Apakah Tuhan Adalah Persepsi?

profile picture Thoriq Abdhi
Humaniora - Other

Usaha untuk memahami konsep ketuhanan dan mengerti tentang zat Tuhan sudah dimulai sepanjang sejarah kehidupan manusia. Manusia selalu mencari asal-usul dirinya dan alam semesta. "Bagaimana semua ini bermula? Darimana asal kita? Dan Bagaimana akhirnya?”, itu semua adalah sekelumit pertanyaan dari manusia untuk mencari pembenaran. Dan secara tidak langsung manusia sedang mencari Tuhan. 

Manusia adalah makhluk yang tercipta dengan berbagai macam privilege. Tubuh manusia adalah sebuah kenyataan yang tampak dari kekosongan dan kegelapan yang ada di jagat raya. Salah satu indera manusia, mata, diberikan kuasa untuk membedakan berbagai macam warna, satu hal yang tidak dimiliki hewan. Kemewahan lain yang ada pada manusia adalah akal. Prinsip berpikir rasional, logis, obyektif, realistis, atau praktis merupakan turunan karena akal yang dimiliki manusia. 

Akal adalah jiwa intelek pada manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain di dunia. Karena hanya dengan akal,  manusia dapat memahami Tuhan. Akal adalah pemrograman sedemikian rupa sehingga manusia mengerti akan turunan dari sifat awal, yaitu citra sesungguhnya dari Tuhan (Homo Imago Dei). Beberapa manusia akan secara tidak sadar bergerak menolong manusia lain yang terjatuh di jalan, hal yang sulit dan tidak terjadi pada kerajaan binatang. 

Akal menuntun manusia pada penciptanya. Banyak ilmuwan mencari tahu asal mula dunia ini, dari mulai big bang yang populer di banyak buku sains, mekanika kuantum yang indah karena ruang dan waktu dapat melengkung, atau cosmic coincidence. Semua baru sampai teori, yang merupakan presepsi para ilmuwan tersebut. Secara tidak langsung kita sedang mencari Tuhan, yang merupakan jawaban akhir dari pertanyaan membingungkan di atas. Akal manusia memang luar biasa, alih-alih cukup diam dan menerima kenyataan bahwa manusia itu steady state. Ada sebuah pancaran Ilahi yang secara tidak langsung membuat manusia mencari tahu tentang dirinya. Akal adalah kebajikan terbesar yang Tuhan berikan kepada manusia. 

Pemikiran manusia menuntunnya pada wujud asal mula alam semesta. Ini merupakan perumpamaan lain dari pencarian wujud Tuhan. Indera manusia menyokong akal untuk berpikir rasional. Namun, sesuatu yang tidak terdefinisi dan tidak memerlukan penjelasan adalah wujud sesungguhnya. Tuhan adalah zat tersebut. Mulla Shadra asy Syirazi menjelaskan "tidak ada konsep perumpamaan, persamaan, dan perlawanan bagi-Nya; tidak ada definisi bagi-Nya; dan tidak ada pula penjelasan yang dapat menjelaskan-Nya. Karena Dia adalah penjelas bagi segala sesuatu; Tidak ada yang lebih tahu dan mengetahui selain zat-Nya sendiri dan tidak ada saksi atas-Nya. Justru Dia-lah saksi atas segala sesuatu.” (Mulla Shadra, 2011)

Selagi para ilmuwan itu membuktikan asal mula penciptaan alam semesta, kita juga harus melihatnya seimbang dari sudut pandang sejarah. Adam manusia pertama diberikan kebebasan (free will) untuk menggunakan akalnya, tapi setelah Allah mengajarkan seluruh pengetahuan kepada Adam dan mempercayakan Adam untuk tidak mendekati salah satu pohon, Adam justru melanggarnya. Maka Allah memberi Adam hukuman tinggal di bumi (QS. Al-Baqarah 30-39). Sehingga, secara tidak langsung saat ini kita sedang menjalani ujian dari Tuhan. Ujian adalah cara Tuhan mengukur kemampuan hamba-Nya. Dan karena yang dilanggar adalah kepercayaan Tuhan terhadap Adam, maka Tuhan Yang Maha Bijaksana menguji manusia tentang kepercayaan. Jika Tuhan Yang Maha Esa itu tampil di depan peserta ujian, maka tidak diperlukan lagi yang namanya ujian tersebut.

Cerita Musa yang berdialog dengan Tuhan tetapi dalam beberapa versi termasuk Al-Qur’an menyatakan bahwa bukit sinai meledak karena ketidakmampuannya jika dibandingkan dengan Tuhan. Cerita tersebut dapat menjadi bukti lain yang menguatkan eksistensi Tuhan, cerita yang ada dalam setiap agama samawi. Pada Agama Nasrani dapat ditemukan pada Kitab Keluaran dan Ulangan. Pada Agama Islam dapat ditemukan pada Surat Al-A’raf. Sementara Agama Yahudi sangat mempercayai perintah Tuhan yang diberikan kepada Musa. Apakah cerita itu memiliki pembenaran? Kembali, Vox Populi Vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Jika ada suatu pengetahuan yang dipercayai sekelompok besar manusia, yakinlah pasti itu merupakan suatu kebenaran. Akal manusia tidak pernah menuntun pada keburukan, sebaliknya keburukan yang dilakukan manusia adalah hasil dari sifat manusia lain, yaitu apa yang dikenal sebagai nafsu. Tidak mungkin sejarah dapat dipelintir sedemikian rupa oleh manusia, apalagi sejarah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Filosof berpikir pada ranah logika (sesuatu yang masuk akal dan dapat ditangkap indera), tapi tentu itu tidak menjawab ketiadaan seperti apa sebelumnya. Kehampaan seperti apa yang membentuk kita seperti sekarang. Jawabannya sebenarnya ada pada agama. Sains justru terlihat seperti jembatan panjang antara kita yang sekarang dan Tuhan di ujung sana. Karen Armstrong berpendapat bahwa Tuhan berada di luar apa yang mampu dicapai oleh pikiran manusia. Manusia tidak akan pernah sampai kepada pengetahuan sempurna tentang zat-Nya (Karen Armstrong, 1993). Satu penjelasan dari Muhammad Quraish Shihab tentang wujud Tuhan “kalau kita membuka lembaran-lembaran Al-Qur’an, hampir tidak diketemukan ayat yang membicarakan wujud Tuhan, bahkan Syaikh Abd. Halim Mahmud dalam bukunya Al-Islam wa al-‘Aql menegaskan bahwa jangankan Al-Qur’an kitab Taurat dan Injir dalam bentuknya yang sekarang pun (perjanjian lama dan perjanjian baru) tidak menguraikan tentang wujud Tuhan. Itu disebabkan wujud-Nya sedemikian jelas dan terasa sehingga tidak perlu dijelaskan.” (M. Quraish Shihab, 1999)

Agama seperti mikroskop. Mikroskop yang dapat menampakkan wujud renik yang tak kasat mata. Agama adalah cara untuk memahami Tuhan sesungguhnya. Agama yang mempersepsikan Tuhan dalam bentuk yang jelas. Menuntun manusia pada kebaikan. Jika agama dikatakan menuntun pada tindakan kekerasan seperti teroris, radikalisme, atau kekerasan lain berlebel agama. Yakinlah, hukum yang kita buat sekarang tujuannya juga untuk mengatur manusia menjadi baik, tapi masih ada saja manusia yang melanggarnya. It’s Free Will.

Referensi lain:

  1. Al-Qur’an dan Terjemahannya.
  2. https://www.mail-archive.com/[email protected]/msg02649.html, diakses pada 19 Februari 2023.
  3. https://www.qureta.com/post/hipotesis-asal-mula-semesta-ala-stephen-hawking, diakses pada 21 Februari 2023 
  4. https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-59977502, diakses pada 22 Februari 2023.
  5. https://www.churchofjesuschrist.org/study/manual/old-testament-stories-2022/moses-on-mount-sinai?lang=ind, diakses pada 22 Februari 2023.
2 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
2
0
profile picture

Written By Thoriq Abdhi

This statement referred from