Probabilitas Resesi 2023 Menghantam Indonesia

profile picture kayyizah_maizura_bilbina
Ekonomi - Dalam Negeri

Mengawali tahun 2023, ekonomi global dihadapkan dengan ancaman resesi ekonomi sebagai dampak berbagai peristiwa tahun-tahun terakhir, katakanlah pandemic covid-19, invasi Rusia ke Ukraina, dan penurunan ekonomi Amerika Serikat. Efek domino dari berbagai peristiwa tersebut sukses menyeret seluruh dunia dalam ketakutan akan resesi global. 

Sejak 2022 lalu, organisasi keuangan dunia atau International Monetary Fund (IMF) telah memperingatkan ancaman resesi ekonomi yang menghantam banyak negara pada 2023. Termasuk Presiden Jokowi sendiri yang memperingatkan ancaman resesi tersebut. Hal ini menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Masih ingat bagaimana resesi langsung menjadi trending topik di banyak media sosial? 

Di tengah keadaan global yang begitu tak pasti dimanakah posisi Indonesia saat ini? Akankah Indonesia keluar dari badai resesi ini dengan bangga atau tertatih-tatih? 

Bab 1 – Resesi

Resesi menjadi momok tersendiri. Apalagi karena resesi selalu diikuti dengan prediksi peningkatan kemiskinan. Hal ini karena resesi merupakan keadaan dimana terjadi penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan. 

Resesi dapat dianggap sebagai kondisi dimana ekonomi sebuah negara memburuk, ditandai dengan pertumbuhan negatif dari GDP suatu negara, meningkatnya angka pengangguran, dan pertumbuhan nilai rill di angka negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Dunia telah dihantam resesi berkali-kali. Diantaranya, 5 kali resesi yang terjadi setelah perang dunia ke-II yaitu pada tahun 1975, tahun 1982, tahun 1991, tahun 2008, dan tahun 2020. 

Resesi 1975 merupakan imbas embargo minyak oleh Arab Sudi pada Oktober 1973. Walaupun embargo hanya terjadi setahun, dampaknya terasa dari meningkatnya nilai minyak dunia secara tajam sehingga memicu inflasi gila-gilaan. 

Resesi 1982 dampak dari revolusi Iran 1979 yang menyebabkan naiknya harga minyak disusul pengetatan kebijakan monitor Amerika Serikat. 

Resesi 1991 dipicu oleh meletusnya Perang Teluk I juga pengetatan kredit Amerika Serikat, efeknya pun terasa sampai ke benua eropa dimana banyak negara eropa terkena krisis monitor. 

Resesi 2008 menjadi boomerang bagi sektor properti Amerika Serikat karena terjadi kredit macet yang imbasnya membuat lesu perekonomian global. 

Resesi 2020 menjadi resesi paling baru dan mungkin yang paling familiar untuk kita semua. Apalagi kalau bukan karena pandemi covid-19 yang sukses menyeret seluruh dunia ke ujung jurang terujung.

Indonesia sejak berdirinya pernah dihantam resesi sebanyak 3 kali, yaitu pada tahun 1963, disusul tahun 1998, dan baru-baru ini pada tahun 2020. 

Resesi pertama tahun 1963 sebagai dampak dari ketidakstabilan kondisi Indonesia pada masa tersebut, sebut saja hiperinflasi, penetapan kebijakan yang ‘serampangan’, dan tentu berbagai main politik yang menjamah hampir seluruh sektor. 

Disusul tahun 1998, dimana terjadi krisis finansial yang mewabah negara-negara asia. Bermula dari mata uang Thailand, bath yang diambangkan namun berujung pada tumbangnya bath. Segera setelah bath tumbang, rupiah ikut tumbang. Hal ini berujung pada berbagai efek domino dan puncaknya, Presiden Soeharto turun. 

Dan yang terbaru, seperti biasa, resesi tahun 2020 akibat pandemi covid-19 yang merajalela.

Dari berbagai resesi di atas, kita dapat meihat bahwa resesi acap kali dipicu oleh peristiwa dunia (dalam konteks negatif), krisis keuangan, dan inflasi.

Bab 2 – Probabilitas Indonesia selamat dari Resesi 2023

Sayangnya pembaca yang budiman, untuk Indonesia terbebas dari dampak resesi 2023 adalah hal yang hampir mustahil. Namun, juga tidak otomatis memberikan label resesi pada Indonesia. Bahkan dalam sejarahnya, Indonesia berhasil selamat disaat resesi tengah menghantam ekonomi global. 

Lalu bagaimana dengan tahun 2023 ini? Di sinilah kita akan menimbang probabilitas resesi 2023 di Indonesia.

Faktor Pendorong resesi 2023

Setidaknya, ada 2 faktor yang paling diresahkan dampaknya, Yaitu Inflasi dan perang antara Ukraina dan Rusia. Keadaan dunia sudah cukup parah dengan adanya pandemi covid-19, negara-negara harus mengikat perut dengan langkah proteksi pangan. Dampaknya, harga pangan melonjak kaena kurang suplai. Hal in diperparah dengan adanya invasi Rusia ke Ukraina yang merusak rantai pasokan makanan. Otomatis, terjadi inflasi ekonomi yang memaksa bank sentral menaikan suku bunga acuan. Inilah yang ditakutkan akan menyeret dunia pada jurang resesi. 

Bagaimana dengan Indonesia? 

Resesi 2023 di Indonesia

Probabilitas resesi untuk menimpa Indonesia terbilang rendah. Karena perekonomian Indonesia tidak bertumpu pada ekonomi global. Mengutip dari Chatib Basri, ekonom dari Universtas Indonesia sekaligus mantan menteri keuangan, bahwa “Indonesia memiliki keterikatan dengan ekonomi global yang terbilang lemah.” Entah patut disyukuri atau tidak, sektor ekspor-impor kita terbilang kecil dibanding negara lain. Sehingga, Indonesia hanya terdampak kecil jika ada krisis global. Contohnya, resesi 2008 lalu.

Faktor yang lain? Salah satu kekuatan Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak ke empat di dunia dengan konsumsi tinggi dalam negeri.

Indonesia adalah rumah bagi 2 73,52 juta jiwa. Hal ini menjadi keuntungan bagi Indonesia karena unggul jumlah. Selain itu, daya beli masyarakat kita terus meningkat setiap tahun. Terima kasih kepada para konsumen yang telah mendukung perputaran uang dalam negeri. Tingkat konsumen yang tinggi inilah yang membawa hadiah akhir tahun yang tak terkira untuk Indonesia pada 2022 lalu. Dimana, ekonomi Indonesia mencetak rekor perumbuhan tertinggi sejak 2013 sebesar 5,56 persen. 

All thanks to sektor perdagangan dan pariwisata yang menjadi penopang perekonomian kita bahkan sejak pandemi. 

Iya, tukang bakso langganan kalian itu yang terbilang kecil punya andil besar dalam perputaran ekonomi nasional. Yep, UMKM menjad penyumbang pdb sebesar 60,3% pada 2022 lalu. Apalagi di dukung dengan pasar dalam negeri. Pantas UMKM dikenal sebagai pahlawan ekonomi negeri. 

Seperti buih-buih di lautan, 

walaupun rapuh dan diremehkan, ia tersebar dan menyebar.

walaupun lemah, dan terseret ombak, ia sadar bahwa ia mampu mengubah arah gerak ombak.

Bab 3 - Akhir

Walaupun memiliki barrier kuat,kita tetap harus waspada menghadapi ancaman resesi. Sekalipun sukar terdampak, resesi masih nyata di hadapan kita. Bahu membahu untuk menghadapi resesi. Salah satunya, dengan tetap dukung UMKM. 

Referensi

https://umj.ac.id/opini-1/akankah-indonesia-selamat-dari-resesi-ekonomi-berikut-analisa-pakar-ekonomi-umj/

https://indonesia.go.id/kategori/indonesia-dalam-angka/6721/porsi-kredit-diperbesar-sektor-umkm-segera-naik-kelas?lang=1#:~:text=United%20Nations%20Conference%20on%20Trade,persen%20tenaga%20kerja%20di%20Indonesia.

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/01/31/indonesia-mendominasi-jumlah-penduduk-di-asia-tenggara-berapa-besarnya#:~:text=Berikut%20jumlah%20penduduk%20negara%20di,Indonesia%3A%20273%2C52%20juta%20jiwa

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-6555080/ekonomi-ri-cetak-rekor-tertinggi-dalam-10-tahun

https://www.cnbcindonesia.com/market/20221012140255-17-379180/indonesia-pernah-diterjang-tiga-resesi-mana-yang-terburuk

https://elibrary.worldbank.org/doi/10.1596/978-1-4648-1553-9_ch1

https://openknowledge.worldbank.org/handle/10986/33415#:~:text=The%20world%20economy%20has%20experienced,indicators%20of%20global%20economic%20activity

1 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
1
0
profile picture

Written By kayyizah_maizura_bilbina

This statement referred from