louis Leahy di STF Driyarkara, Budhi menyusun pendapatnya itu dalam tulisan Tuhan dan Masalah Penderitaan, yang terdapat dalam buku Dunia, Manusia, dan Tuhan yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius tahun 2008. Menurut Budhi, dalam kehidupannya manusia perlu menyadari bahwa hukum alam yang melingkupinya bukan hanya memberi kesan keteraturan, melainkan juga bisa menyebabkan malapetaka bagi manusia.

Budhi pun memberikan contoh berbagai bencana alam yang terjadi seperti tsunami yang disebabkan oleh hukum gravitasi berakibat kepada penduduk yang sedang berada di sekitar pantai terhempas bahkan begitu banyak yang meninggal dunia. Benar adanya bahwa kita tak bisa hidup tanpa hukum yang ada didunia ini, seperti hukum gravitasi, maupun hukum-hukum alam lainnya, walau demikian Budhi mengatakan dalam tulisannya bahwa hidup dengan hukum alam berarti kita juga dikelilingi begitu banyak bahaya yang menyebabkan penderitaan.

Tak bisa dipungkiri pula, setiap manusia mempunyai haknya untuk bebas dalam mengelola kehidupannya masing-masing. Yang maha Kuasa pun memberikan kebebasan bagi manusia ciptaannya untuk memilih mana yang baik atau mana yang jahat untuk dijalani. Contoh ini dapat kita pelajari dari Adam dan Hawa, dimana Tuhan memberikan kebebasan untuk hidup di taman Eden dengan segala yang ada di dalamnya namun manusia tetap jatuh ke dalam Dosa. Sehingga dari hal tersebut Tuhan memberikan tanggung jawab kepada manusia untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya semasa hidupnya, tapi Tuhan tidak lepas tangan terhadap manusia.

Tuhan itu Maha Kuasa, Ia selalu ada disetiap sisi kehidupan kita manusia, susah senang suka duka tinggi rendahnya perjalanan hidup kita, seperti yang diyakini Leahy sebagai kekhasan etika agama monoteistik. Hal tersebut menimbulkan dua konsekuensi, yaitu Tuhan tidak akan mencampuri kehidupan manusia agar manusia benar-benar memiliki kebebasan. Manusia pun bebas untuk memilih merusak dirinya sendiri. Sebagai makhluk yang merdeka secara moral, manusia juga bertanggung jawab atas kehidupan yang sudah diberikan kepadanya. Bahkan dalam keadaan sengsara sekalipun Tuhan ada bersama kita, Tuhan prihatin dengan musibah yang dialami kita manusia tetapi tidak ikut campur, mengapa? Karena Ia sudah memberikan kebebasan kepada kita, Ia memberikan hukum alam supaya kehidupan kita teratur, pilihan berbuat baik bisa dilakukan oleh kita manusia namun 

Kebebasan telah diberikan Tuhan bagi kita dan memberikan hukum alam yang membuat hidup ini bisa teratur, sebagai manusia ada pilihan berbuat baik yang bisa selalu dilakukan, mengembangkan diri, dan merealisasi apa yang menjadi tujuan hidupnya, tutur Budhi mengutip pendapat Leahy. Ada ungkapan yang diyakini banyak orang Jawa, Gusti ora sare. ‘Tuhan tidak tidur ketika manusia menjalani semua kehidupannya. Persepsi manusialah justru yang menentukan pemaknaan keberadaan Tuhan’. 

Psikologi rasa bersalah yang berkembang di era saat ini yang terkadang semakin membuat manusia menderita. Tak jarang manusia menyalahkan dirinya sendiri atas segala musibah yang dialami. Tak jarang pula rasa bersalah, amarah, kecemburuan, iri hati, maupun dengki tercipta dengan sendirinya dalam pikiran manusia yang semakin menambah kesengsaraannya. Ada hal yang menarik, dimana keberadaan Tuhan sering kali tidak dipertanyakan, ketika manusia berada dalam kebahagiaan. Tuhan sering kali tidak di anggap ketika manusia terlalu berfokus pada kemampuan diri sendiri. Kebahagiaan yang bahkan sangat mudah didapatkan ketika ungkapan syukur dipanjatkan kepada Tuhan pun akan senantiasa terlewat.

18 Agree 7 opinions
12 Disagree 5 opinions
18
12
profile picture

Written By meikel_prang

This statement referred from